RADAR TULUNGAGUNG - Harga emas diprediksi tembus USD 4.900 pada Desember 2026.
Proyeksi ini disampaikan Goldman Sachs dalam catatan riset terbarunya yang dirilis Kamis, 18 Desember 2025.
Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut memperkirakan harga emas masih berpeluang naik sekitar 14 persen dari level saat ini, meski pasar global tengah diwarnai volatilitas dan penguatan dolar AS.
Prediksi harga emas diprediksi tembus USD 4.900 ini muncul di tengah pergerakan emas yang cenderung melemah dalam perdagangan jangka pendek.
Namun, Goldman Sachs menilai prospek jangka menengah hingga panjang emas tetap solid, terutama didukung oleh permintaan diversifikasi investor dan kebijakan moneter global yang mulai melonggar.
Dalam catatan tersebut, Goldman Sachs juga menyoroti adanya potensi risiko kenaikan harga emas yang lebih tinggi jika permintaan dari investor swasta meningkat.
Emas dinilai masih menjadi instrumen lindung nilai penting di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Harga Emas Melemah Usai Data Inflasi AS
Pada perdagangan Jumat, 19 Desember 2025, harga emas dunia tercatat melemah.
Kontrak berjangka emas turun sekitar 0,3 persen ke level USD 4.351,80 per ons. Sementara itu, harga emas spot relatif stabil di kisaran USD 4.326,73 per ons.
Pelemahan harga emas ini terjadi setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Selain itu, penguatan dolar AS turut menjadi faktor penahan laju kenaikan harga emas di pasar global.
Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menyebut bahwa penguatan mata uang dolar membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Hal ini menyebabkan minat beli emas dalam jangka pendek sedikit tertekan.
Goldman Sachs Tetap Optimistis Prospek Emas
Meski harga emas mengalami koreksi, Goldman Sachs tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap prospek logam mulia tersebut.
Dalam laporan terpisah bertajuk Outlook Komoditas 2026, Goldman Sachs menegaskan kembali proyeksi bahwa harga emas diprediksi tembus USD 4.900 pada akhir 2026.
Optimisme tersebut didasarkan pada beberapa faktor utama.
Salah satunya adalah tingginya permintaan emas dari bank sentral global yang hingga kini masih berlanjut.
Selain itu, siklus pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS dinilai akan menjadi katalis positif bagi pergerakan harga emas.
Goldman Sachs juga merekomendasikan investor untuk mempertahankan posisi beli atau long exposure terhadap emas.
Menurut mereka, emas masih memiliki peran strategis dalam portofolio investasi sebagai pelindung nilai dan alat diversifikasi.
Harga Minyak Dunia Ikut Tertekan
Di sisi lain, pasar komoditas juga diwarnai pelemahan harga minyak dunia. Pada awal perdagangan Jumat, harga minyak diperkirakan mencatat penurunan untuk pekan kedua berturut-turut.
Tekanan ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.
Harga minyak Brent tercatat turun sekitar 0,3 persen menjadi USD 59,63 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,1 persen ke level USD 55,97 per barel.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik Ukraina semakin mendekati kesepakatan.
Pertemuan antara pejabat AS dan Rusia dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan, yang turut memengaruhi sentimen pasar energi global.
Ketidakpastian Pasokan Minyak Global
Meski ada harapan perdamaian, ketidakpastian pasokan minyak global masih membayangi pasar.
Implementasi perintah AS untuk memblokir kapal tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi masih belum sepenuhnya jelas.
Venezuela sendiri menyumbang sekitar 1 persen dari total pasokan minyak global.
Pekan lalu, penjaga pantai AS dilaporkan menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela, yang menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi.
Dengan dinamika tersebut, pelaku pasar kini mencermati pergerakan emas dan minyak sebagai indikator penting arah ekonomi global.
Di tengah fluktuasi jangka pendek, Goldman Sachs menilai emas tetap menjadi aset yang menjanjikan dalam jangka menengah hingga panjang.***
Editor : Vidya Sajar Fitri