RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah harga emas tinggi 2026, investor dituntut lebih cerdas dalam menyusun strategi.
Masuk ke pasar emas tanpa perencanaan justru berisiko besar, meski prospek jangka panjang masih tergolong positif.
Salah satu strategi paling direkomendasikan adalah dollar cost averaging (DCA).
Dengan strategi ini, investor membeli emas secara bertahap dalam periode tertentu, bukan sekaligus dalam satu waktu.
Kenapa DCA Lebih Aman?
Strategi DCA membantu mengurangi risiko membeli di harga puncak.
Jika harga naik, investor sudah memiliki posisi awal.
Jika harga turun, pembelian berikutnya justru bisa menurunkan rata-rata harga beli.
Selain itu, DCA membantu menjaga psikologis investor agar tidak mudah panik saat harga berfluktuasi.
Tentukan Tujuan Investasi
Sebelum membeli emas, investor wajib menentukan tujuan.
Apakah emas digunakan sebagai dana darurat, lindung nilai inflasi, diversifikasi portofolio, atau penjaga kekayaan jangka panjang.
Setiap tujuan membutuhkan alokasi dan instrumen yang berbeda.
Untuk diversifikasi, alokasi emas ideal berkisar 10–20 persen dari total aset.
Pilih Instrumen yang Tepat
Emas fisik cocok untuk jangka panjang, emas digital untuk likuiditas, sementara tabungan emas cocok bagi investor yang ingin menabung rutin.
Investor perlu menyesuaikan pilihan dengan profil risiko masing-masing.
Punya Rencana Masuk dan Keluar
Investor disarankan menetapkan titik masuk awal dengan alokasi kecil, kemudian menyiapkan dana tambahan jika terjadi koreksi 5–10 persen.
Periode hold ideal untuk emas adalah minimal 1–3 tahun.
Harga emas yang tinggi bukan alasan untuk takut berinvestasi, tetapi juga bukan pembenaran untuk gegabah.
Dengan strategi bertahap, tujuan yang jelas, dan disiplin, emas tetap menjadi instrumen yang relevan di tengah ketidakpastian ekonomi 2026.***
Editor : Vidya Sajar Fitri