RADAR TULUNGAGUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG tembus 9.000) menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia di awal tahun 2026.
Setelah berkali-kali mencetak rekor all time high sejak awal tahun, IHSG sempat menyentuh level 9.002 sebelum akhirnya ditutup terkoreksi tipis di kisaran 8.900-an.
Meski demikian, sentimen positif dinilai masih sangat kuat dan mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Penguatan IHSG tembus 9.000 ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah analis menilai lonjakan indeks merupakan akumulasi dari sentimen makroekonomi yang solid, masuknya dana asing, serta reli saham-saham berbasis komoditas seperti emas dan nikel.
Kondisi tersebut membuat pasar modal Indonesia kembali menjadi destinasi menarik di kawasan Asia.
Dalam pembahasan pasar modal terbaru, analis pasar menyebut tren investasi yang mengarah pada fenomena fear of missing out (FOMO) semakin terasa di awal 2026.
Kenaikan harga emas, saham, hingga aset kripto mendorong partisipasi investor ritel, terutama generasi muda, untuk masuk ke pasar modal.
Namun, penguatan IHSG tembus 9.000 dinilai tetap memiliki basis fundamental yang kuat.
Aliran Dana Asing Jadi Penopang IHSG
Salah satu faktor utama penguatan IHSG adalah derasnya arus dana asing sejak kuartal IV 2025.
Investor global mulai mengalihkan portofolionya dari pasar Amerika Serikat yang dinilai sudah mahal menuju pasar Asia, termasuk Indonesia.
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia masih tergolong murah dibandingkan indeks regional maupun global.
Masuknya investor asing ini terlihat dari pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan komoditas.
Meski secara year-to-date saham perbankan masih tertekan, pada kuartal IV 2025 mulai terlihat tanda-tanda rebound. Hal ini ikut memperkuat sentimen positif di tengah reli IHSG tembus 9.000.
Saham Nikel dan Emas Menggeliat
Selain dana asing, lonjakan IHSG juga ditopang performa saham-saham komoditas. Saham emas mencatat kenaikan signifikan seiring harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi.
Sementara itu, sektor nikel menjadi pusat perhatian setelah adanya wacana pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh Kementerian ESDM.
Pemangkasan RKAB diperkirakan mengurangi suplai nikel global. Mengingat Indonesia menguasai hampir 60 persen produksi nikel dunia, kebijakan ini berdampak besar pada harga dan sentimen saham-saham nikel.
Sejumlah emiten nikel pun mencatat lonjakan harga yang signifikan, turut mendorong IHSG tembus 9.000.
Fondasi Makro Masih Solid
Dari sisi makroekonomi, inflasi Indonesia masih terkendali di kisaran 2,9 persen, berada dalam target Bank Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi nasional juga diproyeksikan tetap kuat, dengan estimasi GDP kuartal IV 2025 berada di kisaran 5,3 hingga 5,4 persen.
Defisit fiskal memang melebar mendekati batas 3 persen, namun dinilai sebagai bagian dari strategi pemerintah mendorong pertumbuhan melalui belanja negara.
Sinkronisasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan KSSK juga dinilai semakin solid, sehingga memberikan rasa aman bagi investor.
Pesan untuk Investor Ritel
Di tengah euforia IHSG tembus 9.000, para analis mengingatkan investor ritel agar tetap rasional. Investasi sebaiknya menggunakan dana dingin dengan arus kas yang sehat.
Investor juga disarankan memahami profil risiko masing-masing sebelum masuk ke instrumen berisiko seperti saham atau kripto.
Bagi pemula, saham-saham berfundamental kuat yang tergabung dalam indeks LQ45, IDX30, atau IDX80 dinilai lebih aman.
Hindari tergiur janji keuntungan instan tanpa dasar yang jelas. Prinsip legal dan logis tetap menjadi pegangan utama dalam berinvestasi.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih berpotensi positif hingga Februari–Maret 2026, seiring rilis data pertumbuhan ekonomi.
Meski volatilitas jangka pendek tetap mungkin terjadi, fondasi pasar modal Indonesia dinilai cukup kuat untuk menopang tren kenaikan lanjutan.***
Editor : Vidya Sajar Fitri