RADAR TULUNGAGUNG - Nilai tukar Rupiah pada 2026 diproyeksi tembus Rp17.098 per dolar AS seiring masih tingginya ketidakpastian global dan penguatan mata uang Amerika Serikat.
Proyeksi tersebut disampaikan peneliti Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pihri Buhaira, yang memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2026 akan bergerak di kisaran Rp16.678 hingga Rp17.098 per dolar AS.
Proyeksi rupiah 2026 diproyeksi tembus Rp17.098 ini lebih lemah dibandingkan perkiraan pergerakan rupiah pada 2025 yang berada di rentang Rp16.150 hingga Rp16.683 per dolar AS.
Menurut BRIN, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut akibat ketidakpastian global, khususnya konflik geopolitik yang memicu volatilitas pasar keuangan internasional.
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak awal pekan ini. Pada perdagangan Senin siang, rupiah tercatat melemah 0,24 persen ke level Rp16.767 per dolar AS.
Padahal, pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat menguat tipis 0,06 persen di posisi Rp16.725 per dolar AS.
Dolar AS Menguat Tiga Hari Beruntun
Tekanan terhadap rupiah tak lepas dari penguatan dolar AS. Indeks dolar Amerika tercatat naik tipis 0,05 persen ke level 98,652 pada Senin pagi. Penguatan ini menandai reli indeks dolar selama tiga hari berturut-turut sejak 17 Desember 2025.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada di bawah tekanan.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh level Rp16.781 per dolar AS sebelum akhirnya memangkas pelemahan dan ditutup di kisaran Rp16.764 per dolar AS.
Selain terhadap dolar AS, rupiah juga terpantau melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Rupiah tercatat berada di level Rp19.608 per euro, Rp22.476 per poundsterling, dan Rp106,68 per yen Jepang.
IHSG Menguat di Tengah Tekanan Rupiah
Di tengah pelemahan nilai tukar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru bergerak menguat pada perdagangan sesi pertama Senin, 22 Desember 2025. IHSG naik 0,19 persen ke level 8.625, mengikuti tren penguatan bursa regional.
Penguatan IHSG ditopang oleh sejumlah saham dengan nilai transaksi jumbo. Saham BUMI memimpin dengan nilai transaksi mencapai Rp3 triliun dan ditutup melonjak 12,79 persen.
Disusul saham DEWA dengan transaksi Rp517 miliar, ANTAM Rp487 miliar, BRMS Rp358 miliar, serta BBCA sebesar Rp295 miliar.
Baca Juga: Perdagangan Awal Oktober, Rupiah Melemah ke Rp16.625 per Dolar AS, IHSG Justru Dibuka Menguat
Sepanjang sesi pertama, tercatat 250 saham menguat, 409 saham melemah, dan 144 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 25,4 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,3 triliun.
Enam sektor tercatat menguat, dengan sektor energi memimpin kenaikan sebesar 2,19 persen, disusul sektor barang baku 1,45 persen dan transportasi 0,84 persen.
Analis Waspadai Koreksi IHSG
Meski menguat, sejumlah analis menilai IHSG masih rawan koreksi. Tim analis Pentraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dan menguji area 8.500 hingga 8.550.
Pelaku pasar disebut masih mencermati rilis data domestik, khususnya jumlah uang beredar Bank Indonesia pada November 2025 serta pergerakan rupiah yang cenderung melemah.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wijaksana, menilai IHSG saat ini berada pada fase gelombang koreksi jangka pendek.
Berdasarkan analisis gelombang, indeks diperkirakan berada pada wave 4 dari wave 5, dengan potensi pengujian area 8.464 hingga 8.560.
Sentimen Global dan Kebijakan Bank Sentral
Tekanan pasar juga dipicu sentimen global, termasuk data tenaga kerja AS yang menunjukkan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,6 persen meski lapangan kerja bertambah.
Dari Asia, Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen, tertinggi sejak 1995.
Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
Keputusan ini diharapkan menjaga stabilitas ekonomi, meski tekanan eksternal terhadap rupiah masih membayangi.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, BRIN menilai pergerakan rupiah pada 2026 masih akan penuh tantangan, seiring kuatnya dolar AS dan ketidakpastian ekonomi dunia. ****
Editor : Dharaka R. Perdana