RADAR TULUNGAGUNG - IHSG hari ini kembali menjadi sorotan setelah pergerakannya berbalik arah secara tajam.
Dibuka di zona hijau dan sempat menyentuh level tertingginya sepanjang sejarah, indeks justru anjlok hampir 1% dan ditutup di kisaran 8.600-an.
Kondisi penuh volatilitas ini dibahas secara mendalam oleh Equity Analyst Indonesia Research, Susi Setiawati, dalam sebuah wawancara yang menyoroti sentimen global hingga rotasi investasi pelaku pasar.
Pada awal perdagangan, IHSG hari ini sempat melesat hingga level 8.770,42, menandai rekor all time high terbaru.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 11 Desember 2025 Naik Lagi, Antam–UBS–Galeri 24 Tembus Level Baru
Namun, setelah menyentuh titik tersebut, indeks langsung berbalik melemah seiring tekanan pasar kawasan Asia, Eropa, hingga Wall Street yang ikut terkoreksi.
Susi menyebut bahwa pelemahan ini tidak lepas dari respons pasar terhadap keputusan terbaru The Fed yang memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.
Sentimen pemangkasan suku bunga seharusnya menjadi angin segar, tetapi pasar global justru merespons negatif.
“The Fed memang memangkas suku bunga, tapi hanya 25 bps, dan kemungkinan tahun depan hanya sekali lagi atau bahkan tidak ada. Sikap hawkish masih kuat,” ujar Susi.
Kebijakan yang tidak seagresif ekspektasi ini membuat investor kembali bersikap hati-hati.
Dampak Negosiasi Amerika–Indonesia Ikut Tekan Pasar
Selain kebijakan moneter AS, Susi juga menyoroti isu lain yang menjadi tekanan tambahan bagi pasar domestik.
Negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait penurunan tarif resi produk unggulan Indonesia dari 32% menjadi 19% dikabarkan berpotensi gagal. Penyebabnya, ada komitmen tertentu dari Indonesia yang belum dipenuhi.
Jika tarif tetap tinggi, ekspor-impor Indonesia, khususnya ke Amerika, bisa terdampak signifikan. Hal ini menambah kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi jangka pendek.
IHSG Koreksi Setelah Rally Tajam
Meski IHSG hari ini merosot, Susi menilai koreksi tersebut masih tergolong wajar.
“Minggu lalu kenaikannya sangat tajam, jadi koreksi hari ini sebenarnya sehat,” terangnya.
Menurutnya, indeks berpotensi turun hingga 8.400–8.500 di skenario terburuk sebelum kembali menguat.
Sektoral yang biasanya menguat setelah pemangkasan suku bunga, seperti teknologi, keuangan, dan properti, justru menjadi pemberat indeks.
Saham teknologi turun 1,57%, keuangan 0,75%, dan properti 1,53%. Anomali ini menjadi perhatian investor karena berbeda dari pola historis.
Saham Konglomerat Melesat, Serap Aliran Dana Besar
Di tengah pelemahan mayoritas sektor, satu kelompok saham justru tampil agresif: saham konglomerat.
Menurut Susi, aliran dana investor lokal cenderung masuk ke saham grup-grup besar, terutama Grup Bakrie, yang menjadi penopang sektor energi hari ini.
Dalam perdagangan, saham seperti BUMI, DEWA, PTRO, hingga RAJA mencatat kenaikan signifikan.
Nilai transaksi BUMI bahkan melampaui banyak saham perbankan. Inilah yang membuat sektor energi naik 1,15%, bukan karena kenaikan harga batu bara atau minyak global, tetapi karena aksi beli besar-besaran di saham konglomerat.
Sektor Perbankan Masih Murah, Tapi Belum Dilirik Investor
Meski koreksi terjadi, secara valuasi saham-saham perbankan besar dinilai sangat menarik.
Susi menyebut bahwa saham seperti BBRI dan BMRI masih berada di price to book value kisaran 1 koma, sedangkan BNI berada di 0,7 dan BTN bahkan di bawah 1.
Namun, investor belum masuk karena ingin melihat hasil nyata dari injeksi likuiditas pemerintah dan perbaikan kredit macet.
“Secara valuasi murah, tapi investor tampaknya masih menunggu bukti,” ujar Susi.
Investor memilih mengalihkan dana ke saham konglomerat yang sedang dalam momentum kuat.
Adakah Risiko Bubble?
Menariknya, Susi menilai risiko bubble bukan berada di saham perbankan, tapi justru pada saham konglomerat yang melesat agresif.
Ia mengingatkan bahwa dalam pola historis, terutama saat krisis 2008, saham-saham konglomerat sering menjadi penutup pesta reli pasar.
Jika mencapai titik jenuh, potensi koreksi bisa mencapai lebih dari 30%. Inilah risiko besar yang perlu diwaspadai investor dalam beberapa pekan mendatang.
Asing Berpeluang Masuk, Tapi Masih Tunggu Momen
Pemangkasan suku bunga The Fed biasanya menarik aliran modal asing ke emerging markets seperti Indonesia.
Namun, respons pasar yang melemah membuat aliran modal belum terlihat hari ini.
Susi menilai hal ini wajar karena investor global sedang mengambil untung setelah kenaikan signifikan dalam beberapa minggu terakhir.
Meski begitu, ia optimistis bahwa window dressing Desember masih bisa mendorong IHSG kembali menguat. Saham konglomerat diyakini tetap menjadi “pawang pasar” hingga akhir tahun.***
Editor : Vidya Sajar Fitri