RADAR TULUNGAGUNG– Pergerakan pasar saham domestik mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,52 persen ke level 8.120 pada perdagangan Selasa (3/2). Kondisi ini menjadi landasan utama bagi investor untuk mencermati rekomendasi saham 4 Februari 2025, terutama saham-saham yang mulai rebound dari area support kuat.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat tertekan cukup dalam hingga menyentuh level 7.700-an. Namun, memasuki pertengahan sesi pertama, indeks berhasil berbalik arah setelah menembus kembali area 7.920. Penguatan IHSG kali ini dinilai cukup sehat karena tidak disertai distribusi asing besar, berbeda dengan penurunan tajam sebelumnya yang mencapai lebih dari 8 persen.
Minimnya tekanan jual asing menjadi sinyal penting dalam membaca peluang rekomendasi saham 4 Februari 2025. Volume transaksi yang relatif moderat saat indeks melemah justru mengindikasikan koreksi teknikal, bukan pembalikan tren besar. Situasi ini kerap dimanfaatkan pelaku pasar untuk masuk di harga bawah, khususnya pada saham-saham berlikuiditas tinggi.
Asing Masih Net Sell, Tapi Tidak Agresif
Secara keseluruhan, investor asing masih mencatatkan posisi net sell. Saham-saham big caps seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), dan Aneka Tambang (ANTM) menjadi emiten dengan distribusi asing terbesar. Meski begitu, nilai net sell tersebut dinilai tidak agresif.
Sebaliknya, sejumlah saham justru mencatatkan akumulasi asing, terutama saham sektor tambang dan saham lapis dua. Bumi Resources (BUMI) dan Dewa United (DEWA) menjadi dua saham dengan nilai transaksi paling ramai. BUMI mencatatkan transaksi lebih dari Rp3,2 triliun dan berhasil rebound tajam dari area support.
Kondisi ini memperkuat asumsi bahwa reli IHSG bukan sekadar euforia sesaat. Jika IHSG mampu bertahan di atas area 7.930–7.950, peluang pergerakan sideways hingga menguat terbuka, terutama bila aliran dana asing mulai kembali masuk.
Sentimen Global Ikut Mendukung
Dari sisi global, mayoritas indeks Asia ditutup menguat. Nikkei melonjak hampir 4 persen, sementara Hang Seng dan indeks China juga berada di zona hijau. Indeks Amerika Serikat diperkirakan dibuka positif, yang berpotensi menopang sentimen pasar domestik pada perdagangan Rabu.
Sementara itu, Bitcoin masih bergerak sideways dengan kecenderungan melemah setelah gagal menembus resistance 79.900. Berbeda dengan kripto, harga emas justru melonjak lebih dari 5 persen dan mendekati level psikologis USD 5.000 per troy ounce. Lonjakan harga emas ini turut memengaruhi pergerakan saham tambang emas di dalam negeri.
Nilai tukar rupiah juga menunjukkan stabilisasi dan menguat ke kisaran 16.750 per dolar AS. Stabilnya rupiah memberi ruang optimisme bagi pasar, khususnya sektor perbankan dan saham berbasis konsumsi.
Saham Pilihan untuk Dicermati
Dalam daftar rekomendasi saham hari ini 4 Februari 2025, saham perbankan besar masih menarik untuk jangka menengah hingga panjang. BBCA dinilai solid secara fundamental dengan kinerja kuartal IV yang tetap positif, meski secara teknikal masih perlu mencermati support di area 7.550.
BBRI masih bergerak konsolidasi di rentang 3.760–3.860. Selama belum menembus resistance, saham ini cenderung sideways, namun menarik untuk akumulasi bertahap. BMRI juga relatif aman dengan valuasi murah dan potensi dividen yield tinggi mendekati 9 persen.
Dari sektor tambang, ANTM perlu dicermati secara hati-hati. Meski harga emas melonjak, saham ANTM mengalami tekanan jual asing. Area 3.930 menjadi level krusial penentu arah selanjutnya. Jika bertahan, peluang melanjutkan tren bullish masih terbuka.
Saham-saham volatil seperti BUMI, BRMS, DEWA, hingga INET dinilai lebih cocok untuk strategi trading jangka pendek. BUMI memiliki support kuat di 204 dan resistance di kisaran 308. DEWA berpotensi melanjutkan kenaikan selama mampu bertahan di atas 505, sementara BRMS dijaga kuat di level 835.
Waspada Volatilitas
Meski peluang rebound terbuka, investor tetap disarankan disiplin dalam manajemen risiko. Volatilitas pasar masih tinggi, terutama menjelang rilis data ekonomi global dan pergerakan dana asing. Strategi beli di area support dan ambil untung bertahap dinilai lebih aman dibandingkan mengejar harga di level tinggi.
Editor : Cholifatun Nisak