RADAR TULUNGAGUNG- Investasi 2026 menjadi topik hangat di kalangan investor muda setelah Yudo Achilles Sadewa, trader kripto dan saham yang mulai berinvestasi sejak usia 14 tahun, membagikan pandangannya dalam podcast Cuap Cuap Cuan.
Dalam perbincangan tersebut, Yudo mengungkap strategi menghadapi potensi siklus krisis global sekaligus peluang cuan yang masih terbuka lebar pada 2026.
Yudo menceritakan perjalanannya di dunia investasi yang dimulai sejak SMP. Berawal dari menabung uang jajan, ia mengenal Bitcoin lebih awal sebelum kripto menjadi tren besar seperti sekarang.
Menurutnya, investasi 2026 tidak lagi sekadar soal mencari keuntungan tinggi, tetapi bagaimana investor mampu bertahan dan tidak jatuh bangkrut ketika siklus ekonomi berbalik arah.
Belajar dari Kripto dan Meme Coin
Pengalaman paling fenomenal Yudo datang dari investasi meme coin Shiba Inu pada 2020. Dengan modal sekitar Rp1 juta, aset tersebut sempat melonjak hingga miliaran rupiah pada 2021 saat euforia kripto memuncak.
Namun, ia menegaskan bahwa meme coin bukanlah investasi, melainkan bentuk gambling dengan risiko sangat tinggi.
“Kalau mau investasi kripto, Bitcoin dulu. Risiko paling rendah kalau dipegang jangka panjang,” ujar Yudo. Ia menilai altcoin dan meme coin hanya cocok bagi investor yang siap kehilangan seluruh modalnya.
Baca Juga: IHSG Akhir Tahun 2025 Melemah di Zona Merah, Analis Bongkar Alasan Target 9.000 Tertunda hingga 2026
Investasi 2026: Hindari Bangkrut Lebih Penting dari Kaya
Menurut Yudo, kesalahan banyak investor adalah ingin cepat kaya tanpa memahami siklus ekonomi.
Dalam konteks investasi 2026, ia menekankan satu prinsip utama: menghindari kebangkrutan jauh lebih penting daripada mengejar kekayaan.
Ia menyebut tiga aset utama yang relatif aman untuk menghadapi ketidakpastian global, yakni emas, Bitcoin, dan perak.
Ketiganya dinilai mampu menjadi penyelamat nilai aset ketika krisis datang, meski tetap berpotensi mengalami fluktuasi harga dalam jangka pendek.
“Deposito bisa kena risiko bank, obligasi negara pun ada risiko gagal bayar. Tapi emas, Bitcoin, dan perak itu aset terakhir yang masih bisa menyelamatkan nilai kekayaan,” jelasnya.
Baca Juga: Saham BUMI Naik 14 Persen Tembus 390, Broker Besar Borong Saham, Ini Analisis Risiko dan Peluangnya
Siklus Krisis dan Alarm dari Emas-Perak
Yudo juga menyoroti kenaikan tajam harga emas dan perak dalam setahun terakhir. Menurutnya, lonjakan ini sering menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem ekonomi global.
Ia memprediksi potensi krisis berikutnya bisa terjadi pada rentang 2027–2032, mengikuti pola siklus ekonomi 10 tahunan.
Karena itu, investasi 2026 dinilai sebagai fase krusial untuk melakukan positioning aset. Investor disarankan mulai mengalihkan sebagian dana ke aset lindung nilai, sambil tetap memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Saham 2026: Pilih Sektor Ini
Untuk pasar saham, Yudo mengingatkan investor agar tidak terjebak saham gorengan dan saham “konglomerat” tanpa fundamental kuat.
Ia menilai tren saham semacam itu hanya bersifat sementara dan berisiko tinggi dalam jangka panjang.
Adapun sektor yang dinilai menarik pada 2026 antara lain saham pertambangan emas, seiring tren harga emas dunia.
Selain itu, saham perbankan blue chip seperti bank-bank besar nasional dinilai masih layak dikoleksi karena stabil dan memiliki aliran dana kuat.
Baca Juga: Harga Emas Awal Pekan Ini Turun Tipis, Investor Diminta Cermati Momentum Akhir Tahun
Bagi investor berprofil risiko tinggi, Yudo menyebut saham bank digital masih menyimpan peluang, meski dengan volatilitas besar. Ia juga menyinggung strategi IPO dengan disiplin trailing stop untuk membatasi kerugian.
Pesan untuk Investor Muda
Menutup perbincangan, Yudo mengajak generasi muda untuk tidak menunda investasi. Literasi keuangan yang rendah, menurutnya, membuat banyak orang takut masuk pasar setelah mengalami kerugian.
“Mulai saja sekarang. Jangan pinjol buat investasi, lunasi utang dulu. Investasi itu soal sabar,” tegasnya.
Dalam menghadapi investasi 2026, Yudo menilai pemahaman makroekonomi, disiplin manajemen risiko, dan kesabaran adalah kunci utama agar investor tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah ketidakpastian global. ****
Baca Juga: Tambah Koleksi Saham DEWA, CGS International Kucurkan Dana Rp 179,6 Miliar, Kepemilikan Tembus 5,53%
Editor : Dharaka R. Perdana