Menurut Purbaya, tekanan terhadap IHSG anjlok dua hari beruntun itu terjadi karena sentimen pasar atas evaluasi MSCI terhadap saham-saham Indonesia.
Selain itu, masih maraknya saham gorengan di bursa juga ikut memperburuk persepsi investor terhadap kualitas pasar modal domestik.
Ia memastikan, kondisi ini hanya bersifat sementara. Fundamental perekonomian Indonesia, kata dia, tetap kuat dan stabil.
Bahkan, ia optimistis pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai 6 persen jika berbagai pembenahan di sektor pasar keuangan dilakukan secara konsisten.
Baca Juga: Merawat Tradisi dari Rumah, Jamang Barongan Karya Pemuda Tulungagung Ini Laku sampai Mancanegara
Tekanan IHSG Disebut Hanya Sementara
Purbaya menjelaskan, penurunan IHSG dalam dua hari terakhir lebih dipicu faktor teknis, bukan karena adanya krisis atau pelemahan makroekonomi. Evaluasi MSCI terhadap Indonesia menjadi salah satu pemicu utama gejolak tersebut.
MSCI sebelumnya menyoroti sejumlah persoalan serius di pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi dan penilaian free float saham dalam MSCI Global Standard Index. Isu ini memicu kekhawatiran investor global, sehingga berdampak pada aksi jual di pasar saham.
Meski demikian, Purbaya menilai respons pasar cenderung berlebihan. Ia menegaskan bahwa secara fundamental, indikator ekonomi Indonesia masih solid.
Stabilitas sektor perbankan terjaga, inflasi terkendali, dan pertumbuhan konsumsi domestik tetap kuat.
“Tekanan ini hanya sementara. Fundamental kita kuat,” tegasnya.
Perbaikan Sentimen MSCI dan Peran OJK
Untuk meredam dampak lanjutan, Purbaya memastikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melakukan langkah perbaikan terhadap berbagai catatan yang disampaikan MSCI. Perbaikan sentimen MSCI dinilai krusial agar kepercayaan investor asing kembali pulih.
Salah satu fokus utama adalah pembenahan transparansi serta validitas data free float saham. Free float menjadi komponen penting dalam penilaian indeks global karena mencerminkan likuiditas dan kepemilikan publik atas suatu saham.
Jika isu ini tidak segera dibenahi, dikhawatirkan akan memengaruhi bobot saham Indonesia dalam indeks global dan berpotensi memicu arus keluar modal asing (capital outflow).
OJK bersama otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) diminta bergerak cepat untuk memastikan standar tata kelola dan keterbukaan informasi emiten semakin baik. Langkah ini dinilai penting demi menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
Saham Gorengan Jadi Sorotan
Selain faktor MSCI, Purbaya juga menyinggung keberadaan saham gorengan yang masih marak di lantai bursa. Saham-saham dengan fundamental lemah namun mengalami lonjakan harga tidak wajar dinilai menciptakan distorsi pasar.
Keberadaan saham gorengan tidak hanya merugikan investor ritel, tetapi juga memperburuk citra pasar modal Indonesia secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengganggu stabilitas dan mengurangi minat investor institusi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pembersihan saham-saham bermasalah agar pasar saham Indonesia lebih sehat dan berkualitas. Otoritas bursa diharapkan lebih tegas dalam melakukan pengawasan serta penegakan aturan terhadap praktik manipulatif.
Baca Juga: Aksi Penjambretan Viral Terekam Dashcam Berakhir, Resmob Polres Tulungagung Tangkap TS di Boyolangu
Optimisme Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen
Di tengah tekanan IHSG anjlok dua hari beruntun, Purbaya tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional. Ia bahkan menyebut ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh hingga 6 persen jika reformasi struktural dan penguatan sektor keuangan terus dilakukan.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh konsumsi domestik yang besar, investasi yang terus mengalir, serta stabilitas fiskal yang relatif terjaga. Selain itu, transformasi digital dan hilirisasi industri juga menjadi motor pertumbuhan baru.
Ia menilai pasar saham seharusnya mencerminkan kekuatan fundamental tersebut. Oleh sebab itu, pembenahan tata kelola, peningkatan transparansi, serta penguatan regulasi menjadi kunci agar kepercayaan investor kembali pulih.
Dengan langkah cepat dari OJK dan BEI, tekanan terhadap IHSG diyakini dapat mereda dalam waktu dekat. Pasar modal Indonesia pun diharapkan kembali stabil dan mampu menarik arus investasi yang lebih besar.
“Yang penting kita bereskan masalah teknis dan tata kelolanya. Fundamental ekonomi kita kuat,” pungkasnya.
Baca Juga: Enggan Perpanjang Polemik, Muhadi Tegaskan Masih Tetap di Jabatan Fungsional
Editor : Fadhilah Salsa Bella