RADAR TULUNGAGUNG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan kinerja perbankan nasional tetap solid pada tahun 2026.
Optimisme tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang stabil, kualitas kredit yang terjaga, serta permodalan perbankan yang kuat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 yang digelar secara daring di Jakarta, Jumat, menegaskan bahwa pertumbuhan kredit sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal.
Faktor tersebut antara lain permintaan pembiayaan dari dunia usaha, kondisi iklim investasi, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Dian, penguatan seluruh aspek penopang pertumbuhan ekonomi menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan.
Hingga saat ini, intermediasi perbankan dinilai tetap stabil dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai.
Pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,74 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada November 2025, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 7,36 persen yoy.
Total kredit yang disalurkan mencapai Rp 8.314,48 triliun, dengan tren peningkatan signifikan menjelang akhir tahun.
OJK memperkirakan kinerja intermediasi perbankan hingga akhir 2025 semakin solid, dengan pertumbuhan kredit berada di atas batas bawah target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, pertumbuhan DPK diperkirakan mampu mencapai level dobel digit.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan berhasil menghadapi berbagai tantangan penyaluran kredit, seiring mulai membaiknya permintaan dari sektor riil.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 17,98 persen yoy pada November 2025, disusul kredit konsumsi yang tumbuh 6,67 persen yoy.
Sementara kredit modal kerja tumbuh 2,04 persen yoy. Dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh 12 persen yoy, sedangkan kredit UMKM masih menghadapi tekanan dan tercatat mengalami kontraksi.
Di sisi penghimpunan dana, DPK per November 2025 tumbuh sebesar 12,03 persen yoy, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 11,48 persen yoy, dengan total mencapai Rp 9.899,07 triliun.
Pada kesempatan yang sama, Dian juga menyampaikan bahwa tren penurunan suku bunga perbankan masih berlanjut.
Rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun 26 basis poin (bps) secara yoy menjadi 8,97 persen pada November 2025, terutama didorong oleh penurunan suku bunga kredit modal kerja sebesar 44 bps yoy.
Sementara itu, rata-rata tertimbang suku bunga DPK rupiah turun 29 bps yoy menjadi 2,77 persen, dengan penurunan terbesar pada suku bunga deposito.
Likuiditas industri perbankan tetap berada pada level yang memadai.
Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing tercatat sebesar 131,49 persen dan 29,67 persen, jauh di atas ambang batas yang ditetapkan.
Sementara liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 210,38 persen.
Kualitas kredit juga tetap terjaga, tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) gross dan NPL net yang masing-masing berada di level 2,21 persen dan 0,86 persen pada November 2025, membaik dibandingkan bulan sebelumnya.
Loan at risk (LAR) turut menurun dari 9,41 persen menjadi 9,22 persen.
Ketahanan perbankan nasional tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) yang berada di level tinggi, yakni sebesar 26,05 persen.
Tingkat permodalan tersebut menjadi bantalan yang solid bagi industri perbankan dalam menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian global.***
Editor : Vidya Sajar Fitri