RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena Bakrie Recycle kembali menjadi sorotan pelaku pasar modal.
Sejumlah saham yang selama ini dikenal sebagai bagian dari grup Bakrie, yakni BUMI, BRMS, dan DEWA, menunjukkan pergerakan harga yang tidak biasa sejak pertengahan September.
Kenaikan serempak ini ramai dibahas di kalangan investor ritel dan analis teknikal.
Dalam sebuah analisis yang dibagikan melalui kanal YouTube Investor Logis, fenomena ini disebut bukan lagi murni digerakkan satu grup usaha.
Saham-saham tersebut disebut telah melibatkan tiga kekuatan besar, yakni grup Bakrie, grup Salim, serta Agus Projo Sasmito.
Kolaborasi inilah yang oleh analis tersebut disebut sebagai Fenomena Bakrie Recycle.
Sejak September, pergerakan harga ketiga saham menunjukkan pola yang relatif mirip.
Fenomena Bakrie Recycle disebut mulai terlihat jelas pada pertengahan September, saat harga saham-saham tersebut mulai bergerak naik signifikan setelah lama bergerak mendatar.
Baca Juga: Cloudflare Alami Gangguan Global Parah, Saham Turun Drastis Saat Sejumlah Situs Besar Ikut Tumbang
Saham BUMI Naik Lebih dari 200 Persen
Saham BUMI menjadi salah satu yang paling disorot. Dalam periode tiga bulan terakhir, harga saham BUMI disebut telah melonjak hingga sekitar 240 persen.
Secara year to date, saham ini tercatat naik lebih dari 200 persen sejak awal tahun perdagangan.
Menurut pemaparan analis, titik awal pergerakan signifikan BUMI terjadi pada 19 September, saat harga berada di kisaran 114.
Sejak titik tersebut, harga saham BUMI terus mengalami penguatan hingga akhir perdagangan terbaru.
Kenaikan tajam ini kemudian dikaitkan dengan spekulasi pasar mengenai peluang BUMI masuk ke dalam indeks MSCI Global Standard, menyusul jejak BRMS yang lebih dulu masuk indeks tersebut.
BRMS Diduga Jadi Pemicu Awal
Berbeda dengan BUMI, saham BRMS disebut lebih dulu bergerak. BRMS mulai mengalami penguatan sejak 11 September, atau sekitar sepekan lebih awal dibanding dua saham lainnya.
Dalam kurun waktu sekitar dua bulan menjelang rebalancing MSCI November, harga BRMS disebut telah naik hampir 100 persen.
Masuknya BRMS ke indeks MSCI pada November dinilai menjadi pemicu utama yang kemudian diikuti pergerakan saham BUMI dan DEWA.
Pola ini memperkuat narasi Fenomena Bakrie Recycle, di mana saham-saham terkait bergerak berurutan menjelang momentum indeks global.
DEWA Ikut Menguat Sejak 19 September
Saham DEWA juga menunjukkan pola serupa. Setelah bergerak relatif datar dalam waktu lama, DEWA mulai mengalami kenaikan signifikan sejak 19 September.
Analis menilai DEWA berpotensi disiapkan untuk masuk indeks MSCI Small Cap, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi.
Pergerakan DEWA dinilai memiliki kemiripan pola dengan BUMI, baik dari sisi waktu maupun lonjakan volume transaksi.
Hal ini membuat saham DEWA ikut terseret dalam pembahasan Fenomena Bakrie Recycle.
Peran Broker dan Akumulasi Saham
Analisis tersebut juga menyoroti aktivitas broker yang dinilai berperan dalam mengerek harga saham.
Pada saham BUMI, akumulasi terbesar tercatat dilakukan oleh beberapa broker besar dengan pembelian puluhan juta lot pada harga rata-rata di kisaran 200-an.
Sementara itu, pada saham BRMS dan DEWA, terlihat pola serupa di mana satu broker dominan melakukan pembelian signifikan, diikuti broker lain yang cenderung mengikut.
Aktivitas ini kemudian menjadi dasar spekulasi bahwa ada strategi terkoordinasi di balik pergerakan harga.
Spekulasi Menuju Rebalancing MSCI
Fenomena Bakrie Recycle semakin ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan jadwal rebalancing MSCI berikutnya.
Untuk BUMI, rebalancing MSCI selanjutnya diperkirakan berlangsung pada Februari mendatang.
Hal ini memunculkan spekulasi bahwa pergerakan harga masih berpotensi berlanjut.
Meski demikian, analis menegaskan bahwa pergerakan saham tetap bersifat volatil dan penuh risiko.
Investor diingatkan untuk tetap mencermati fundamental perusahaan, arus transaksi, serta risiko pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Fenomena Bakrie Recycle menjadi salah satu contoh bagaimana sentimen indeks global, aktivitas broker, dan ekspektasi pasar dapat membentuk pergerakan harga saham secara signifikan dalam waktu relatif singkat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana