Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nabung Bitcoin di 2026 Masih Menarik? Ini Strategi Aman Investasi Bitcoin Saat Harga Mahal dan Pasar Tak Pasti

Muhammad Rusdian Nuzula • Jumat, 30 Januari 2026 | 17:30 WIB

Nabung Bitcoin di 2026 masih layak? Simak strategi investasi Bitcoin defensif, money management, dan tips aman di pasar tak pasti.
Nabung Bitcoin di 2026 masih layak? Simak strategi investasi Bitcoin defensif, money management, dan tips aman di pasar tak pasti.

RADAR TULUNGAGUNG  - Topik nabung Bitcoin di 2026 kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan investor kripto.

Dalam sebuah video terbaru, seorang analis kripto membahas secara jujur dan terbuka apakah investasi Bitcoin masih layak dilakukan di tengah harga yang relatif tinggi dan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.

Ia mengakui, minat terhadap Bitcoin biasanya memuncak saat harga sedang reli kencang. Ketika harga melonjak drastis, investor berbondong-bondong masuk karena peluang cuan terasa dekat.

Namun, kondisi berbeda terjadi ketika pasar bergerak sideways, terkoreksi, atau memasuki fase bearish. Banyak orang mulai meragukan prospek Bitcoin dan memilih mengamankan dana ke aset lain.

Jika dibandingkan dengan tahun 2023, daya tarik nabung Bitcoin di 2026 memang tidak sebesar saat harga berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000. Pada periode tersebut, margin of safety dinilai sangat besar karena potensi kenaikan harga jauh lebih lebar.

Sementara saat ini, dengan harga yang sudah mendekati level tinggi, potensi keuntungan secara persentase menjadi lebih terbatas.

Baca Juga: Virus Nipah Belum Masuk Indonesia, Pemeriksaan Bandara Diperketat dengan Thermal Scanner dan Skrining Kesehatan

Harga Boleh Mahal, Fundamental Bitcoin Tetap Kuat

Meski demikian, ia menegaskan bahwa yang berubah hanyalah harga, bukan kualitas Bitcoin itu sendiri. Dari sisi fundamental, justru Bitcoin dinilai semakin matang.

Adopsi terus meningkat, regulasi semakin jelas, dan produk seperti Bitcoin Spot ETF telah hadir di pasar global.

Menurutnya, Bitcoin tetap memiliki keunggulan sebagai aset yang transparan, mudah dipindahkan lintas negara, dan tidak bergantung pada otoritas pusat.

Dalam jumlah besar sekalipun, nilai Bitcoin dapat dipindahkan hanya dalam hitungan menit, sesuatu yang sulit dilakukan oleh sistem keuangan konvensional.

Ia juga menyinggung siklus empat tahunan Bitcoin (four year cycle). Secara historis, setelah fase bullish dan mencapai puncak, Bitcoin kerap memasuki periode bearish sebelum kembali naik di siklus berikutnya.

Karena itu, tahun 2026 dinilai sebagai fase yang menuntut strategi lebih defensif dibanding agresif.

Baca Juga: Pencairan TPG Guru Terbaru: Info GTK Tiga Hijau Cair Januari, Dua Hijau Menyusul Februari

Perbedaan Trading dan Investasi Bitcoin

Dalam video tersebut, ia membedakan secara tegas antara trading dan investasi. Untuk trading, pergerakan harga jangka pendek tetap bisa dimanfaatkan, baik saat pasar naik, sideways, maupun turun.

Namun untuk investasi jangka panjang, keputusan membeli Bitcoin harus didasari oleh pemahaman dan keyakinan terhadap teknologinya.

Ia menekankan, investasi Bitcoin seharusnya menjadi bagian dari diversifikasi portofolio.

Porsinya bisa disesuaikan, mulai dari 3 persen, 5 persen, hingga 10 persen dari total aset, tergantung tingkat pemahaman dan toleransi risiko masing-masing investor.

Strategi Nabung Bitcoin di 2026: Defensif dan Bertahap

Baca Juga: Virus Nipah di Indonesia Jadi Sorotan, Kemenkes Tegaskan Belum Ada Kasus meski Tingkat Kematian Tinggi

Dalam praktiknya, ia mencontohkan strategi nabung Bitcoin di 2026 dengan pendekatan bertahap.

Dari modal awal 1.000 USDT, hanya 30 persen yang langsung dialokasikan ke Bitcoin, sementara sisanya disimpan sebagai cash untuk menjaga fleksibilitas.

Strategi ini bertujuan agar investor memiliki cadangan dana saat terjadi koreksi harga. Dengan menyisakan porsi cash, investor dapat membeli Bitcoin di harga lebih rendah tanpa harus menunggu pemasukan berikutnya.

Pendekatan ini dinilai lebih sehat dibandingkan langsung all in di kondisi pasar yang belum ideal.

Ia menegaskan bahwa menyimpan cash bukan berarti rugi peluang. Dalam kondisi pasar global yang penuh isu geopolitik dan ekonomi, sikap defensif justru bisa menjadi keunggulan.

Siapa yang Cocok Mulai Nabung Bitcoin Sekarang?

Menurutnya, investor baru tetap bisa mulai berinvestasi Bitcoin di 2026, asalkan dengan money management yang tepat.

Tidak perlu langsung besar, bahkan nominal kecil pun dinilai cukup untuk belajar memahami volatilitas pasar.

Baca Juga: Virus Nipah Mewabah di India, Ini Gejala, Tingkat Kematian Tinggi, dan Potensi Ancaman Masuk ke Indonesia

Bagi investor yang belum benar-benar memahami Bitcoin, ia menyarankan agar porsi investasi tetap kecil agar tidak terbebani secara mental saat harga mengalami penurunan.

Seiring bertambahnya pemahaman dan keyakinan, porsi investasi dapat ditingkatkan secara bertahap.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa Bitcoin bukan jalan pintas untuk cepat kaya. Namun, dengan strategi yang disiplin dan realistis, Bitcoin tetap bisa menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#Harga Bitcoin #nabung Bitcoin di 2026 #money management #Investasi Bitcoin #strategi kripto