JAKARTA - Pergerakan pasar modal Indonesia kembali mencuri perhatian investor setelah IHSG menguat tipis pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup naik 0,13 persen ke level 8.936,754, meski secara intraday sempat mendekati level psikologis 9.000.
Penguatan IHSG tersebut terpangkas pada paruh kedua perdagangan setelah indeks menyentuh level tertinggi harian di 8.981,021. Tekanan muncul seiring melemahnya sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan dan telekomunikasi, yang membatasi laju penguatan indeks.
Meski demikian, IHSG menguat berkat dorongan sektor-sektor tertentu, khususnya barang konsumsi nonprimer, properti, serta barang baku. Kondisi ini mencerminkan masih adanya rotasi sektor di tengah kehati-hatian investor menghadapi sentimen global dan domestik.
Sektor Konsumer dan Properti Jadi Penopang
Berdasarkan data perdagangan, IDX sektor barang konsumsi nonprimer mencatat kenaikan paling signifikan dengan lonjakan 3,3 persen. Sektor properti dan real estate turut menguat 2,39 persen, disusul sektor barang baku yang naik 2,38 persen.
Sektor kesehatan juga mencatat penguatan sebesar 1,31 persen, sementara sektor energi naik 0,99 persen. Di sisi lain, tekanan terjadi pada sektor infrastruktur yang turun 1,08 persen serta sektor keuangan yang melemah 1,07 persen, mencerminkan aksi jual pada saham-saham perbankan besar.
AMMN dan MDKA Dorong IHSG Menguat
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi motor utama yang membuat IHSG menguat pada penutupan perdagangan. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) ditutup naik 3,16 persen ke level Rp8.150 per saham dan memberikan kontribusi sebesar 8,06 poin terhadap penguatan indeks.
Baca Juga: Jadwal Proliga 2026 Pekan Kedua Lengkap: Klasemen Terbaru, Daftar Top Skor, dan Laga Panas di Medan
Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga mencatatkan penguatan signifikan sebesar 5,47 persen ke level Rp2.700 per saham dengan kontribusi 3,85 poin. Selain itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,93 persen ke level Rp8.125 per saham.
Namun, penguatan indeks tertahan oleh tekanan di sejumlah saham unggulan lainnya. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 0,79 persen ke Rp9.475 per saham. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 2,27 persen ke Rp3.420 per saham, sementara PT Astra International Tbk (ASII) melemah 1,79 persen ke level Rp6.875 per saham.
Dari sektor perbankan, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,04 persen ke Rp4.760 per saham, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,81 persen ke Rp3.680 per saham.
Rupiah Melemah, Dolar AS Menguat
Di tengah IHSG menguat, nilai tukar rupiah justru kembali melemah. Pada perdagangan Jumat pekan lalu, rupiah ditutup turun 0,07 persen ke level Rp16.805 per dolar Amerika Serikat di pasar spot. Sepanjang 2026, rupiah belum menunjukkan penguatan signifikan.
Penguatan dolar AS ditandai dengan indeks dolar yang naik 0,13 persen ke level 99,035, posisi tertinggi dalam empat minggu terakhir. Sentimen ini didorong rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya terkait pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sentimen Global dan Kekhawatiran Fiskal
Data terbaru menunjukkan nonfarm payroll Amerika Serikat pada Desember 2025 hanya bertambah 50.000 tenaga kerja, jauh di bawah ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,4 persen, menandakan pasar tenaga kerja AS masih rapuh.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mempertahankan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Januari 2026. Di dalam negeri, kekhawatiran investor juga dipicu defisit fiskal APBN 2025 yang mencapai 2,92 persen terhadap PDB, mendekati batas aman 3 persen.
Emas dan Bursa Global Menguat
Di pasar komoditas, harga emas menguat 0,5 persen ke level 4.496 dolar AS per ons dan mencatat kenaikan mingguan sekitar 3,9 persen. Penguatan emas didorong pelemahan data tenaga kerja AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Sementara itu, bursa Wall Street ditutup menguat dengan indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi. Bursa Eropa juga mengakhiri perdagangan di level tertinggi sepanjang masa, memberikan sentimen positif bagi pasar global, termasuk Indonesia.
Editor : Natasha Eka Safrina