Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Indonesia Jadi Super Power? Ini Alasan Ekonomi RI Disebut Tembus Rp 313.200 Triliun, Tapi Banyak Tak Tercatat

Savina Ayu Wardani • Minggu, 21 Desember 2025 | 05:23 WIB

Indonesia jadi super power bukan sekadar jargon politik atau mimpi kosong.
Indonesia jadi super power bukan sekadar jargon politik atau mimpi kosong.

RADAR TULUNGAGUNG - Indonesia jadi super power bukan sekadar jargon politik atau mimpi kosong. Klaim ini disampaikan dalam sebuah paparan yang menyoroti potensi ekonomi Indonesia yang dinilai jauh lebih besar dari angka resmi yang selama ini tercatat.

Jika dikelola dengan benar, Indonesia bahkan disebut bisa menjadi negara surplus dan memberi bantuan ke negara lain.

Dalam paparan tersebut dijelaskan bahwa ekonomi Indonesia selama ini kerap disebut berada di kisaran Rp25.000 triliun.

Namun, angka itu dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Indonesia jadi super power karena total aktivitas ekonomi nasional diperkirakan mencapai Rp313.200 triliun, tetapi sekitar Rp7.000 triliun di antaranya tidak tercatat secara resmi dalam sistem negara.

Salah satu persoalan utama yang disorot adalah lemahnya sistem penerimaan negara. Pajak, bea cukai, PNBP, hingga royalti sumber daya alam disebut belum dikelola optimal.

Bahkan, rasio penerimaan negara Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 9–12 persen, termasuk yang terendah di dunia.

Baca Juga: Ungkap Strategi “Purbaya by Design”: Dari Gaya Ceplas-ceplos hingga Jurus Selamatkan Ekonomi RI

Penerimaan Negara Indonesia Tertinggal dari Negara Miskin

Kondisi ini diperbandingkan dengan negara lain di kawasan. Kamboja, yang secara ekonomi dinilai lebih miskin dari Indonesia, justru mampu meningkatkan rasio penerimaan negaranya secara signifikan.

Sepuluh hingga sebelas tahun lalu, penerimaan negara Kamboja berada di kisaran 9 persen PDB, sementara Indonesia sekitar 12 persen.

Namun kini situasinya berbalik. Kamboja telah mencapai 18 persen, sedangkan Indonesia stagnan di angka 12 persen.

Selisih 6 persen ini terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan PDB Indonesia sekitar Rp25.000 triliun, tambahan 6 persen berarti potensi penerimaan negara sekitar Rp1.500 triliun per tahun.

Angka tersebut jauh melampaui defisit APBN Indonesia yang selama ini berkisar Rp 300–400 triliun. Artinya, jika sistem perpajakan dan aparat penerimaan negara bekerja optimal, Indonesia bukan hanya menutup defisit, tetapi justru menjadi negara surplus.

Ekonomi Gelap Jadi Titik Lemah Sekaligus Peluang

Faktor lain yang membuat Indonesia jadi super power adalah besarnya ekonomi gelap atau ekonomi abu-abu.

Data Bank Dunia menunjukkan sekitar 35 persen aktivitas ekonomi Indonesia tidak tercatat. Mulai dari transaksi tunai tanpa kuitansi, jasa informal, hingga usaha kecil yang belum masuk sistem perpajakan.

Baca Juga: Ungkap Strategi Menuju 8 Persen, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Optimistis Ekonomi RI Bisa Tancap Gas

Contoh sederhana yang disampaikan adalah jasa tukang cukur, warung makan, hingga transaksi harian masyarakat yang tidak dikenai pajak pertambahan nilai (PPN) 11 persen. Tanpa disadari, hampir semua lapisan masyarakat ikut berkontribusi pada ekonomi gelap ini.

Namun, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar. Jika aktivitas ekonomi ini bisa ditarik masuk ke sistem resmi melalui perbaikan administrasi dan digitalisasi, penerimaan negara akan melonjak signifikan.

Digitalisasi Jadi Kunci Indonesia Jadi Super Power

Solusi yang ditawarkan adalah pembenahan aparat pajak dan percepatan digitalisasi ekonomi. Ke depan, seluruh transaksi diharapkan tercatat secara digital, mulai dari pembayaran jasa hingga penyaluran bantuan sosial.

Program bantuan seperti BLT dirancang berbasis digital dan terhubung langsung ke ponsel masyarakat.

Skema ini meniru langkah yang telah diterapkan di India dan China, dua negara dengan populasi besar yang sukses memperluas basis pajaknya.

Baca Juga: BI Rate Turun Drastis, IHSG Ditutup di Puncak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Dorongan Ekonomi RI Semakin Kuat

Dengan sistem digital, kebocoran penerimaan bisa ditekan, transparansi meningkat, dan keadilan fiskal lebih terjaga.

Jika potensi ekonomi yang selama ini tersembunyi dapat dimaksimalkan, maka klaim Indonesia jadi super power bukan lagi angan-angan.

Indonesia disebut memiliki semua modal: sumber daya alam, jumlah penduduk besar, dan aktivitas ekonomi masif.

Tinggal satu hal yang harus dibenahi, yakni tata kelola dan keberanian untuk mereformasi sistem penerimaan negara secara menyeluruh. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#ekonomi ri #indonesia #Super Power