RADAR TULUNGAGUNG - Lonjakan harga emas membuat banyak investor pemula berada dalam posisi serba salah.
Saat harga emas sudah tinggi, tidak sedikit yang akhirnya mengambil keputusan keliru dan berujung kerugian, bukan keuntungan.
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah mental “nunggu turun sedikit”.
Banyak investor menunda pembelian dengan harapan harga emas akan terkoreksi dalam waktu dekat.
Namun realitanya, harga justru terus naik sehingga investor akhirnya masuk di harga yang lebih mahal.
FOMO dan All In di Harga Tinggi
Kesalahan kedua yang tak kalah fatal adalah membeli emas secara all in karena FOMO atau fear of missing out.
Dorongan emosi akibat melihat orang lain untung besar membuat sebagian investor mengalokasikan seluruh tabungannya ke emas tanpa perhitungan matang.
Padahal, emas bukan instrumen untuk keuntungan cepat.
Ketika terjadi koreksi jangka pendek, investor yang masuk terlalu besar cenderung panik dan menjual emas di harga rendah.
Salah Pilih Instrumen Emas
Kesalahan berikutnya adalah salah memilih bentuk investasi emas.
Banyak orang menganggap semua emas sama, padahal setiap instrumen memiliki fungsi berbeda.
Emas batangan cocok untuk investasi jangka panjang, tetapi membutuhkan penyimpanan aman.
Emas digital lebih fleksibel, namun memiliki risiko platform.
Sementara emas perhiasan kurang ideal sebagai instrumen investasi karena tingginya ongkos pembuatan.
Tidak Punya Rencana Investasi
Kesalahan paling mendasar adalah membeli emas tanpa rencana.
Investor tidak menentukan target, tidak tahu kapan menambah atau menjual, dan akhirnya hanya bereaksi terhadap fluktuasi harga harian.
Tanpa strategi yang jelas, investasi emas berubah menjadi spekulasi yang sangat bergantung pada emosi.
Investor yang sukses bukanlah mereka yang selalu membeli di harga terendah, melainkan yang disiplin menjalankan strategi.
Menghindari kesalahan-kesalahan fatal ini menjadi langkah awal agar investasi emas tetap aman meski harga sudah tinggi.***
Editor : Vidya Sajar Fitri