Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Industri Maklon Kosmetik Jadi Penopang Brand Kecantikan Nasional di Tengah Persaingan Global

Sandy Sri Yuwana • Kamis, 29 Januari 2026 | 16:29 WIB
Sektor maklon menjadi tulang punggung produksi berbagai merek kosmetik yang beredar di pasaran, termasuk brand yang telah menembus pasar internasional.
Sektor maklon menjadi tulang punggung produksi berbagai merek kosmetik yang beredar di pasaran, termasuk brand yang telah menembus pasar internasional.

RADAR TULUNGAGUNG – Di tengah pesatnya pertumbuhan industri kecantikan nasional, peran perusahaan maklon kosmetik kerap luput dari perhatian publik.

Padahal, sektor inilah yang menjadi tulang punggung produksi berbagai merek kosmetik yang beredar di pasaran, termasuk brand yang telah menembus pasar internasional.

Gambaran tersebut mengemuka dalam kegiatan Exclusive Business & Factory Visit yang digelar bersama JCI East Java dan praktisi bisnis profesional Indonesia, Helmy Yahya, pada Sabtu (24/1).

Kegiatan itu menyoroti kontribusi manufaktur kosmetik yang bekerja “di balik layar”, salah satunya PT Mash Moshem Indonesia yang beroperasi di Tulungagung sejak 2011.

Keberadaan perusahaan maklon yang telah beroperasi lebih dari satu dekade itu memunculkan fakta bahwa pertumbuhan brand kecantikan tidak semata ditentukan oleh kekuatan pemasaran, tetapi juga kesiapan sistem produksi, kualitas, serta kepatuhan terhadap regulasi.

Model bisnis ini menjadi penting, terutama bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan merek tanpa harus membangun pabrik sendiri.

Helmy Yahya, yang juga merupakan praktisi bisnis profesional di Indonesia, menekankan bahwa industri kosmetik ke depan akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari dinamika ekonomi global, regulasi, hingga perubahan perilaku konsumen.

Menurutnya, keberlanjutan bisnis tidak cukup bertumpu pada tren, tetapi harus didukung oleh fondasi produksi dan tata kelola yang kuat.

“Industri yang siap secara sistem dan konsisten menjaga kualitas akan lebih adaptif menghadapi perubahan,” ujarnya.

Ia juga menilai kolaborasi antara pemilik brand dan manufaktur menjadi faktor kunci untuk memperkuat daya saing industri kosmetik nasional.

Helmy menambahkan bahwa maklon kosmetik bukan sekadar penyedia jasa, melainkan bagian dari ekosistem industri yang memastikan produk aman dan sesuai standar.

Dengan sertifikasi CPKB Grade A dan ISO, serta dukungan pemenuhan regulasi seperti BPOM dan halal, perusahaan maklon dinilai berperan strategis dalam menjaga kepercayaan pasar.

Hal ini sekaligus menjadi cerminan meningkatnya tuntutan konsumen terhadap kualitas dan keamanan produk kecantikan.

Helmy Yahya menyebut model bisnis maklon yang berkembang di daerah seperti Tulungagung berpotensi menjadi pola baru dalam industri skincare nasional.

"Pemilik brand dapat lebih fokus pada penguatan identitas dan strategi pemasaran. Sementara aspek teknis produksi ditangani oleh pihak yang memiliki kompetensi dan infrastruktur memadai," pungkas pria yang juga sudah puluhan tahun berkiprah di pertelevisian Indonesia itu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri kosmetik nasional tidak hanya digerakkan oleh merek-merek yang tampil di etalase, tetapi juga oleh pelaku manufaktur yang bekerja di balik layar.

Peran mereka menjadi semakin relevan seiring upaya brand lokal untuk naik kelas dan bersaing di pasar global.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#industri kecantikan #maklon #pasar internasional #kosmetik