RADAR TULUNGAGUNG – Pasar keuangan Indonesia mengalami gejolak tajam pada perdagangan terbaru.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 7 persen hingga memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan.
Namun, di tengah tekanan pasar saham tersebut, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat.
Fenomena kontras antara melemahnya IHSG dan menguatnya nilai tukar rupiah menjadi sorotan pelaku pasar.
Pada penutupan perdagangan, rupiah tercatat menguat di level Rp 16.717 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 16.768 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa penguatan nilai tukar rupiah tersebut mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih solid, meskipun pasar saham tengah mengalami tekanan.
IHSG Anjlok, Perdagangan Sempat Dihentikan
IHSG tercatat turun tajam hingga menyentuh level 8.337 atau merosot sekitar 7,15 persen.
Penurunan drastis ini membuat BEI mengambil langkah cepat dengan melakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan selama 30 menit.
Padahal, pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG masih berada di level 8.980.
Koreksi tajam ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran investor di tengah sentimen global yang belum kondusif serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi global.
Meski demikian, otoritas pasar modal memastikan bahwa mekanisme penghentian sementara berjalan sesuai aturan untuk menjaga stabilitas dan mencegah kepanikan berlebihan di pasar.
Nilai Tukar Rupiah Menguat di Tengah Tekanan Pasar
Berbeda dengan pasar saham, nilai tukar rupiah justru menunjukkan performa positif. Bank Indonesia menilai penguatan rupiah ini didorong oleh kepercayaan pasar terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia menegaskan bahwa secara fundamental, rupiah memang memiliki ruang untuk menguat.
“Nilai tukar secara fundamental akan menguat,” tegasnya.
BI menilai tekanan yang sempat terjadi pada rupiah dalam beberapa waktu terakhir lebih disebabkan oleh faktor teknis jangka pendek, bukan karena pelemahan ekonomi domestik.
Faktor Fundamental Penopang Rupiah
Bank Indonesia mengungkapkan setidaknya tiga indikator utama yang menopang penguatan nilai tukar rupiah.
Pertama adalah inflasi yang masih terjaga rendah dan berada dalam sasaran yang ditetapkan.
Inflasi yang terkendali mencerminkan stabilitas harga dan daya beli masyarakat yang relatif baik. Kondisi ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Kedua, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai terus membaik. Aktivitas ekonomi domestik menunjukkan pemulihan yang konsisten, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Ketiga, imbal hasil investasi di Indonesia masih menarik bagi investor global. Tingkat return yang kompetitif membuat Indonesia tetap menjadi tujuan investasi, sehingga mendukung aliran modal masuk dan penguatan nilai tukar rupiah.
Komitmen Bank Indonesia Jaga Stabilitas
Selain faktor fundamental, BI juga menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar.
Berbagai instrumen kebijakan moneter telah disiapkan untuk meredam volatilitas dan memastikan rupiah bergerak sejalan dengan fundamental ekonomi.
BI juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, domestic non-delivery forward (DNDF), maupun pasar luar negeri, guna menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing.
Langkah ini diambil agar fluktuasi nilai tukar tetap terkendali dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Emas Ikut Cetak Rekor
Di tengah dinamika pasar keuangan, harga emas juga mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa.
Harga emas Antam melonjak dan mencapai Rp 2.822.000 per gram, naik signifikan dibandingkan hari sebelumnya.
Kenaikan harga emas ini menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian pasar global.
Bank Indonesia mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi jangka pendek.
Dengan fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang konsisten, nilai tukar rupiah diyakini akan tetap stabil dan berpotensi menguat ke depan.***
Editor : Vidya Sajar Fitri