RADAR TULUNGAGUNG – Laporan terbaru pemerintah mengenai defisit APBN 2025 kembali menjadi perhatian publik setelah Kementerian Keuangan merilis data resmi hingga Oktober 2025.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut defisit sebesar Rp479,7 triliun atau 2,02 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut masih berada dalam batas aman dan terkendali.
Pernyataan ini menjadi sorotan mengingat angka defisit tahun ini tercatat melebar bila dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Dalam tiga paragraf awal ini isu defisit APBN 2025 menjadi fokus utama karena nilainya meningkat signifikan.
Tahun lalu, defisit hanya mencapai 1,4 persen terhadap PDB atau sekitar Rp309,1 triliun.
Kenaikan lebih dari Rp170 triliun tersebut menimbulkan pertanyaan publik mengenai kemampuan fiskal pemerintah dalam mempertahankan stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintah menjelaskan bahwa pelebaran defisit APBN 2025 terjadi seiring meningkatnya kebutuhan belanja negara tahun ini.
Di sisi lain, pendapatan negara walau meningkat, belum cukup untuk mengimbangi total pengeluaran yang terus bergerak naik.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong realisasi defisit berada pada level yang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pendapatan Negara Capai 73,7 Persen Target
Berdasarkan data yang dipaparkan Purbaya, pendapatan negara hingga Oktober 2025 telah mencapai Rp2.113 triliun.
Angka ini setara dengan 73,7 persen dari target penerimaan negara yang ditetapkan dalam APBN.
Penerimaan tersebut utamanya berasal dari pajak, bea cukai, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta kontribusi dari sektor migas.
Kinerja pendapatan negara tersebut dinilai cukup positif di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak.
Tantangan ekonomi dunia seperti penurunan permintaan global, tekanan pasar komoditas, dan gejolak geopolitik menjadi faktor yang turut menahan laju pertumbuhan penerimaan negara.
Namun demikian, capaian tersebut tetap dianggap sebagai sinyal bahwa ekonomi nasional masih mampu menghasilkan penerimaan dalam jumlah yang stabil.
Belanja Negara Naik Capai Rp2.593 Triliun
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp2.593 triliun atau 73,5 persen dari target belanja tahun ini.
Angka belanja tersebut tercatat meningkat cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa kenaikan belanja dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk pembayaran program perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur, dukungan ekonomi daerah, hingga pembiayaan operasional kementerian dan lembaga.
Kenaikan belanja inilah yang menjadi pendorong utama melebarnya defisit APBN 2025.
Ketika belanja pemerintah lebih besar dibandingkan pendapatan negara, defisit secara otomatis meningkat.
Kondisi defisit ini menurut pemerintah juga merupakan bagian dari strategi fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi global yang tidak pasti.
Purbaya: Defisit Masih Terkendali
Dalam keterangannya, Purbaya menilai bahwa defisit yang terjadi masih dalam batas yang bisa dikendalikan.
Ia menegaskan pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menjaga stabilitas anggaran sepanjang tahun berjalan.
Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa tren pelebaran defisit harus terus diawasi untuk mencegah ketidakseimbangan fiskal jangka panjang.
Purbaya juga menegaskan bahwa laporan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menyampaikan perkembangan APBN 2025 secara berkala kepada publik.
Update rutin ini diharapkan dapat memberi gambaran yang jelas mengenai posisi keuangan negara dan seberapa besar tantangan fiskal yang sedang dihadapi.
Tren Defisit APBN dan Tantangan Ekonomi ke Depan
Defisit APBN merupakan kondisi ketika pengeluaran pemerintah lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang diterima.
Dalam konteks tahun 2025, peningkatan belanja negara yang cukup besar menjadi faktor dominan yang menggerakkan angka defisit ke level yang lebih tinggi.
Pemerintah menyebut kondisi ini wajar di tengah kebutuhan anggaran untuk berbagai program strategis nasional.
Namun demikian, pelebaran defisit APBN 2025 juga memberi sinyal bahwa pemerintah perlu memperkuat strategi penerimaan negara di tahun mendatang.
Upaya optimalisasi pajak, perluasan basis penerimaan, dan penyesuaian kebijakan fiskal tetap dibutuhkan untuk menjaga ruang fiskal tetap aman.
Ke depan, pemerintah menyatakan akan kembali menyampaikan update kinerja APBN serta perkembangan kondisi global dan domestik secara rutin.
Informasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami dinamika fiskal yang sedang berjalan dan arah kebijakan yang akan diambil pemerintah.***
Editor : Vidya Sajar Fitri