Setelah mencatatkan all time high di level 5.590 dolar AS per ons pada akhir Januari, harga emas mengalami tekanan pada awal Februari. Di dalam negeri, harga emas Antam bahkan sempat menyentuh rekor sekitar Rp3.168.000 per gram sebelum akhirnya terkoreksi cukup dalam.
Koreksi harga emas terjadi pada akhir pekan lalu. Harga logam mulia 24 karat produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sempat anjlok hingga Rp260.000 per gram dan turun ke posisi Rp2.860.000 per gram pada Sabtu dan Minggu. Penurunan ini mengejutkan pasar setelah reli panjang yang terjadi sepanjang Januari.
Sempat Bangkit di Awal Pekan
Meski terkoreksi tajam, harga emas kembali menunjukkan pemulihan di awal pekan. Pada 2 Februari 2026, harga emas 24 karat produksi Antam melonjak kembali ke kisaran Rp3.270.000 per gram.
Naik turunnya harga emas dalam waktu singkat tersebut menunjukkan tingginya volatilitas pasar logam mulia. Pergerakan ini kerap dipengaruhi oleh dinamika harga emas global, sentimen ekonomi dunia, hingga pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Fluktuasi harga emas seperti ini sering dimanfaatkan spekulan untuk mencari cuan cepat. Namun para ahli keuangan mengingatkan agar investor tidak terjebak pada euforia sesaat.
Pakar: Emas Bukan Instrumen Spekulasi
Certified Financial Planner dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Puput Triomalasari, menegaskan bahwa investasi emas sebaiknya tidak ditujukan untuk mencari keuntungan jangka pendek.
Menurutnya, fenomena fear of missing out (FOMO) sering terjadi ketika harga emas turun tajam. Banyak orang tergoda membeli hanya karena takut ketinggalan momentum, bukan karena perencanaan keuangan yang matang.
“Kalau sekarang waktunya emas turun lalu orang membeli karena FOMO, itu bukan sesuatu yang disarankan. Ini berbeda dengan saham. Emas lebih cocok untuk tujuan jangka panjang,” ujarnya.
Puput menekankan bahwa investasi logam mulia idealnya dipersiapkan untuk kebutuhan minimal lima tahun ke depan. Misalnya untuk dana pendidikan anak, persiapan uang muka rumah, atau tujuan finansial besar lainnya.
Diversifikasi Tetap Penting
Di tengah fluktuasi harga emas yang tidak menentu, investor juga diimbau untuk tidak menempatkan seluruh dana hanya pada satu instrumen. Diversifikasi portofolio menjadi kunci menjaga stabilitas nilai kekayaan.
Menurut Puput, emas memang layak dimiliki sebagai bagian dari portofolio karena berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun sebagian dana tetap perlu dialokasikan ke instrumen lain seperti reksa dana atau investasi berbasis pasar modal.
“Untuk jangka panjang, sebaiknya setiap orang memiliki sebagian portofolionya di emas. Tetapi tetap perlu ada instrumen lain sebagai stabilisator dan untuk meningkatkan pertumbuhan kekayaan,” jelasnya.
Dengan strategi tersebut, risiko akibat gejolak harga emas dapat diminimalkan. Investor pun tidak terlalu panik ketika terjadi koreksi tajam seperti penurunan Rp260.000 per gram yang terjadi baru-baru ini.
Emas Tetap Relevan sebagai Safe Haven
Meski mengalami fluktuasi, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat Indonesia. Karakteristiknya sebagai safe haven membuat logam mulia banyak diburu saat kondisi ekonomi global tidak stabil.
Kenaikan permintaan di pasaran juga sempat terjadi setelah harga terkoreksi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian investor memanfaatkan momentum penurunan sebagai peluang akumulasi.
Namun kembali ditegaskan, strategi investasi emas yang bijak adalah berorientasi jangka panjang. Harga emas bisa naik dan turun dalam waktu singkat, tetapi dalam tren panjang, logam mulia cenderung mempertahankan nilai terhadap inflasi.
Dengan memahami karakteristik tersebut, masyarakat dapat mengambil keputusan investasi yang lebih rasional. Bukan sekadar ikut-ikutan tren, melainkan berdasarkan tujuan keuangan yang jelas dan terencana.
Editor : Fadhilah Salsa Bella