RADAR TULUNGAGUNG – Saham BUMI kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat lonjakan harga signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk ini dinilai fenomenal karena mampu naik tajam hingga 14 persen dan menembus level 390, bahkan sempat menyentuh area 400 pada perdagangan terakhir sebelum pembukaan pasar.
Kenaikan saham BUMI tersebut dibahas dalam analisis terbaru yang direkam pada 23 Desember dini hari sebelum pembukaan bursa.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, saham BUMI ditutup di level 394, menandai reli kuat dari level harga terendah yang sempat terjadi pada April lalu di kisaran 100-an.
Lonjakan Harga Saham BUMI Didukung Akumulasi Besar
Berdasarkan data broker summary, lonjakan harga saham BUMI tidak terjadi secara acak.
Tercatat adanya big accumulation di sisi pembeli. Dua broker dengan nilai transaksi di atas Rp100 miliar mendominasi, yakni AK dengan pembelian sekitar Rp 328 miliar dan MG sebesar Rp 142 miliar.
Baca Juga: Tambah Koleksi Saham DEWA, CGS International Kucurkan Dana Rp 179,6 Miliar, Kepemilikan Tembus 5,53%
Di sisi penjual, hanya satu broker yang mencatat transaksi di atas Rp 100 miliar, sementara broker lainnya relatif kecil.
Kondisi ini menunjukkan tekanan beli yang jauh lebih dominan dibanding tekanan jual, sehingga mendorong harga saham terus melesat.
Menariknya, sekitar separuh dari total pembelian besar tersebut dilakukan oleh broker AK dalam satu hari perdagangan.
Hal ini menjadi sinyal penting bagi investor ritel untuk mencermati pola transaksi para pelaku besar.
Struktur Harga Menguat Sejak April
Jika ditarik ke belakang, pergerakan harga saham BUMI menunjukkan pola kenaikan berjenjang.
Sejak mencetak low pada April, saham ini membentuk higher high dan higher low, lalu berhasil menembus resistance sebelumnya.
Pola breakout berulang inilah yang mengantarkan harga naik dari level 100-an hingga mendekati 400.
Namun secara umum, sejak 9 April hingga akhir Desember, data menunjukkan masih adanya fase distribusi, di mana nilai transaksi di sisi penjual tercatat lebih besar secara akumulatif dibanding pembeli.
Ini menjadi catatan penting bagi investor yang ingin masuk di harga tinggi.
Tekanan Jual dari Cengdong Masih Jadi Faktor Risiko
Salah satu faktor yang selama ini menekan pergerakan saham BUMI adalah aksi jual masif dari Cengdong Investment.
Tercatat pada 3 dan 18 Desember, Cengdong melakukan penjualan besar-besaran.
Kepemilikan sahamnya yang sebelumnya berada di kisaran 7,21 persen kini dilaporkan tinggal sekitar 6 persen.
Selama aksi jual dari pemegang saham besar ini belum benar-benar berhenti, potensi distribusi masih membayangi pergerakan harga.
Namun jika tekanan jual tersebut mereda, peluang akumulasi lanjutan dinilai masih terbuka.
Perilaku Broker Jadi Kunci Pantauan Investor
Dari sisi broker flow sejak April, terdapat beberapa broker yang menunjukkan konsistensi akumulasi.
Broker CC, XL, dan PD tercatat tetap menyimpan saham meski harga terus naik.
Ketiganya hanya melakukan profit taking tipis dan tidak menunjukkan distribusi besar.
Sebaliknya, broker seperti MG dan AK lebih cenderung melakukan trading jangka pendek.
Pola masuk besar lalu keluar cepat berulang kali menunjukkan strategi memanfaatkan volatilitas harga saham BUMI.
Broker BK juga terpantau aktif trading, meski mulai terlihat ada sebagian saham yang ditahan.
Sementara itu, broker SS dinilai cukup menarik karena sejak November terus melakukan akumulasi.
Dengan rata-rata harga beli di kisaran 190, posisi SS saat ini sudah mencatatkan keuntungan signifikan meski mulai terlihat profit taking tipis.
Risiko dan Peluang Saham BUMI ke Depan
Meski tren saham BUMI masih berada dalam strong uptrend, risiko mulai meningkat karena harga sudah naik terlalu jauh dalam waktu singkat.
Secara risk-reward, posisi di area 390–400 dinilai kurang ideal bagi investor yang baru masuk tanpa strategi matang.
Namun selama broker-broker dengan kepemilikan dominan seperti CC, XL, dan PD masih terus mengakumulasi dan tidak melakukan distribusi besar, saham ini masih berpeluang melanjutkan kenaikan.
Investor ritel disarankan untuk terus memantau pergerakan broker besar serta level resistance terdekat.
Kedisiplinan membaca alur transaksi dinilai menjadi kunci agar tidak terjebak di puncak harga.***
Editor : Vidya Sajar Fitri