RADAR TULUNGAGUNG - Libur Nataru tak hanya identik dengan lonjakan wisata dan arus mudik, tetapi juga menghadirkan berkah bagi para pelaku usaha kecil di Tulungagung.
Salah satunya dirasakan Suharto, tukang permak yang membuka lapak sederhana di sepanjang Jalan Adi Sucipto, Tulungagung.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, dia dan rekan-rekannya yang lain kebanjiran pelanggan yang ingin merapikan celana kepanjangan sebelum bepergian.
Di momen Nataru, aktivitas masyarakat Tulungagung memang meningkat.
Banyak warga mempersiapkan diri untuk bepergian ke luar kota atau sekadar bersilaturahmi ke rumah sanak saudara.
Tak sedikit yang baru menyadari celananya terlalu panjang saat hendak dipakai.
Kondisi ini membuat lapak permak Suharto nyaris tak pernah sepi sejak pagi hari.
“Sejak pagi sudah ramai, Mas. Kebanyakan minta potong celana,” ujar Suharto saat ditemui di sela kesibukannya, Rabu (24/12/2025) lalu.
Baca Juga: Puncak Arus Mudik Diprediksi 24 Desember Pada Momen Nataru
Warga Desa/Kecamatan Kauman itu mengaku, momen Nataru di Tulungagung menjadi salah satu periode yang cukup mengangkat pendapatannya, terlebih bertepatan dengan libur akhir tahun.
Dengan mesin jahit tua andalannya, Suharto melayani pelanggan satu per satu dengan telaten.
Ia menyebut hasil yang diperoleh kali ini terbilang lumayan dibanding hari biasa.
"Semoga terus ramai, biasanya terus terjadi mendekati Tahun Baru,” tuturnya.
Meski begitu, Suharto tak menampik bahwa usahanya saat ini tak seramai beberapa tahun silam.
Perkembangan teknologi dan maraknya jasa permak daring sedikit banyak memengaruhi jumlah pelanggan.
“Sekarang banyak jasa online, tinggal kirim barang,” ungkapnya jujur.
Namun, pria yang telah menekuni usaha permak sejak 2008 silam atau sekitar 17 tahun itu memilih tetap bertahan.
Baginya, mesin jahit bukan sekadar alat mencari nafkah, tetapi juga saksi perjalanan hidup.
“Saya jalani saja. Yang penting masih ada pelanggan yang percaya,” katanya.
Di tengah gempuran era digital, lapak kecil Suharto menjadi potret keteguhan pelaku UMKM Tulungagung.
Dan di setiap musim Nataru, bunyi mesin jahitnya kembali bersahut, menandai rezeki yang datang dari celana-celana yang ingin tampil lebih rapi saat hari raya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana