Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Direktur Utama BEI Mengundurkan Diri di Tengah Tekanan MSCI dan Rating Underweight Goldman Sachs, Bagaimana Nasib IHSG ke Depan?

Vidya Sajar Fitri • Jumat, 30 Januari 2026 | 13:06 WIB

 

Direktur Utama BEI, Iman Rachman.(Bloomberg)
Direktur Utama BEI, Iman Rachman.(Bloomberg)

RADAR TULUNGAGUNG – Gejolak besar kembali melanda pasar saham Indonesia dalam beberapa hari terakhir.

Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh sorotan tajam lembaga global MSCI terkait isu transparansi struktur kepemilikan saham dan risiko investability pasar Indonesia.

Di tengah situasi tersebut, kabar mengejutkan muncul ketika Direktur Utama BEI mengundurkan diri dari jabatannya.

Pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rahman diumumkan pada hari ini, tak lama setelah pembukaan perdagangan.

Keputusan ini langsung menyita perhatian pelaku pasar, mengingat IHSG sebelumnya sempat mengalami trading halt dan volatilitas tinggi dalam dua hari terakhir.

Langkah Direktur Utama BEI mengundurkan diri pun memunculkan beragam pertanyaan mengenai stabilitas dan arah pasar modal ke depan.

Tekanan pasar yang terjadi bukan hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga sentimen global.

Selain peringatan dari MSCI, Goldman Sachs turut menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight.

Kombinasi sentimen negatif ini membuat posisi IHSG berada dalam sorotan tajam investor, baik domestik maupun asing.

Pengunduran Diri Dirut BEI Dinilai Mengejutkan

Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede, menilai pengunduran diri Iman Rahman sebagai langkah yang cukup mengejutkan.

Menurutnya, keputusan tersebut muncul di saat pasar sedang berada dalam kondisi sensitif.

“Ini tentu mengejutkan karena terjadi sesaat setelah pembukaan pasar. Kita perlu menghormati keputusan beliau, tetapi pasar masih akan mencerna dampak dari pengunduran diri ini,” ujarnya.

Joshua menyebut, secara timing, langkah Direktur Utama BEI mengundurkan diri dinilai kurang ideal.

Pasalnya, pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan akibat isu keterbukaan kepemilikan saham serta risiko penilaian dari investor global.

Ruang Pembenahan Tata Kelola Pasar

Meski demikian, pengunduran diri tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya institusional untuk meredam tekanan lebih lanjut.

Joshua menilai, langkah ini justru membuka ruang percepatan pembenahan tata kelola pasar modal secara lebih tegas.

“Bagi investor, yang terpenting bukan hanya siapa yang mundur, tetapi bagaimana kesinambungan kepemimpinan BEI ke depan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya kecepatan penunjukan pengganti Direktur Utama BEI serta solidnya koordinasi antara BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemangku kepentingan lainnya.

Transisi kepemimpinan yang tertib dinilai krusial agar agenda perbaikan transparansi dan likuiditas pasar tetap berjalan.

Dampak ke IHSG Masih Bersifat Terbatas

Pasca pengumuman pengunduran diri, IHSG sempat menunjukkan respons negatif dan bergerak di zona merah.

Namun, seiring berjalannya perdagangan, indeks kembali menguat dan berbalik ke zona hijau.

Menurut Joshua, hal ini menunjukkan pasar masih bersikap netral.

Namun, risiko akan meningkat jika kekosongan kepemimpinan di BEI berlangsung terlalu lama atau komunikasi dengan publik melemah.

“Kalau transisi ini berlarut-larut, tentu bisa mempengaruhi sentimen pasar,” ujarnya.

PR Besar BEI: Transparansi dan Free Float

Selain komunikasi dengan MSCI, BEI dan regulator masih menghadapi pekerjaan rumah besar.

Salah satunya adalah kebijakan OJK terkait kewajiban free float minimum 15 persen, naik dari sebelumnya 7,5 persen.

Aturan ini dinilai akan memberi tekanan pada emiten yang porsi saham publiknya masih rendah.

Saham dengan free float kecil dianggap lebih rentan terhadap volatilitas dan kurang likuid.

“Pemenuhan 15 persen ini bukan sekadar angka, tapi bagaimana memperlebar likuiditas agar pergerakan harga lebih sehat,” jelas Joshua.

Tekanan dari Rating Underweight Goldman Sachs

Penurunan rating saham Indonesia menjadi underweight oleh Goldman Sachs turut menjadi faktor penekan IHSG dalam jangka pendek.

Banyak investor global menggunakan pandangan lembaga tersebut sebagai acuan alokasi dana.

Namun, Joshua menilai sentimen negatif ini dapat mereda jika reformasi pasar modal berjalan cepat dan terukur.

Kunci perbaikannya tetap pada transparansi, tata kelola yang baik, dan konsistensi kebijakan regulator.

Strategi Investor di Tengah Gejolak

Di tengah volatilitas, investor ritel diimbau kembali ke strategi dasar, yakni fokus pada saham berfundamental kuat.

Saham-saham dengan kinerja keuangan solid dinilai lebih resilien menghadapi tekanan global dan domestik.

“Back to basic, back to fundamental. Jangan FOMO. Saham berfundamental baik cenderung lebih cepat pulih,” pungkas Joshua.***

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#goldman sachs #bursa efek indonesia #ihsg #MSCI #Direktur Utama BEI mundur