Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Hari Ini Sempat Anjlok 2% Lalu Berbalik Menguat, Sentimen OJK hingga PMI Jadi Penopang

Cholifatun Nisak • Kamis, 5 Februari 2026 | 16:50 WIB
IHSG hari ini sempat anjlok 2% lalu berbalik menguat. Sentimen OJK, PMI manufaktur, dan investor asing jadi penopang.
IHSG hari ini sempat anjlok 2% lalu berbalik menguat. Sentimen OJK, PMI manufaktur, dan investor asing jadi penopang.

RADAR TULUNGAGUNG- Pergerakan IHSG hari ini berlangsung sangat dinamis dan penuh kejutan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia sempat tertekan lebih dari 2 persen pada sesi awal perdagangan, sebelum akhirnya berbalik arah dan menguat menjelang penutupan. Volatilitas ini mencerminkan tarik-menarik sentimen global dan domestik yang masih mendominasi pasar saham.

Berdasarkan pantauan perdagangan, IHSG hari ini pada pukul 15.25 WIB tercatat menguat tipis 0,12 persen ke level 8.135. Nilai transaksi tergolong solid dengan total mencapai Rp21,7 triliun. Pergerakan ini menandai pemulihan signifikan setelah indeks sempat berada di zona merah cukup dalam sejak pembukaan pasar.

Penguatan IHSG hari ini tidak terjadi tanpa alasan. Sejumlah sentimen positif dari dalam negeri mulai memberi kepercayaan bagi pelaku pasar, di tengah tekanan global yang masih membayangi pergerakan bursa saham regional dan internasional.

Sentimen OJK Dorong Optimisme Pasar

Salah satu katalis utama datang dari pernyataan anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fauzi. OJK bersama Bursa Efek Indonesia membentuk tim khusus dan membuka hotline pendampingan bagi emiten dalam rangka penerapan kebijakan free float minimum 15 persen.

Kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari rencana kenaikan ambang batas saham beredar di publik yang sebelumnya berada di level 7,5 persen. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat tata kelola pasar modal sekaligus meningkatkan likuiditas saham di bursa.

Pelaku pasar menilai kebijakan free float yang lebih tinggi akan memperbesar porsi saham yang dapat diperdagangkan, sehingga mampu menekan potensi volatilitas ekstrem dan meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia, khususnya bagi investor institusi.

PMI Manufaktur Jadi Penguat dari Sisi Makro

Dari sisi makroekonomi, sentimen positif juga datang dari rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia oleh S&P Global. PMI manufaktur Indonesia tercatat berada di level 52,6 pada Januari 2026, naik signifikan dibandingkan Desember 2025 yang berada di angka 51,2.

Capaian ini menandai fase ekspansi sektor manufaktur selama enam bulan berturut-turut. PMI di atas level 50 menunjukkan aktivitas dunia usaha masih berada dalam tren pertumbuhan, sekaligus menjadi sinyal positif bagi prospek ekonomi nasional dalam jangka menengah.

Data tersebut menjadi penopang penting bagi pergerakan IHSG, terutama di tengah kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global.

Investor Asing Mulai Bersikap Netral

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutianto, menyampaikan bahwa investor asing saat ini mulai bersikap netral terhadap pasar saham Indonesia. Menurutnya, arus keluar dana asing sudah mulai mereda, meskipun investor global belum sepenuhnya agresif kembali masuk ke pasar domestik.

Ia menilai valuasi saham di Indonesia saat ini relatif lebih murah dibandingkan pekan sebelumnya akibat koreksi yang terjadi. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah, data makro yang solid, serta ekspektasi reformasi pasar modal menjadi faktor pendukung meningkatnya minat investor asing.

Namun demikian, investor asing masih melakukan perhitungan ulang untuk menentukan sektor-sektor yang dinilai paling menarik dan sejalan dengan arah kebijakan ke depan.

Pengaruh Bursa Global Masih Terasa

Secara regional, pergerakan IHSG juga sejalan dengan bursa Asia. Indeks Hang Seng tercatat menguat tipis 0,05 persen, sementara Nikkei 225 Jepang naik sekitar 0,7 persen. Meski demikian, tekanan dari bursa global masih terasa cukup kuat.

Di Amerika Serikat, bursa Wall Street ditutup melemah. Dow Jones turun 0,34 persen, S&P 500 terkoreksi 0,43 persen, dan Nasdaq anjlok hingga 1,43 persen. Pelemahan ini dipicu aksi jual pada saham teknologi, dengan investor beralih ke saham-saham yang lebih sensitif terhadap pemulihan ekonomi.

Sejumlah saham teknologi raksasa seperti Microsoft dan Meta Platforms tercatat turun lebih dari 2 persen. Sebaliknya, saham sektor konsumsi seperti Walmart dan PepsiCo justru menguat setelah membukukan kinerja keuangan yang solid.

Bursa Eropa pun mengikuti tren serupa. Indeks FTSE 100 London turun 0,26 persen, sementara DAX Jerman terkoreksi tipis 0,07 persen. Meski tekanan global cukup besar, IHSG mampu bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan, menandakan daya tahan pasar domestik masih cukup kuat.

Editor : Cholifatun Nisak
#investor asing #ihsg hari ini #bursa efek indonesia #PMI manufaktur Indonesia #saham indonesia