Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Menguat Tipis di 8.936 Usai Nyaris Tembus 9.000, Saham AMMN dan MDKA Jadi Penopang di Tengah Tekanan Perbankan

Natasha Eka Safrina • Selasa, 13 Januari 2026 | 17:20 WIB

JAKARTA - Pergerakan pasar modal Indonesia kembali mencuri perhatian investor setelah IHSG menguat tipis pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup naik 0,13 persen ke level 8.936,754, meski secara intraday sempat mendekati level psikologis 9.000.

Penguatan IHSG tersebut terpangkas pada paruh kedua perdagangan setelah indeks menyentuh level tertinggi harian di 8.981,021. Tekanan muncul seiring melemahnya sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan dan telekomunikasi, yang membatasi laju penguatan indeks.

Meski demikian, IHSG menguat berkat dorongan sektor-sektor tertentu, khususnya barang konsumsi nonprimer, properti, serta barang baku. Kondisi ini mencerminkan masih adanya rotasi sektor di tengah kehati-hatian investor menghadapi sentimen global dan domestik.

Baca Juga: Proliga 2026 Resmi Dibuka di Pontianak, Gubernur Kalbar Ajak Warga Ramaikan dan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sektor Konsumer dan Properti Jadi Penopang

Berdasarkan data perdagangan, IDX sektor barang konsumsi nonprimer mencatat kenaikan paling signifikan dengan lonjakan 3,3 persen. Sektor properti dan real estate turut menguat 2,39 persen, disusul sektor barang baku yang naik 2,38 persen.

Sektor kesehatan juga mencatat penguatan sebesar 1,31 persen, sementara sektor energi naik 0,99 persen. Di sisi lain, tekanan terjadi pada sektor infrastruktur yang turun 1,08 persen serta sektor keuangan yang melemah 1,07 persen, mencerminkan aksi jual pada saham-saham perbankan besar.

AMMN dan MDKA Dorong IHSG Menguat

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi motor utama yang membuat IHSG menguat pada penutupan perdagangan. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) ditutup naik 3,16 persen ke level Rp8.150 per saham dan memberikan kontribusi sebesar 8,06 poin terhadap penguatan indeks.

Baca Juga: Jadwal Proliga 2026 Pekan Kedua Lengkap: Klasemen Terbaru, Daftar Top Skor, dan Laga Panas di Medan

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga mencatatkan penguatan signifikan sebesar 5,47 persen ke level Rp2.700 per saham dengan kontribusi 3,85 poin. Selain itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,93 persen ke level Rp8.125 per saham.

Namun, penguatan indeks tertahan oleh tekanan di sejumlah saham unggulan lainnya. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 0,79 persen ke Rp9.475 per saham. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 2,27 persen ke Rp3.420 per saham, sementara PT Astra International Tbk (ASII) melemah 1,79 persen ke level Rp6.875 per saham.

Dari sektor perbankan, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,04 persen ke Rp4.760 per saham, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,81 persen ke Rp3.680 per saham.

Baca Juga: Jadwal Voli Proliga 2026 Sektor Putri Lengkap: Klasemen Terbaru, Top Skor, dan Hasil Pertandingan Putaran Pertama

Rupiah Melemah, Dolar AS Menguat

Di tengah IHSG menguat, nilai tukar rupiah justru kembali melemah. Pada perdagangan Jumat pekan lalu, rupiah ditutup turun 0,07 persen ke level Rp16.805 per dolar Amerika Serikat di pasar spot. Sepanjang 2026, rupiah belum menunjukkan penguatan signifikan.

Penguatan dolar AS ditandai dengan indeks dolar yang naik 0,13 persen ke level 99,035, posisi tertinggi dalam empat minggu terakhir. Sentimen ini didorong rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya terkait pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Sentimen Global dan Kekhawatiran Fiskal

Data terbaru menunjukkan nonfarm payroll Amerika Serikat pada Desember 2025 hanya bertambah 50.000 tenaga kerja, jauh di bawah ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,4 persen, menandakan pasar tenaga kerja AS masih rapuh.

Baca Juga: Ibu Rumah Tangga Asal Tulungagung Ini Mampu Menyulap Galon Bekas Menjadi Pot Karakter, Misinya Tidak Main-main

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mempertahankan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Januari 2026. Di dalam negeri, kekhawatiran investor juga dipicu defisit fiskal APBN 2025 yang mencapai 2,92 persen terhadap PDB, mendekati batas aman 3 persen.

Emas dan Bursa Global Menguat

Di pasar komoditas, harga emas menguat 0,5 persen ke level 4.496 dolar AS per ons dan mencatat kenaikan mingguan sekitar 3,9 persen. Penguatan emas didorong pelemahan data tenaga kerja AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Sementara itu, bursa Wall Street ditutup menguat dengan indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi. Bursa Eropa juga mengakhiri perdagangan di level tertinggi sepanjang masa, memberikan sentimen positif bagi pasar global, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Transfer Terpanas BRI Super League Putaran Kedua 2025–2026: Semen Padang Lepas Steward, Arema Incar Gabriel Silva, Persib Bidik Bek Timnas

Editor : Natasha Eka Safrina
#pasar saham Indonesia 2025 2026 #saham #ihsg #IHSG 2026 #pasar saham indonesia #Saham 2026