Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Buyback Saham Ramai-Ramai! Emiten Kakap Gelontorkan Triliunan Rupiah di Tengah Isu Investability Indonesia

Cholifatun Nisak • Kamis, 5 Februari 2026 | 17:00 WIB
Buyback saham ramai dilakukan emiten besar. Triliunan rupiah digelontorkan demi jaga harga saham di tengah isu investability Indonesia.
Buyback saham ramai dilakukan emiten besar. Triliunan rupiah digelontorkan demi jaga harga saham di tengah isu investability Indonesia.

 

RADAR TULUNGAGUNG- Aksi buyback saham kembali ramai dilakukan emiten-emiten besar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini muncul di tengah tekanan pasar yang dipicu kekhawatiran investor terhadap isu investability Indonesia sebagaimana disoroti oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Buyback dinilai menjadi sinyal kuat untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus menahan laju pelemahan harga saham saat volatilitas meningkat.

Sejumlah emiten tercatat telah mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai fantastis. Kebijakan relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menjadi katalis, karena memungkinkan emiten melakukan pembelian kembali saham tanpa melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kondisi ini membuat aksi korporasi tersebut bisa dieksekusi lebih cepat di tengah tekanan pasar.

Bank Central Asia (BCA) tercatat menjadi emiten dengan alokasi dana buyback terbesar, mencapai Rp5 triliun. Disusul Barito Renewables Energy dan Chandra Asri Pacific yang masing-masing menyiapkan dana hingga Rp2 triliun. Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BNI) menganggarkan Rp1,5 triliun, serta Barito Pasifik sebesar Rp1 triliun. Deretan aksi buyback saham ini menunjukkan keseriusan emiten dalam menjaga stabilitas harga sahamnya.

Buyback Jadi Penopang Pasar Saham

Selain emiten berkapitalisasi besar, sejumlah perusahaan lain juga ikut meramaikan aksi ini. Petrindo Jaya Kreasi, Impack Pratama Industri, Sarana Menara Nusantara, hingga Allo Bank Indonesia menyiapkan dana buyback dengan nilai ratusan miliar rupiah. Mayoritas aksi buyback dijadwalkan berlangsung pada periode Februari hingga Mei 2026, menggunakan dana kas internal masing-masing perseroan.

Platform investasi Stokbit mencatat, dukungan pasar tidak hanya datang dari buyback, tetapi juga dari aksi pembelian saham oleh pemegang saham pengendali serta jajaran direksi dan komisaris. Langkah tersebut mencerminkan optimisme manajemen terhadap fundamental dan valuasi perusahaan di tengah tekanan eksternal.

Meski demikian, pelaku pasar menilai sentimen positif ini masih membutuhkan dukungan kebijakan lanjutan. Isu MSCI terkait investability Indonesia dinilai tetap menjadi faktor krusial yang memengaruhi arah pergerakan pasar ke depan. Tanpa respons konkret dari regulator, volatilitas masih berpotensi berlanjut.

Barito Pasifik Fokus Buyback Bertahap

Salah satu emiten yang mencuri perhatian adalah PT Barito Pasifik Tbk (BRPT). Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, BRPT mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal Rp1 triliun. Dana tersebut akan dialokasikan secara bertahap dan seluruhnya bersumber dari kas internal perseroan.

Manajemen BRPT menegaskan, dana buyback berasal dari dana lebih dan tidak akan mengganggu operasional perusahaan. Pelaksanaan buyback direncanakan berlangsung selama tiga bulan, terhitung mulai 4 Februari hingga 3 Mei 2026. Perseroan juga memastikan pelaksanaan buyback tetap mengacu pada ketentuan POJK Nomor 13 Tahun 2023 serta aturan terkait batas minimal saham free float.

Dampak Buyback terhadap Saham BRPT

Secara teknikal, saham BRPT merespons positif rencana tersebut. Pada perdagangan terbaru, saham BRPT tercatat menguat lebih dari 6 persen dan menjadi salah satu penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham BRPT sempat menyentuh level tertinggi intraday di Rp2.170 per saham, sebelum akhirnya ditutup menguat di zona hijau.

Dalam beberapa bulan terakhir, pergerakan saham BRPT memang cenderung tertekan, terutama setelah IHSG sempat mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt sebanyak dua kali. Namun, aksi buyback dinilai mampu memulihkan kepercayaan investor, terutama di tengah valuasi saham yang dinilai semakin menarik.

Dari sisi fundamental, BRPT disebut memiliki modal kerja dan arus kas yang memadai untuk membiayai aksi korporasi tersebut. Buyback akan dilakukan pada harga yang dianggap wajar oleh manajemen, dengan menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai perantara transaksi di BEI.

Pasar Masih Dibayangi Faktor Global

Di luar aksi buyback, pasar keuangan domestik masih dibayangi faktor global. Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif mengikuti pergerakan indeks dolar Amerika Serikat. Sementara itu, harga emas dunia kembali melonjak lebih dari 2 persen, sedangkan harga minyak menguat akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Pelaku pasar berharap, kombinasi aksi buyback saham, dukungan regulator, serta stabilisasi faktor global dapat menjadi penopang pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Editor : Cholifatun Nisak
#buyback saham #ihsg #emiten BEI #Barito Pasifik #investability Indonesia