Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Borong Bitcoin Episode 32: Keyakinan Tak Goyah di Awal 2026, Ini Alasan Bitcoin Disebut Aset Masa Depan

Muhammad Rusdian Nuzula • Jumat, 30 Januari 2026 | 17:20 WIB

Borong Bitcoin episode 32 bahas keyakinan beli Bitcoin di awal 2026, prediksi The Fed, dan pembelian Rp100 juta di tengah koreksi harga.
Borong Bitcoin episode 32 bahas keyakinan beli Bitcoin di awal 2026, prediksi The Fed, dan pembelian Rp100 juta di tengah koreksi harga.

RADAR TULUNGAGUNG - Program Borong Bitcoin kembali hadir memasuki episode ke-32 pada awal Januari 2026. Dalam video terbaru yang tayang pada 1 Januari 2026, sang kreator menegaskan kembali komitmennya untuk terus membeli Bitcoin secara konsisten setiap bulan, meski harga aset kripto tersebut belum menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang 2025.

Episode kali ini menjadi penanda perjalanan lebih dari 32 bulan menjalankan strategi akumulasi Bitcoin.

Kreator menyebut Borong Bitcoin bukan sekadar konten, melainkan bukti nyata keyakinannya terhadap Bitcoin sebagai aset jangka panjang untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Menurutnya, stagnasi harga yang terjadi sepanjang 2025 justru menjadi ujian mental bagi para pemegang Bitcoin.

Dalam penjelasannya, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data historis, hampir tidak ada investor Bitcoin yang merugi jika menahan aset tersebut selama empat hingga lima tahun.

Meski mengakui bahwa aset lain seperti emas, perak, hingga saham indeks tertentu mencatat kenaikan lebih tinggi, ia menilai setiap instrumen memiliki siklusnya masing-masing.

Baca Juga: Virus Nipah di Indonesia Jadi Sorotan, Kemenkes Tegaskan Belum Ada Kasus meski Tingkat Kematian Tinggi

Prediksi Kebijakan The Fed dan Dampaknya ke Bitcoin

Salah satu sorotan utama dalam episode ini adalah analisis makroekonomi global. Kreator memperkirakan bahwa Federal Reserve berpotensi kembali menerapkan kebijakan quantitative easing pada kuartal ketiga atau keempat 2026.

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis besar bagi kenaikan harga Bitcoin.

Ia juga menjelaskan mengapa arus modal global saat ini belum sepenuhnya masuk ke Bitcoin. Menurutnya, sebagian besar dana besar masih tersedot ke sektor kecerdasan buatan (AI), terutama perusahaan seperti Nvidia, ASML, dan Taiwan Semiconductor.

Kondisi ini dinilai sebagai faktor utama mengapa Bitcoin belum menunjukkan performa agresif.

Meski demikian, adopsi institusional Bitcoin terus berjalan. Ia mencontohkan lembaga pendidikan ternama seperti Harvard yang menambah eksposur, serta sejumlah negara dan sovereign wealth fund seperti Abu Dhabi yang mulai mengoleksi aset kripto tersebut.

Baca Juga: TPG Guru Januari 2026 Cair Bertahap, Ini Jadwal, Daerah yang Sudah Masuk Rekening, dan Peringatan Penting dari Info GTK

Bitcoin, Kelangkaan, dan Perlindungan Nilai Uang

Dalam video tersebut, kreator kembali menegaskan tesis utamanya bahwa Bitcoin adalah aset langka dengan kelangkaan yang dijamin secara matematis.

Ia menyebut Bitcoin tidak bisa dimanipulasi oleh pemerintah, otoritas pusat, maupun individu korup. Oleh karena itu, Bitcoin dianggap sebagai lindung nilai terhadap penurunan daya beli mata uang fiat.

Ia menyoroti inflasi dan ekspansi jumlah uang beredar yang menurutnya mencapai dua digit per tahun.

Dalam pandangannya, menabung uang tunai menjadi semakin tidak relevan karena nilainya terus tergerus inflasi. Bitcoin, sebaliknya, dipandang sebagai penyimpan energi hasil kerja manusia.

Menanggapi isu ancaman quantum computing terhadap Bitcoin, ia menilai hal tersebut masih sebatas wacana masa depan. Bahkan, ia menegaskan bahwa jika sistem Bitcoin sampai runtuh, maka seluruh sistem keuangan global kemungkinan besar akan ikut terdampak.

Baca Juga: Direktur Utama BEI Mengundurkan Diri di Tengah Tekanan MSCI dan Rating Underweight Goldman Sachs, Bagaimana Nasib IHSG ke Depan?

Pembelian Bitcoin Rp100 Juta di Awal 2026

Pada akhir video, kreator memperlihatkan aksi pembelian Bitcoin senilai Rp100 juta melalui aplikasi exchange miliknya.

Setelah transaksi dikonfirmasi, total kepemilikan Bitcoinnya mencapai sekitar 3,5 BTC dengan nilai aset lebih dari Rp5,2 miliar, meskipun nilai rupiahnya sedang turun akibat koreksi harga pasar.

Ia optimistis jika suatu saat harga Bitcoin mencapai Rp2 miliar per BTC, total aset tersebut bisa bernilai lebih dari Rp60 miliar. Ia menegaskan bahwa program Borong Bitcoin akan terus berlanjut hingga 10 tahun ke depan sebagai pembuktian apakah tesisnya benar atau salah.

Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk mulai membeli Bitcoin secara bertahap sesuai kemampuan, bahkan dari nominal kecil.

Menurutnya, misi utama Borong Bitcoin bukan mencari keuntungan semata, melainkan mengedukasi publik tentang sistem keuangan dan membuka akses yang lebih adil terhadap aset digital.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#Aset Kripto #Harga Bitcoin #Borong Bitcoin #Bitcoin 2026 #Investasi Bitcoin