RADAR TULUNGAGUNG- Banyak orang merasa hidupnya semakin berat, ruwet, dan melelahkan. Rutinitas berjalan tanpa arah, pikiran penuh beban, sementara diri sendiri justru makin asing. Kondisi inilah yang disoroti Dr. Fahrudin Faiz dalam kajian Mengaji Hening, yang membahas pentingnya mereset hidup agar manusia kembali menemukan makna hidup versi dirinya sendiri.
Menurut Dr. Faiz, mereset hidup bukan berarti lari dari masalah atau memulai hidup secara instan dari nol. Reset justru dimulai dari keberanian untuk berhenti sejenak.
“Tidak mungkin mereset hidup sambil berlari,” tegasnya. Berhenti sebentar memberi ruang jeda untuk melihat ulang arah hidup yang selama ini dijalani.
Berhenti Sejenak untuk Mengenal Diri
Langkah pertama dalam mereset hidup adalah pause. Bukan sekadar berhenti fisik atau rebahan, melainkan berhenti secara sadar dari rutinitas harian.
Di fase ini, seseorang diajak merenungi pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya diinginkan, mengapa merasa hampa, dan kenapa hidup terasa tidak bermakna.
Dr. Faiz menilai banyak orang tidak mengenal dirinya sendiri karena terlalu sibuk “acting”.
Dalam psikologi, kondisi ini disebut fake self—diri palsu yang dibangun demi pencitraan. Akibatnya, hidup terasa melelahkan karena harus terus mempertahankan topeng yang bukan jati diri.
Evaluasi Diri secara Jujur
Setelah berhenti, tahap berikutnya adalah evaluasi diri. Evaluasi dilakukan secara jujur, tanpa pencitraan, dan hanya untuk diri sendiri.
Dr. Faiz menyarankan menuliskan apa yang ingin dipertahankan, apa yang perlu dikurangi, dan apa yang harus ditinggalkan dalam hidup.
“Kalau jelek, akui saja jelek. Tidak perlu cari pembenaran,” ujarnya. Kejujuran pada diri sendiri menjadi kunci agar proses mereset hidup tidak berhenti di permukaan.
Melepaskan Beban Lama
Tahap ketiga adalah melepaskan beban lama. Beban ini bisa berupa kebiasaan buruk, pola pikir negatif, pekerjaan yang tak lagi relevan, hingga hubungan yang bersifat toksik. Dalam istilah tasawuf, fase ini disebut takholli—proses pembersihan diri.
Dr. Faiz menekankan, melepaskan bukan berarti membenci atau memutus selamanya.
Namun, berani memberi jarak agar hidup tidak terus terbebani hal-hal yang tidak produktif dan menguras energi batin.
Menentukan Arah Hidup Baru
Setelah ruang batin bersih, barulah hidup diisi kembali dengan hal-hal positif. Inilah fase menentukan arah. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan sulit menilai apakah hidupnya sedang maju atau justru mundur.
Menentukan arah hidup bisa dimulai dari nilai sederhana. Misalnya ingin hidup lebih tenang, lebih sehat, lebih saleh, atau lebih intelektual. “Kalau ditanya tujuan hidup tapi masih bingung menjawab, berarti reset-nya belum tuntas,” kata Dr. Faiz.
Mulai dari Kebiasaan Kecil
Langkah berikutnya adalah menjalankan kebiasaan kecil yang selaras dengan tujuan hidup. Dr. Faiz mengingatkan agar tidak terjebak ambisi berlebihan. Perubahan besar justru lahir dari rutinitas kecil yang dilakukan secara konsisten.
Membaca buku 10 halaman per hari, menambah zikir setelah salat, atau menulis satu halaman setiap hari dinilai jauh lebih efektif daripada target besar yang sulit dipertahankan. Konsistensi lebih penting daripada gebrakan sesaat.
Dukungan Lingkungan dan Spiritualitas
Proses mereset hidup akan lebih kuat jika didukung lingkungan yang tepat. Lingkungan baru sering kali membantu seseorang lepas dari “vibe lama” yang menghambat perubahan. Selain itu, aspek spiritual juga tidak boleh diabaikan.
Dalam konteks agama, reset spiritual dimaknai sebagai tobat—meninggalkan kebiasaan lama yang buruk dan memulai hidup dengan kesadaran baru. Dr. Faiz mengaitkan hal ini dengan konsep second naivete, yakni beragama secara sadar, tidak sekadar ikut-ikutan.
Pada akhirnya, mereset hidup adalah proses memaknai hidup sesuai versi diri sendiri. “Terserah orang menilai kita bagaimana, tapi inilah aku,” pungkas Dr. Faiz. Reset bukan dilakukan berulang-ulang tanpa arah, melainkan dijalani dengan kesungguhan agar hidup tidak lagi terasa buntu dan melelahkan.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani