JAKARTA – Isu bursa Deputi Gubernur BI kembali menjadi sorotan publik dan pasar keuangan setelah Menteri Keuangan memberikan konfirmasi terkait masuknya nama Thomas sebagai salah satu kandidat. Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi soal pertukaran jabatan antara pejabat fiskal dan moneter, serta dampaknya terhadap independensi Bank Indonesia dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Menkeu menyambut positif masuknya Thomas dalam bursa Deputi Gubernur BI. Ia menilai perpindahan dari sektor fiskal ke moneter justru memberikan nilai tambah bagi penguatan koordinasi kebijakan ekonomi nasional. “Baguslah, supaya Pak Thomas punya pengalaman lebih luas. Dari fiskal ke moneter itu bagus,” ujarnya.
Menkeu juga mengakui bahwa informasi yang beredar di publik belum sepenuhnya utuh. Namun, ia tidak menampik adanya sinyal pertukaran posisi. “Kalau bocorannya seperti itu, kelihatannya memang switch,” katanya, seraya menambahkan akan bertemu dengan pihak terkait untuk melihat langsung niat dan arah kebijakan ke depan.
Isu Independensi BI Jadi Perhatian Pasar
Menguatnya bursa Deputi Gubernur BI memunculkan kekhawatiran pasar soal independensi Bank Indonesia. Menkeu menegaskan kekhawatiran tersebut tidak beralasan selama tidak ada intervensi langsung pemerintah dalam pengambilan keputusan moneter.
“BI tetap independen. Kita jalankan fiskal, mereka jalankan moneter. Koordinasi dilakukan di KSSK agar kebijakan sejalan dan pertumbuhan ekonomi lebih cepat,” tegasnya. Ia menekankan koordinasi bukan berarti campur tangan, melainkan menjaga stabilitas makroekonomi.
Menkeu bahkan menyebut seseorang yang masuk ke BI otomatis bukan lagi elemen pemerintah. “Kalau elemen pemerintah, saya kirim orang tiap sidang dewan gubernur. Kalau ini bukan,” ujarnya.
Rupiah Tertekan Usai Isu Bursa Menguat
Tak lama setelah isu bursa Deputi Gubernur BI mencuat, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan. Menkeu mengakui pasar bereaksi cepat terhadap kabar tersebut, namun menilai pelemahan rupiah lebih dipicu spekulasi jangka pendek.
“Rupiah tergantung fundamental ekonomi. Lihat IHSG, sekarang all time high. Itu berarti ada aliran dana asing masuk,” kata Menkeu. Menurutnya, penguatan indeks saham ke level tertinggi tidak mungkin terjadi tanpa dukungan investor global.
Ia optimistis penguatan rupiah hanya tinggal menunggu waktu seiring bertambahnya pasokan dolar dan membaiknya sentimen pasar. “Kalau fundamentalnya dijaga, rupiah akan menguat lagi,” ujarnya.
Strategi Jaga Fondasi Ekonomi
Untuk memastikan stabilitas ekonomi, pemerintah dan Bank Indonesia sepakat menjaga likuiditas sistem keuangan. Menkeu memastikan belanja pemerintah akan dipercepat sejak awal tahun agar uang beredar di masyarakat meningkat dan sektor riil bergerak.
Selain itu, pemerintah juga berkomitmen memperbaiki iklim investasi serta menjalankan kebijakan fiskal dan moneter secara beriringan. “Supply, demand, investasi, moneter, fiskal, semua kita jalankan,” katanya.
Menkeu optimistis target pertumbuhan ekonomi 6 persen dapat dicapai tahun ini. Ia menilai respons ekonomi terhadap stimulus memang memiliki jeda waktu, namun tanda-tanda perbaikan sudah terlihat sejak Januari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Puluhan Klub Ikuti Kejurprov Bola Voli U-18 Antar Klub Se-Jawa Timur di Tulungagung
“Pelaku pasar bukan orang bodoh. Mereka melihat prospek ekonomi, kebijakan kita, lalu menentukan posisi,” ujarnya. Masuknya modal asing selama tiga bulan terakhir dinilai sebagai sinyal positif kepercayaan pasar.
Defisit Fiskal dan Kebijakan Countercyclical
Menkeu juga menanggapi kekhawatiran pasar terkait defisit fiskal. Menurutnya, defisit merupakan konsekuensi logis dari kebijakan fiskal countercyclical untuk membalikkan perlambatan ekonomi.
“Kalau tidak kita lakukan, kita sudah menuju resesi. Sekarang ekonomi sudah berbalik arah,” tegasnya. Ia menyebut defisit digunakan untuk menggairahkan permintaan dan penawaran domestik agar lapangan kerja kembali tercipta.
Menkeu menutup pernyataannya dengan menegaskan tujuan utama pemerintah adalah memastikan ekonomi tumbuh lebih cepat agar masyarakat memiliki harapan dan kesempatan kerja lebih baik. “Kalau ekonomi tumbuh, orang sibuk bekerja, bukan sibuk demo,” pungkasnya.
Editor : Natasha Eka Safrina