RADAR TULUNGAGUNG — Sosok Ketua OJK, Purbaya Yudhi Sadewa, kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pernyataannya dinilai ceplas-ceplos, santai, dan bahkan sempat dijuluki “koboi” oleh warganet.
Namun di balik gaya komunikasinya yang tampak spontan itu, tersimpan strategi komunikasi yang disebut sebagai “Purbaya by Design”.
Istilah ini merujuk pada pendekatan terstruktur dalam membangun optimisme ekonomi melalui psikologi publik.
Pada sebuah video yang tengah ramai dibahas, Purbaya menyebut gaya bicaranya yang blak-blakan bukanlah spontanitas, melainkan strategi komunikasi yang dirancang untuk memengaruhi ekspektasi masyarakat.
Cara ini memiliki fondasi teoretis kuat, salah satunya dari buku The Macroeconomics of Self-Fulfilling Prophecies.
Mengapa “Purbaya by Design” Dibutuhkan?
Pada periode Juli hingga September 2025, sentimen publik terhadap ekonomi nasional berada di titik terendah.
Kenaikan berbagai pajak, tingginya tekanan pada masyarakat kelas menengah, hingga aksi demonstrasi besar-besaran membuat kepercayaan publik merosot tajam.
Masa itu diwarnai rasa pesimisme, belanja rumah tangga melemah, dunia usaha menahan ekspansi, dan masyarakat kelas menengah atas memilih berhati-hati dalam pengeluaran.
Pada saat itulah, strategi komunikasi Purbaya mulai terlihat bekerja.
Memasuki Oktober 2025, data ekonomi menunjukkan perubahan signifikan.
Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) melonjak dari 117 menjadi 130, atau naik 13,3 poin hanya dalam waktu 30 hari.
Penjualan ritel tumbuh dari 3,5% menjadi 5,8%, sementara konsumsi rumah tangga mencapai rekor Rp 1.813 triliun.
Perubahan cepat ini disebut sebagai dampak dari “Purbaya by design”, yakni kombinasi antara psikologi publik, eksekusi kebijakan fiskal, dan percepatan likuiditas perbankan.
Tiga Jurus Strategis Ala Purbaya
Dalam teori self-fulfilling prophecies, keyakinan publik dapat membentuk realitas.
Jika ketakutan bisa menghancurkan, maka optimisme bisa membentuk pertumbuhan baru.
Dari konsep ini, strategi Purbaya disusun menjadi tiga jurus utama:
1. Confidence Channel (Keyakinan Publik)
Gaya Purbaya yang sering dianggap ceplas-ceplos sebenarnya adalah upaya membuka ruang psikologis bagi masyarakat agar kembali optimis.
Ia menggunakan pendekatan komunikatif yang santai, penuh humor, dan memberi harapan bahwa kondisi dapat berbalik.
Model ini bekerja karena publik yang semula tertekan memperoleh “angin segar”, sehingga ekspektasi negatif mulai berubah.
Data IKK yang melonjak menjadi bukti bahwa pesan optimisme tersebut diterima pasar.
2. Fiscal Channel (Aksi Nyata Pemerintah)
Optimisme perlu diberi “bahan bakar” agar kredibel. Di sinilah pemerintah menggelontorkan berbagai program nyata, seperti:
- MBG: Rp 13,2 triliun anggaran terserap
- 20 juta penerima manfaat
- 290 ribu lapangan kerja baru
- 1 juta pelaku usaha terlibat
Selain itu, terdapat 8 paket stimulus ekonomi senilai Rp 16,23 triliun, termasuk bantuan pangan, program magang, subsidi pajak, dan diskon BPJS.
Total Rp 29,43 triliun digelontorkan sebagai amunisi fiskal yang memperkuat arah kebijakan Purbaya.
3. Credit Channel (Likuiditas dan Kredit Perbankan)
Jurus ketiga memastikan roda ekonomi tidak tersendat di bank.
Pemerintah menempatkan dana kas negara sekitar Rp 200 triliun ke Himbara untuk memastikan kredit tetap mengalir.
Targetnya adalah meningkatkan pertumbuhan kredit dari 7% menjadi 10% pada akhir tahun.
Validasi Efektivitas Strategi
Sejumlah data memperkuat bahwa strategi “Purbaya by design” berhasil dalam jangka pendek:
- IKK naik 13,3 poin
- IPR ritel tumbuh 5,8%
- Konsumsi rumah tangga capai rekor Rp 1.813 triliun
- Kepuasan publik 85,8%
- 62% masyarakat mengaku daya beli meningkat
Meski demikian, tantangan jangka panjang masih menanti, terutama ketika euforia mereda dan masyarakat menuntut bukti fundamental.
Target pertumbuhan 8% membutuhkan reformasi struktural, peningkatan produktivitas, serta penguatan industri.
Dalam konteks inilah, strategi Purbaya dianggap bukan mesin pertumbuhan abadi, tetapi “starter” untuk mengubah arah psikologis publik agar ekonomi kembali bergerak.***
Editor : Vidya Sajar Fitri