JAKARTA – Isu bursa Deputi Gubernur BI kembali menguat setelah Menteri Keuangan memberikan tanggapan terbuka terkait masuknya nama Thomas ke dalam kandidat pimpinan Bank Indonesia. Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran pasar soal independensi bank sentral di tengah dinamika perpindahan pejabat antara sektor fiskal dan moneter.
Menkeu menyebut masuknya Thomas ke dalam bursa Deputi Gubernur BI sebagai hal positif. Menurutnya, pengalaman di sektor fiskal justru dapat memperkaya perspektif ketika berpindah ke ranah moneter. “Bagus, supaya punya pengalaman lebih luas. Dari fiskal ke moneter itu baik,” ujarnya kepada awak media.
Isu Pertukaran Pejabat dan Independensi BI
Sorotan publik mengarah pada potensi terganggunya independensi Bank Indonesia akibat perpindahan pejabat dari pemerintahan. Menkeu menepis anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa selama tidak ada intervensi langsung dalam pengambilan keputusan, independensi BI tetap terjaga.
Baca Juga: Megawati Hangestri Tembus Top Skor Proliga 2026, Satu-satunya Pemain Lokal di Tengah Dominasi Asing
“BI tetap independen. Kita jalankan fiskal, mereka jalankan moneter. Koordinasi dilakukan di KSSK untuk memastikan kebijakan saling mendukung pertumbuhan,” tegasnya. Menurutnya, koordinasi bukan berarti intervensi, melainkan upaya menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia juga menegaskan bahwa pejabat yang masuk ke BI otomatis melepaskan status sebagai unsur pemerintah. “Kalau sudah masuk BI, dia independen, bukan elemen pemerintah,” katanya.
Rupiah Melemah, IHSG Justru Cetak Rekor
Dalam kesempatan yang sama, Menkeu menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level terendah. Ia meminta pasar tidak bereaksi berlebihan. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak rekor tertinggi.
“IHSG all time high. Itu berarti ada aliran modal asing masuk. Tidak mungkin hanya didorong investor domestik,” ujarnya. Ia meyakini penguatan rupiah hanya tinggal menunggu waktu seiring bertambahnya suplai dolar dan membaiknya sentimen pasar.
Menkeu menilai pelemahan rupiah sebagian dipicu spekulasi terkait bursa Deputi Gubernur BI. Namun, ia optimistis sentimen tersebut akan mereda setelah pasar melihat kebijakan tetap berjalan profesional dan independen.
Strategi Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah dan Bank Indonesia, lanjut Menkeu, telah sepakat menjaga likuiditas sistem keuangan. Salah satu langkahnya adalah mempercepat belanja pemerintah di awal tahun agar uang beredar meningkat dan mendorong aktivitas ekonomi.
Selain itu, pemerintah juga berkomitmen memperbaiki iklim investasi dan menjalankan kebijakan fiskal serta moneter secara seimbang. “Supply, demand, moneter, fiskal, semua kita jalankan,” ujarnya.
Menkeu optimistis target pertumbuhan ekonomi 6 persen bukan hal sulit dicapai. Ia menilai respons ekonomi memang memiliki jeda waktu, namun indikator awal tahun menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Masuknya modal asing selama tiga bulan terakhir menjadi sinyal positif prospek ekonomi nasional.
Wacana Cukai Baru Rokok dan Stabilitas Fiskal
Selain isu Deputi Gubernur BI, Menkeu juga menyinggung rencana pengaturan cukai rokok, termasuk wacana cukai khusus untuk menekan peredaran rokok ilegal. Kebijakan tersebut masih dalam tahap kajian dan akan difokuskan pada penertiban produksi ilegal di berbagai daerah.
Terkait defisit fiskal, Menkeu menegaskan bahwa pelebaran defisit merupakan konsekuensi dari kebijakan fiskal countercyclical untuk mencegah perlambatan ekonomi. “Kalau tidak dilakukan, kita sudah menuju resesi. Sekarang justru ekonomi sudah berbalik arah,” katanya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang ekspansif saat ini dirancang secara terukur dan cerdas untuk menjaga momentum pemulihan. Dengan fundamental yang terus diperbaiki, pemerintah optimistis stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar akan semakin kuat ke depan.
Editor : Natasha Eka Safrina