JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,58 persen pada perdagangan sesi kedua, berada di level 8.804,72, setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis 9.000 pada awal perdagangan.
Pergerakan IHSG hari ini tergolong sangat fluktuatif. Indeks dibuka menguat di zona hijau sekitar 8.990, mencetak level tertinggi harian di 9.000,96, sebelum akhirnya berbalik arah dan terkoreksi tajam lebih dari 2 persen hingga menyentuh level 8.715.
Aksi Profit Taking Picu Koreksi Mendadak
Manajer Investasi YB Surabaya Timur, Halim Minareja, menilai koreksi tajam IHSG dipicu oleh aksi profit taking, terutama pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya bergerak agresif karena isu front running indeks MSCI.
“Selama ini pergerakan indeks banyak digerakkan oleh saham-saham konglomerasi yang diisukan masuk MSCI. Karena muncul kekhawatiran aturan MSCI yang semakin ketat, sebagian investor memilih keluar lebih dulu,” ujarnya.
Aksi jual tersebut memicu tekanan besar pada IHSG, meskipun pelemahan akhirnya mulai terbatas setelah menyentuh area support.
Level Support Kuat di Area 8.700-an
Secara teknikal, Halim menyebut area 8.700–8.725 menjadi support kuat IHSG dalam jangka pendek. Setelah menyentuh level tersebut, indeks mulai menunjukkan upaya pemulihan meski belum mampu kembali ke atas 8.900.
“Secara teknikal koreksi sudah mencapai target moving average 20 harian. Ke depan IHSG cenderung konsolidasi di rentang 8.750–9.000 sambil menunggu kepastian MSCI,” jelasnya.
Saham Konglomerasi Masih Tertekan
Sejumlah saham berkapitalisasi besar dari kelompok konglomerasi tercatat menjadi pemberat utama IHSG. Tekanan ini membuat indeks kesulitan untuk kembali menguat meskipun sempat terjadi rebound intraday.
Menurut Halim, pelemahan tersebut lebih disebabkan oleh panic selling jangka pendek, sementara potensi penguatan lanjutan masih terbatas dalam waktu dekat.
“Saham-saham ini cenderung bergerak sideways. Untuk sementara lebih baik wait and see dan mencari peluang di sektor lain,” katanya.
Sektor Komoditas Jadi Penopang IHSG
Di tengah tekanan saham konglomerasi, sektor komoditas, khususnya logam dan emas, menjadi penopang utama IHSG agar tidak jatuh lebih dalam.
Harga emas dunia yang sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa memberikan sentimen positif bagi saham-saham pertambangan, meski penguatannya sempat menyusut seiring pelemahan indeks.
“Sektor komoditas relatif tidak terlalu terkait dengan isu MSCI, sehingga masih berpotensi melanjutkan penguatan,” tambah Halim.
Rotasi Sektor Warnai Perdagangan
Dari sisi sektoral, penguatan tercatat pada konsumsi non-primer dan industri, sementara tekanan terjadi pada sektor infrastruktur dan teknologi.
Rotasi sektor ini menunjukkan investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham indeks berat ke sektor-sektor yang dinilai lebih defensif dan berbasis komoditas.
IHSG Masih Konsolidasi, Investor Diminta Waspada
Dengan masih adanya ketidakpastian terkait rebalancing MSCI dan arah pasar global, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk tetap selektif, memperhatikan level support-resistance, serta mencermati rotasi sektor yang terjadi.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya