Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Emas Sempat Anjlok Rp260.000 Usai Rekor Tertinggi, Pakar Ingatkan Strategi Investasi Emas Jangka Panjang

Fadhilah Salsa Bella • Kamis, 5 Februari 2026 | 14:20 WIB

Harga emas sempat anjlok Rp260.000 usai rekor tertinggi. Simak strategi investasi emas jangka panjang dari pakar keuangan.
Harga emas sempat anjlok Rp260.000 usai rekor tertinggi. Simak strategi investasi emas jangka panjang dari pakar keuangan.
RADAR TULUNGAGUNG - Harga emas kembali menjadi perbincangan hangat setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada akhir Januari 2026. Namun memasuki awal Februari, harga emas justru mengalami koreksi tajam. Fluktuasi harga emas ini memicu aksi beli dan jual di pasar, terutama dari investor yang memburu keuntungan jangka pendek.

Setelah mencatatkan all time high di level 5.590 dolar AS per ons pada akhir Januari, harga emas mengalami tekanan pada awal Februari. Di dalam negeri, harga emas Antam bahkan sempat menyentuh rekor sekitar Rp3.168.000 per gram sebelum akhirnya terkoreksi cukup dalam.

Koreksi harga emas terjadi pada akhir pekan lalu. Harga logam mulia 24 karat produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sempat anjlok hingga Rp260.000 per gram dan turun ke posisi Rp2.860.000 per gram pada Sabtu dan Minggu. Penurunan ini mengejutkan pasar setelah reli panjang yang terjadi sepanjang Januari.

Baca Juga: KPK Gelar OTT di Jakarta dan Lampung, Mantan Direktur Bea Cukai Diamankan Dengan Uang Milyaran serta Emas

Sempat Bangkit di Awal Pekan

Meski terkoreksi tajam, harga emas kembali menunjukkan pemulihan di awal pekan. Pada 2 Februari 2026, harga emas 24 karat produksi Antam melonjak kembali ke kisaran Rp3.270.000 per gram.

Naik turunnya harga emas dalam waktu singkat tersebut menunjukkan tingginya volatilitas pasar logam mulia. Pergerakan ini kerap dipengaruhi oleh dinamika harga emas global, sentimen ekonomi dunia, hingga pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Fluktuasi harga emas seperti ini sering dimanfaatkan spekulan untuk mencari cuan cepat. Namun para ahli keuangan mengingatkan agar investor tidak terjebak pada euforia sesaat.

Pakar: Emas Bukan Instrumen Spekulasi

Certified Financial Planner dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Puput Triomalasari, menegaskan bahwa investasi emas sebaiknya tidak ditujukan untuk mencari keuntungan jangka pendek.

Menurutnya, fenomena fear of missing out (FOMO) sering terjadi ketika harga emas turun tajam. Banyak orang tergoda membeli hanya karena takut ketinggalan momentum, bukan karena perencanaan keuangan yang matang.

“Kalau sekarang waktunya emas turun lalu orang membeli karena FOMO, itu bukan sesuatu yang disarankan. Ini berbeda dengan saham. Emas lebih cocok untuk tujuan jangka panjang,” ujarnya.

Puput menekankan bahwa investasi logam mulia idealnya dipersiapkan untuk kebutuhan minimal lima tahun ke depan. Misalnya untuk dana pendidikan anak, persiapan uang muka rumah, atau tujuan finansial besar lainnya.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 5 Februari 2026 Turun Rp17.000, Emas Antam Kini Rp2.956.000 per Gram, Buyback Ikut Melemah

Diversifikasi Tetap Penting

Di tengah fluktuasi harga emas yang tidak menentu, investor juga diimbau untuk tidak menempatkan seluruh dana hanya pada satu instrumen. Diversifikasi portofolio menjadi kunci menjaga stabilitas nilai kekayaan.

Menurut Puput, emas memang layak dimiliki sebagai bagian dari portofolio karena berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun sebagian dana tetap perlu dialokasikan ke instrumen lain seperti reksa dana atau investasi berbasis pasar modal.

“Untuk jangka panjang, sebaiknya setiap orang memiliki sebagian portofolionya di emas. Tetapi tetap perlu ada instrumen lain sebagai stabilisator dan untuk meningkatkan pertumbuhan kekayaan,” jelasnya.

Dengan strategi tersebut, risiko akibat gejolak harga emas dapat diminimalkan. Investor pun tidak terlalu panik ketika terjadi koreksi tajam seperti penurunan Rp260.000 per gram yang terjadi baru-baru ini.

Emas Tetap Relevan sebagai Safe Haven

Meski mengalami fluktuasi, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat Indonesia. Karakteristiknya sebagai safe haven membuat logam mulia banyak diburu saat kondisi ekonomi global tidak stabil.

Kenaikan permintaan di pasaran juga sempat terjadi setelah harga terkoreksi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian investor memanfaatkan momentum penurunan sebagai peluang akumulasi.

Namun kembali ditegaskan, strategi investasi emas yang bijak adalah berorientasi jangka panjang. Harga emas bisa naik dan turun dalam waktu singkat, tetapi dalam tren panjang, logam mulia cenderung mempertahankan nilai terhadap inflasi.

Dengan memahami karakteristik tersebut, masyarakat dapat mengambil keputusan investasi yang lebih rasional. Bukan sekadar ikut-ikutan tren, melainkan berdasarkan tujuan keuangan yang jelas dan terencana.

Baca Juga: Dari Anak Tiri hingga Mengerikan: Transformasi Timnas Futsal Indonesia Piala Asia Futsal 2026 yang Kini Ditakuti Asia

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#emas antam #harga emas #investasi emas #strategi investasi #logam mulia