RADAR TULUNGAGUNG – Memasuki tahun 2026, pertanyaan besar bagi banyak orang bukan lagi sekadar “sudah mulai investasi atau belum”, melainkan apakah investasi tersebut sudah mampu menghasilkan passive income yang stabil.
Passive income atau penghasilan pasif menjadi incaran karena memungkinkan seseorang tetap memperoleh pemasukan rutin tanpa harus aktif bekerja setiap hari.
Seorang kreator konten finansial, Dodi, menjelaskan bahwa konsep hidup dari passive income sebenarnya cukup sederhana.
Seseorang menyisihkan uang, mengubahnya menjadi aset produktif, lalu memanfaatkan hasilnya untuk menutup biaya hidup. Tantangannya, sepanjang 2025 dunia investasi dipenuhi gejolak.
Saham sempat naik dan turun tajam, emas memanas, hingga kripto yang mencapai all time high lalu terkoreksi dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat banyak investor mengalami tekanan emosional dan tergoda untuk melakukan transaksi impulsif. Karena itu, memasuki 2026, Dodi menyarankan masyarakat yang ingin hidup lebih tenang untuk mempertimbangkan instrumen yang mampu memberikan passive income stabil dan lebih predictable, tanpa harus memantau harga setiap hari.
Menghitung Target Aset Passive Income
Sebelum memilih instrumen, langkah pertama adalah menghitung kebutuhan aset. Rumus sederhananya, jumlah aset sama dengan target passive income bulanan dikalikan 12, lalu dibagi dengan estimasi return tahunan.
Sebagai contoh, jika seseorang menargetkan passive income Rp5 juta per bulan dari deposito dengan bunga bersih sekitar 2,8 persen per tahun, maka aset yang dibutuhkan mencapai kurang lebih Rp2,14 miliar.
Namun, jika menggunakan saham dengan asumsi dividen 8 persen per tahun, kebutuhan asetnya bisa jauh lebih kecil. Meski demikian, saham memiliki risiko fluktuasi harga yang cukup tinggi.
Dari sini terlihat pola yang jelas. Semakin tinggi return yang diinginkan, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung. Sebaliknya, jika ingin risiko rendah, maka modal yang dibutuhkan cenderung lebih besar atau waktu investasi lebih panjang.
Deposito Bank Digital
Pilihan pertama adalah deposito bank digital. Instrumen ini menawarkan kemudahan karena serba online dan praktis. Namun, suku bunga yang dijamin LPS saat ini berada di kisaran 3,5 persen per tahun. Setelah pajak, return bersihnya sekitar 2,8 persen.
Beberapa bank digital menawarkan bunga hingga 8 persen, tetapi bunga di atas batas LPS tidak dijamin. Untuk memperoleh passive income Rp5 juta per bulan dari deposito bank digital, dibutuhkan modal sekitar Rp2,14 miliar.
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)
Instrumen kedua adalah reksa dana pasar uang. Dana investor dikelola manajer investasi dan ditempatkan pada deposito serta surat berharga jangka pendek. Return RDPU saat ini umumnya berada di atas suku bunga LPS dan tidak dikenakan pajak.
Dengan asumsi return 5,2 persen per tahun, untuk mendapatkan Rp5 juta per bulan dibutuhkan modal sekitar Rp1,15 miliar. Kekurangannya, investor harus menjual unit reksa dana untuk menikmati hasilnya.
Surat Berharga Negara (SBN) Ritel
SBN ritel seperti ORI, SBR, SR, dan ST menjadi pilihan ketiga. Instrumen ini 100 persen dijamin negara dan memberikan kupon bulanan secara tunai. Return bersihnya berada di kisaran 4,6–4,9 persen per tahun, lebih tinggi dibandingkan deposito.
Namun, SBN ritel memiliki tenor menengah hingga panjang. Beberapa seri juga tidak bisa dijual sebelum jatuh tempo, sehingga kurang cocok bagi yang membutuhkan likuiditas cepat.
Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
Pilihan keempat adalah reksa dana pendapatan tetap yang mayoritas dananya ditempatkan pada obligasi. RDPT berpotensi memberikan return lebih tinggi dari RDPU, dengan asumsi sekitar 6,5 persen per tahun.
Keuntungannya bersifat kapital gain dari kenaikan NAB, sehingga investor perlu menjual unit untuk menikmati hasil. RDPT juga bisa mengalami fluktuasi nilai ketika pasar obligasi bergejolak.
Deposito BPR
Instrumen kelima adalah deposito Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Bunga deposito BPR yang dijamin LPS bisa mencapai 6 persen per tahun, lebih tinggi dibandingkan bank umum. Setelah pajak, return bersihnya sekitar 4,8 persen.
Deposito BPR dinilai menarik karena fleksibel, aman, dan dapat menjadi alternatif selain SBN ritel. Kini, penempatan deposito BPR juga bisa dilakukan melalui marketplace digital dengan nominal mulai dari Rp1 juta.
Dengan memahami karakter masing-masing instrumen, masyarakat dapat menyusun portofolio yang seimbang antara risiko dan imbal hasil. Lima pilihan investasi penghasil passive income stabil ini bisa menjadi referensi bagi siapa pun yang ingin memasuki 2026 dengan kondisi finansial lebih tenang dan terencana.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula