Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Menguat ke 8.660, Saham Grup Bakrie dan Emiten Emas Jadi Motor, Pasar Cermati Rupiah hingga Isu The Fed

Savina Ayu Wardani • Selasa, 16 Desember 2025 | 18:55 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau.

RADAR TULUNGAGUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau.

Pada Jumat pekan lalu, IHSG menguat 0,46 persen ke level 8.660,49 setelah sempat melemah ke area 8.500-an pada perdagangan intraday.

Secara mingguan, IHSG tercatat masih mampu menguat tipis 0,32 persen, menandakan sentimen pasar yang relatif terjaga di tengah dinamika global.

Penguatan IHSG pada perdagangan tersebut ditopang oleh lonjakan saham Grup Bakrie serta saham-saham emiten emas yang bergerak kompak di zona hijau.

Nilai transaksi tercatat cukup besar, mencapai Rp29,76 triliun, mencerminkan tingginya minat investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dan saham komoditas.

Baca Juga: Fenomena Bakrie Recycle: Saham BUMI, BRMS, dan DEWA Kompak Terbang sejak September, Dikaitkan dengan Isu Masuk Indeks MSCI

Emiten Grup Bakrie kembali mendominasi aktivitas perdagangan. Saham Bumi Resources mencatatkan nilai transaksi tertinggi sebesar Rp7,56 triliun.

Disusul saham BRMS dengan nilai transaksi Rp5,89 triliun dan saham Dewa yang mencapai Rp3,15 triliun. Pergerakan saham-saham ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong IHSG berbalik menguat di akhir sesi.

Sektor Barang Baku dan Energi Pimpin Penguatan

Dari sisi sektoral, sektor barang baku mencatatkan penguatan paling signifikan dengan kenaikan 5,52 persen.

Sektor energi turut menguat 1,23 persen, sementara sektor properti dan real estate naik 1,02 persen. Di sisi lain, tekanan terjadi pada sektor teknologi yang turun 2,20 persen serta sektor barang konsumen nonprimer yang melemah 1,23 persen.

Kuatnya sektor barang baku sejalan dengan reli saham-saham emiten emas. Saham SAMS ditutup melonjak 24,87 persen ke level Rp1.230 per saham.

Saham ARCH melejit 24,73 persen ke Rp1.715 per saham. Saham ANTM menguat 5,54 persen, AMMN naik 5,91 persen ke Rp6.725 per saham, sementara PSAB terapresiasi 11,01 persen ke Rp605 per saham.

Baca Juga: IHSG Hari Ini Anjlok Usai Sentuh All Time High, Sinyal Negatif The Fed dan Aksi Borong Saham Konglomerat Bikin Pasar Kaget

Saham Penopang Utama IHSG

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penopang utama pergerakan IHSG. Saham Bumi Resources ditutup menguat 2,2 persen ke Rp368 per saham dengan kontribusi sebesar 30,09 poin indeks. Saham AMMN menyumbang 12,03 poin indeks seiring penguatan 5,91 persen.

Selain itu, saham SAMB turut naik 1,32 persen ke Rp9.575 per saham dengan kontribusi 5,18 poin indeks.

Saham PTBA menguat 1,92 persen ke Rp3.710 per saham dan memberikan sumbangan 4,21 poin terhadap pergerakan indeks.

Rupiah Menguat, Jadi Sentimen Positif

Dari dalam negeri, penguatan nilai tukar rupiah menjadi sentimen positif bagi IHSG. Rupiah ditutup menguat 0,21 persen ke level Rp16.640 per dolar Amerika Serikat.

Penguatan ini merupakan yang terbesar dalam hampir sepekan terakhir, seiring dengan melemahnya indeks dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi pasar saham domestik untuk bergerak lebih stabil, terutama bagi saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan kurs dan aliran dana asing.

Baca Juga: Superbank Incar Dana Rp3,06 Triliun dari IPO, Harga Penawaran Ditetapkan Rp525 per Saham

Isu The Fed hingga Kebijakan China

Dari global, perhatian pasar tertuju pada pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengungkap dua kandidat teratas calon Ketua The Federal Reserve pengganti Jerome Powell.

Trump berharap ketua The Fed berikutnya lebih terbuka untuk berkonsultasi terkait kebijakan suku bunga, bahkan mendorong penurunan suku bunga yang lebih agresif.

Isu ini memunculkan kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral AS. Trump secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap kebijakan The Fed saat ini dan menilai suku bunga ideal berada di level 1 persen atau lebih rendah.

Sementara itu, dari Asia, pemerintah China memberi sinyal tetap menjaga dukungan kebijakan namun tidak akan menambah stimulus besar pada 2026.

Fokus kebijakan mulai bergeser dari respons terhadap tekanan tarif AS menuju penguatan pertumbuhan jangka panjang.

China berencana menggunakan kebijakan moneter secara fleksibel untuk menjaga likuiditas, seiring kinerja ekspor yang tetap solid sepanjang 2025.

Baca Juga: MSCI Ubah Metodologi Indeks, Tekanan Jual Saham Besar Bikin IHSG Anjlok 1,87 Persen

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pelaku pasar menilai pergerakan IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh dinamika saham komoditas, pergerakan rupiah, serta arah kebijakan bank sentral global. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#saham #ihsg #indeks harga saham gabungan #grup bakrie