RADAR TULUNGAGUNG - Optimisme terhadap IHSG tembus 10.000 kembali menguat seiring derasnya arus dana asing dan membaiknya sentimen global terhadap negara berkembang.
Sejumlah analis pasar menilai target IHSG di level psikologis tersebut masih sangat realistis untuk dicapai pada 2026, didorong kombinasi faktor domestik dan global yang saling menguatkan.
Dalam 34 bulan terakhir, pergerakan IHSG disebut banyak terbantu oleh saham-saham konglomerasi serta sektor yang berkaitan dengan metal dan mining.
Kinerja komoditas yang solid membuat pasar modal Indonesia tetap atraktif di mata investor global, terutama saat ketidakpastian fiskal membayangi negara-negara maju.
Rasio Utang Negara Maju Jadi Alarm Investor Global
Salah satu faktor utama yang memperkuat peluang IHSG tembus 10.000 adalah kondisi fiskal global.
Negara-negara maju saat ini menghadapi rasio utang terhadap PDB yang sangat tinggi.
Amerika Serikat misalnya, memiliki debt to GDP ratio sekitar 125 persen. Kanada berada di kisaran 115 persen, Prancis 117 persen, dan Inggris sekitar 105 persen.
Tingginya rasio tersebut memunculkan kekhawatiran investor global terhadap keberlanjutan fiskal jangka panjang.
Kondisi ini mendorong terjadinya rotasi aset dari pasar negara maju ke aset riil berbasis komoditas serta ke negara-negara emerging market yang dinilai lebih aman dan undervalued.
Indonesia menjadi salah satu tujuan utama. Rasio utang terhadap PDB Indonesia tercatat hanya sekitar 41 persen, jauh lebih rendah dibandingkan negara maju. Stabilitas fiskal ini menjadi magnet kuat bagi investor asing.
Dana Asing Rp40 Triliun Masuk, Valuasi Dinilai Murah
Dalam tiga hingga empat bulan terakhir, IHSG tercatat menerima aliran dana asing mencapai sekitar Rp 40 triliun.
Masuknya dana tersebut dipicu oleh kombinasi valuasi pasar yang masih murah, kondisi fiskal yang disiplin, serta status Indonesia sebagai negara penghasil komoditas utama.
Sejarah juga menunjukkan pola serupa. Periode 1970–1980 dan 2000–2010 dikenal sebagai era keemasan bagi negara berkembang dan komoditas.
Banyak analis menilai siklus tersebut berpotensi terulang mulai 2025 hingga beberapa tahun ke depan, menjadikan momentum 2026 sangat strategis bagi pasar modal Indonesia.
Peluang Penurunan Suku Bunga Global Makin Terbuka
Dari sisi kebijakan moneter, tekanan terhadap penurunan suku bunga global semakin kuat. Amerika Serikat saat ini menghadapi twin deficit, yakni defisit fiskal sekitar 6 persen dan defisit transaksi berjalan sekitar 3 persen.
Kondisi tersebut membuat penurunan suku bunga menjadi kebutuhan, baik untuk meringankan beban negara maupun daya beli konsumen.
Indikasi pelemahan daya beli masyarakat AS terlihat dari meningkatnya tingkat kredit macet atau delinquency, baik pada kredit kendaraan maupun kartu kredit.
Situasi ini memperbesar peluang pemangkasan suku bunga The Fed satu hingga dua kali pada 2026.
Jika itu terjadi, Bank Indonesia juga akan memiliki ruang untuk menurunkan BI Rate. Probabilitas penurunan suku bunga domestik diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 75 persen.
Instrumen Investasi yang Diuntungkan
Dalam skenario suku bunga rendah, sejumlah instrumen investasi diproyeksi menjadi primadona. Aset pendapatan tetap seperti reksadana pendapatan tetap dinilai tetap sangat menarik.
Tahun sebelumnya, instrumen ini mampu mencetak imbal hasil dua digit seiring turunnya BI Rate hingga 125 basis poin.
Selain itu, pelemahan indeks dolar akibat penurunan suku bunga global berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor metal dan mining.
Faktor geopolitik global juga memperkuat daya tarik sektor komoditas sebagai aset lindung nilai.
Sementara itu, sektor perbankan dan konsumer juga dinilai memiliki upside potential.
Valuasi saham di sektor tersebut belum bergerak signifikan, sehingga masih menyimpan nilai menarik secara fundamental.
Semester Pertama 2026 Dinilai Waktu Ideal Akumulasi
Melihat berbagai sentimen positif tersebut, semester pertama 2026 dinilai sebagai periode yang cukup ideal untuk melakukan akumulasi, khususnya pada reksadana pendapatan tetap.
Bagi investor dengan profil risiko lebih tinggi, saham tetap menjadi pilihan menarik untuk jangka menengah hingga panjang.
Dengan kombinasi arus dana asing, stabilitas fiskal, potensi penurunan suku bunga, serta siklus positif komoditas, target IHSG tembus 10.000 bukan lagi sekadar optimisme, melainkan peluang yang semakin terbuka lebar.***
Editor : Vidya Sajar Fitri