Pelaku pasar diminta selektif, memprioritaskan saham berfundamental kuat dan valuasi yang relatif murah.
IHSG pada penutupan terakhir bertahan di kisaran area support 7.920-an setelah sempat tertekan cukup dalam. Meski indeks melemah, nilai transaksi tergolong normal dan tidak menunjukkan distribusi besar-besaran seperti sesi sebelumnya.
Kondisi ini membuka peluang akumulasi bertahap, terutama bagi investor yang masih memegang kas. Dalam konteks rekomendasi saham besok Selasa 3 Februari 2025, pendekatan disiplin dan bertahap dinilai lebih aman.
Pelaku pasar juga menyoroti peran investor asing yang mulai kembali masuk ke saham-saham big caps tertentu. Masuknya dana asing, meski belum masif, memberi sinyal awal bahwa minat terhadap saham berfundamental solid masih ada.
Namun, kehati-hatian tetap diperlukan jika IHSG kembali membuka perdagangan dengan tekanan.
IHSG dan Strategi Menghadapi Volatilitas
Secara teknikal, IHSG masih berjuang mempertahankan area support. Jika pembukaan pasar kembali merah, investor disarankan tidak terburu-buru dan tetap menyisakan kas.
Penurunan indeks justru membuat valuasi sejumlah saham unggulan semakin menarik. Sebaliknya, saham-saham berisiko tinggi dan valuasi mahal cenderung mengalami penurunan lebih dalam saat pasar tertekan.
Kondisi global juga turut memengaruhi sentimen. Pergerakan indeks utama Asia cenderung melemah, sementara pasar menanti rilis data ekonomi Amerika Serikat, seperti non-farm payroll dan tingkat pengangguran.
Sentimen ini berpotensi memicu volatilitas jangka pendek di pasar saham dan komoditas.
Big Banks Masih Jadi Andalan
Dalam daftar rekomendasi saham besok Selasa 3 Februari 2025, sektor perbankan besar masih menjadi pilihan utama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai relatif kuat dengan dukungan akumulasi asing.
Secara teknikal, area 7.550 menjadi support terdekat yang perlu dijaga. Jika mampu bertahan, target resistensi berikutnya berada di kisaran 7.800.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga mencuri perhatian. Saham ini sempat menguji area support 3.760 sebelum kembali menguat. Dengan fundamental yang solid dan dividen menarik, BBRI dinilai layak dikoleksi bertahap untuk jangka menengah hingga panjang.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masih bergerak fluktuatif di kisaran 4.750–4.900. Selama bertahan di atas support, koreksi justru dinilai sebagai peluang beli.
ANTM dan Sektor Komoditas
Di sektor komoditas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi sorotan setelah terkoreksi mengikuti penurunan harga emas global. Meski demikian, koreksi ini dinilai masih wajar mengingat harga emas dunia masih berada di level tinggi.
Support ANTM berada di kisaran 3.700, dengan resistensi terdekat di 3.940. Masuknya dana asing ke ANTM mengindikasikan minat akumulasi di area bawah.
Sebaliknya, saham-saham komoditas berisiko tinggi seperti BRMS, BUMI, dan DEWA masih dibayangi volatilitas ekstrem. Sejumlah saham tersebut mengalami tekanan jual signifikan dan bahkan menyentuh batas auto reject bawah (ARB).
Investor disarankan ekstra hati-hati dan hanya mempertimbangkan saham ini untuk strategi trading jangka pendek dengan manajemen risiko ketat.
Aset Global: Emas dan Bitcoin
Harga emas global mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir. Meski terlihat mengkhawatirkan, tren jangka panjang emas dinilai belum sepenuhnya berbalik bearish dan masih sangat dipengaruhi faktor geopolitik.
Sementara itu, Bitcoin melemah dan menembus area support penting, memunculkan indikasi konsolidasi menuju tren bearish. Investor kripto disarankan lebih waspada hingga terbentuk sinyal teknikal yang lebih jelas.
Kesimpulan
Menjelang perdagangan Selasa, fokus investor sebaiknya tetap pada saham berfundamental kuat, likuid, dan berada di area valuasi menarik.
Rekomendasi saham besok Selasa 3 Februari 2025 menempatkan BBCA, BBRI, BMRI, dan ANTM sebagai opsi yang relatif defensif di tengah volatilitas pasar. Disiplin, selektif, dan manajemen risiko menjadi kunci utama menghadapi dinamika pasar saat ini.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo