JAKARTA - Pergerakan IHSG hari ini berpotensi kembali menguat setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,58 persen ke level 8.884,72. Pelemahan tersebut dinilai masih dalam batas wajar dan membuka peluang teknikal bagi indeks untuk melakukan rebound dalam jangka pendek.
Meski IHSG ditutup di zona merah, aktivitas investor asing tercatat masih mencatatkan net buy sebesar Rp25 miliar. Saham-saham yang paling banyak diborong investor asing antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC).
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebut IHSG hari ini berpeluang rebound selama mampu bertahan di atas area support terdekat. Menurutnya, level 8.870 menjadi titik krusial yang perlu dijaga oleh indeks untuk membuka peluang penguatan lanjutan.
Baca Juga: Besaran Dana Desa 2026 untuk Tulungagung Terjun Bebas, Tahun Ini Tersisa Rp 86,659 Miliar
Level Support dan Resistance IHSG Hari Ini
Secara teknikal, Fanny memproyeksikan support IHSG berada di rentang 8.720 hingga 8.780. Apabila tekanan jual kembali meningkat dan indeks menembus area tersebut, potensi koreksi lanjutan masih perlu diwaspadai.
Sementara itu, area resistance IHSG berada di kisaran 8.930 hingga 9.006. Jika level ini berhasil ditembus, peluang penguatan menuju kembali ke level psikologis 9.000 akan semakin terbuka.
“Selama IHSG mampu bertahan di atas 8.870, peluang rebound masih cukup besar,” ujar Fanny dalam riset hariannya.
Saham Pilihan: Energi hingga Properti
Untuk perdagangan IHSG hari ini, BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan berbasis teknikal, di antaranya ANTM, PGAS, BKSL, MSIN, ADRO, dan AADI. Saham-saham tersebut dinilai memiliki potensi teknikal menarik di tengah kondisi pasar yang mulai stabil.
Fokus investor juga mulai bergeser ke saham-saham sektor properti non-bank yang mencatatkan pergerakan cukup agresif dalam beberapa hari terakhir. Secara teknikal, saham properti dinilai telah melalui fase konsolidasi panjang dan mulai menunjukkan sinyal breakout.
ASRI: Buy on Weakness, Target 220
Saham PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) direkomendasikan buy on weakness di kisaran 180–185, dengan stop loss di bawah 165. Target kenaikan saham ini diproyeksikan hingga area 220.
Menurut analis, pergerakan ASRI mencerminkan pola flat base breakout setelah konsolidasi panjang. Faktor sentimen seperti perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) turut menjadi katalis positif bagi sektor properti.
MEDC Didukung Fundamental dan Aset AMMAN
Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga menjadi sorotan. Saham ini dinilai masih atraktif untuk dikoleksi di area dekat 1.500 dengan stop loss di bawah 1.400. Target jangka pendek MEDC diperkirakan berada di kisaran 1.650 hingga 1.740.
Penguatan MEDC didukung oleh kepemilikan saham di AMMAN Mineral, yang smelternya mulai beroperasi kembali. Hal ini diperkirakan akan memperbaiki kinerja keuangan MEDC pada tahun ini dan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.
SMRA dan AADI Menarik untuk Re-entry
Dari sektor properti, saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) direkomendasikan buy on weakness di area 390–400 dengan stop loss di bawah 380. Target kenaikan SMRA berada di kisaran 420 hingga 440, meski penutupan terakhir tercatat melemah.
Sementara itu, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dinilai menarik untuk re-entry setelah mengalami pullback dengan volume rendah. Saham ini direkomendasikan dikoleksi di area saat ini dengan stop loss di bawah 6.900 dan target jangka menengah di kisaran 7.600–7.650, mendekati moving average 50.
Fokus Investor Tetap pada Manajemen Risiko
Meski IHSG hari ini berpeluang menguat, analis mengingatkan investor untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Volatilitas pasar masih berpotensi terjadi seiring beragam sentimen global dan domestik yang mempengaruhi pergerakan indeks.
Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor, dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing serta perkembangan pasar secara keseluruhan.
Editor : Natasha Eka Safrina