Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nilai Tukar Rupiah Menguat di Tengah IHSG Anjlok Tajam, Tekanan MSCI dan Pelemahan Dolar Jadi Penentu

Vidya Sajar Fitri • Rabu, 28 Januari 2026 | 15:47 WIB

 

Nilai tukar rupiah menguat saat IHSG anjlok tajam.(Gemini AI)
Nilai tukar rupiah menguat saat IHSG anjlok tajam.(Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG – Nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan di tengah tekanan besar yang menghantam pasar saham domestik.

Pada perdagangan Rabu pagi, 28 Januari 2026, rupiah bergerak berlawanan arah dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok tajam sejak pembukaan.

Berdasarkan data perdagangan, nilai tukar rupiah pada pembukaan pasar terapresiasi 0,30 persen ke level Rp 16.710 per dolar Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, IHSG dibuka melemah signifikan sebesar 6,8 persen ke posisi 8.369,48.

Hingga pukul 09.20 WIB, rupiah masih bertahan di zona hijau meski penguatannya mulai melandai.

Rupiah tercatat menguat 0,12 persen di level Rp16.740 per dolar AS, sementara IHSG tetap berada dalam tekanan berat.

IHSG Tertekan Peringatan MSCI

Tekanan besar terhadap pasar saham Indonesia dipicu oleh keputusan penyedia indeks global MSCI.

MSCI memberikan peringatan keras terhadap pasar modal Indonesia dan memutuskan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Tanah Air.

Keputusan tersebut terkait dengan isu free float dan aksesibilitas pasar yang dinilai belum memenuhi standar MSCI.

Kebijakan ini memicu aksi jual masif oleh investor, terutama investor asing, sehingga menekan IHSG sejak awal perdagangan.

Anjloknya IHSG mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlanjutan aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

Meski demikian, tekanan di pasar saham tidak serta-merta menyeret nilai tukar rupiah*ke arah pelemahan.

Rupiah Dapat Sentimen Positif dari Global

Di tengah tekanan domestik, nilai tukar rupiah justru mendapat sentimen positif dari faktor eksternal. Salah satunya adalah pelemahan dolar Amerika Serikat di pasar global.

Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat melemah 0,16 persen ke level 96,06.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dolar setelah sebelumnya ditutup di level terendah dalam empat tahun terakhir.

Kondisi tersebut mengindikasikan investor global mulai melepas aset berbasis dolar dan beralih ke mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pelemahan dolar membuka ruang bagi penguatan mata uang emerging market.

Pernyataan Trump Tekan Dolar AS

Tekanan terhadap dolar AS juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump menyebut bahwa pelemahan dolar belum menjadi kekhawatiran serius bagi pemerintah AS.

Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi pasar bahwa otoritas Amerika Serikat tidak akan melakukan langkah agresif untuk menopang nilai tukar dolar dalam waktu dekat.

Ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dan perdagangan AS turut menambah tekanan terhadap dolar.

Selain itu, spekulasi mengenai kemungkinan intervensi di pasar valuta asing juga membuat pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati terhadap aset dolar, sehingga memberikan sentimen positif bagi nilai tukar rupiah.

Rupiah dan Saham Bergerak Berlawanan

Kondisi di mana nilai tukar rupiah menguat sementara IHSG tertekan menunjukkan adanya perbedaan sentimen antara pasar valuta asing dan pasar saham.

Analis menilai penguatan rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor global, sedangkan pelemahan IHSG dipicu sentimen domestik dan teknikal.

Penguatan rupiah di tengah tekanan pasar saham juga mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

Fundamental ekonomi yang relatif terjaga membuat rupiah tetap menarik di mata investor global.

Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta mencermati perkembangan selanjutnya, terutama terkait tindak lanjut MSCI terhadap pasar modal Indonesia dan arah kebijakan moneter global.

Waspada Volatilitas Pasar

Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika global, termasuk arah kebijakan Amerika Serikat dan pergerakan dolar AS.

Sementara itu, volatilitas di pasar saham domestik berpotensi masih berlanjut seiring tingginya ketidakpastian.

Otoritas keuangan diharapkan terus menjaga stabilitas pasar dan memperkuat kepercayaan investor agar tekanan di pasar modal tidak berlarut-larut.

Di sisi lain, penguatan rupiah menjadi sinyal positif di tengah gejolak yang terjadi.***

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#MSCI #dolar amerika serikat #pasar keuangan indonesia #nilai tukar rupiah #ihsg anjlok