Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

OJK Bertemu MSCI di Gedung BEI, Bocoran Strategi Transparansi Saham hingga Kenaikan Free Float Bikin Pasar Modal Indonesia Disorot Dunia

Krisna Pambudi • Selasa, 3 Februari 2026 | 20:48 WIB
OJK bertemu MSCI di BEI bahas transparansi saham, free float, dan likuiditas pasar modal Indonesia  (Sumber: Jawa Pos)
OJK bertemu MSCI di BEI bahas transparansi saham, free float, dan likuiditas pasar modal Indonesia (Sumber: Jawa Pos)

RADAR TULUNGAGUNG - OJK bertemu MSCI dalam pertemuan strategis yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/2/2026).

Pertemuan OJK dengan MSCI ini menjadi sorotan karena membahas langsung berbagai isu krusial yang selama ini menjadi perhatian indeks global tersebut terhadap pasar modal Indonesia, khususnya soal transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama jajaran pimpinan BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hadir langsung dalam pertemuan dengan tim analis MSCI.

Turut hadir pula perwakilan Danantara sebagai bagian dari pemangku kepentingan pasar modal nasional.

OJK menegaskan komitmennya untuk melakukan pembenahan struktural demi meningkatkan kredibilitas dan daya saing pasar modal Indonesia di mata investor global.

Dalam paparannya, OJK menyampaikan bahwa agenda utama OJK bertemu MSCI kali ini berfokus pada dua isu besar yang selama ini menjadi concern MSCI, yakni transparansi kepemilikan saham (ultimate beneficial ownership) dan peningkatan free float saham.

Komitmen Pengungkapan Kepemilikan Saham

Salah satu langkah konkret yang diajukan adalah perluasan kewajiban pengungkapan kepemilikan saham.

Jika sebelumnya disclosure hanya diwajibkan bagi pemegang saham dengan porsi di atas 5 persen, kini OJK berkomitmen menurunkannya hingga kepemilikan di atas 1 persen.

“Kami ingin meningkatkan transparansi pasar. Pengungkapan kepemilikan saham akan diperluas agar investor memiliki kejelasan terkait siapa pemilik manfaat sebenarnya dari suatu saham,” ujar perwakilan OJK dalam pertemuan tersebut.

Langkah ini dinilai sejalan dengan praktik pasar modal global dan menjadi sinyal kuat bahwa regulator serius membenahi tata kelola.

Klasifikasi Investor Lebih Rinci

Selain itu, OJK bersama KSEI juga mengusulkan peningkatan granularitas data investor.

Selama ini, klasifikasi investor di pasar modal Indonesia hanya dibagi ke dalam sembilan kategori utama. Ke depan, klasifikasi tersebut akan diperluas menjadi 27 subtipe investor.

Perincian ini diharapkan mampu meningkatkan kredibilitas data, memperjelas profil investor, serta memperkuat pengungkapan ultimate beneficial ownership yang selama ini menjadi perhatian MSCI.

Rencana Kenaikan Free Float Saham

Isu lain yang tak kalah penting dalam agenda OJK bertemu MSCI adalah rencana kenaikan batas minimum free float saham.

OJK mengusulkan kenaikan free float dari ketentuan saat ini sebesar 7,5 persen menjadi 15 persen.

Namun, OJK menegaskan bahwa kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap dan melibatkan seluruh pelaku pasar agar tidak menimbulkan gejolak.

Peningkatan free float dinilai krusial untuk mendongkrak likuiditas saham dan memperbesar porsi saham Indonesia yang layak masuk indeks global.

MSCI Apresiasi dan Siap Beri Pendampingan

Diskusi antara regulator Indonesia dan MSCI berlangsung konstruktif.

Bahkan, MSCI menyatakan kesediaannya untuk memberikan panduan teknis terkait metodologi dan mekanisme penilaian yang mereka gunakan.

OJK juga berjanji akan menyampaikan pembaruan secara berkala kepada publik mengenai progres implementasi rencana aksi tersebut sebagai bagian dari komitmen transparansi.

Pasar Saham Turun, Asing Justru Net Buy

Di sisi lain, OJK juga menanggapi dinamika pasar yang terjadi pada hari yang sama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,8 persen ke level 7.922,73.

Meski demikian, terdapat sinyal positif di balik koreksi tersebut.

Setelah empat hari berturut-turut mencatatkan net sell, investor asing justru membukukan net buy sebesar Rp54,9 miliar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa koreksi pasar lebih dipengaruhi oleh rebalancing portofolio, bukan kepanikan.

Secara regional, tekanan pasar juga terjadi di berbagai bursa Asia seperti Korea Selatan, Hong Kong, India, hingga China.

OJK menilai pelemahan ini bersifat global dan bukan mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

OJK pun mengimbau investor untuk tetap tenang dan berorientasi jangka panjang. “Fundamental ekonomi kita masih kuat. Kami memastikan perdagangan berjalan teratur, wajar, dan efisien,” tegas OJK.

Pertemuan OJK dengan MSCI ini diharapkan menjadi langkah penting menuju pengakuan global yang lebih baik bagi pasar modal Indonesia.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Transparansi saham #MSCI Indonesia #pasar modal indoneisia #ojk #free float saham