RADAR TULUNGAGUNG – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan sinyal positif pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026.
IHSG tercatat menguat di kisaran 0,35 persen pada awal sesi, seiring membaiknya sentimen pasar terhadap saham konglomerasi, komoditas emas, serta sejumlah saham berkapitalisasi besar yang dinilai memiliki valuasi menarik.
Vice President Infovesta, Wawan Hendrayana, mengungkapkan bahwa saham-saham konglomerasi mulai kembali dilirik investor setelah sempat mengalami tekanan akibat isu peninjauan regulator dan dinamika terkait indeks MSCI.
Saham-saham tersebut sebelumnya banyak mengalami auto reject bawah (ARB), namun kini mulai menunjukkan tanda-tanda rebound.
Menurut Wawan, meskipun ada aksi jual pada sebagian saham konglomerasi, minat beli investor belum sepenuhnya hilang. Hal ini terlihat dari mulai munculnya penguatan pada beberapa saham yang sebelumnya tertekan cukup dalam.
“Ketika investor ingin masuk ke saham-saham konglomerasi, tetap perlu memperhatikan tiga hal utama, yaitu fundamental perusahaan, prospek bisnis, dan likuiditas sahamnya,” ujar Wawan.
Ia menegaskan bahwa tidak semua saham konglomerasi berada dalam kondisi profit. Beberapa emiten masih mencatatkan kerugian sehingga investor perlu lebih selektif sebelum melakukan pembelian.
IHSG Masih Berpeluang Lanjut Menguat
Pada awal perdagangan hari ini, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di sekitar 8.151. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 300 saham yang menguat, sekitar 170 saham melemah, dan sisanya stagnan. Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar yang relatif konstruktif.
Wawan menyebutkan, level 8.000 menjadi area support kuat bagi IHSG. Selama indeks mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan lanjutan masih terbuka.
“Jika IHSG tidak turun di bawah 8.000, ada potensi di pekan ini kembali menuju area 8.300. Resistance terdekat ada di kisaran 8.200,” jelasnya.
Harga Emas Rebound, Saham Emas Ikut Menguat
Selain saham konglomerasi, perhatian pasar juga tertuju pada komoditas emas. Setelah sempat terkoreksi tajam dari level 5.400–5.500 per ons hingga di bawah 5.000, harga emas kini kembali rebound ke area 5.000-an.
Kondisi tersebut langsung berdampak positif pada saham-saham emiten emas, yang pada perdagangan hari ini tercatat mengalami kenaikan di atas 3 persen.
Menurut Wawan, pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh persepsi risiko global. Ketika risiko meningkat, emas cenderung diburu oleh bank sentral maupun investor ritel.
Sebaliknya, saat risiko menurun dan dolar AS menguat, harga emas berpotensi terkoreksi.
“Tren jangka panjang emas masih cenderung naik, sehingga bisa dipertimbangkan untuk investasi. Namun investor tetap perlu menerapkan trailing stop, baik untuk profit maupun cut loss,” tegasnya.
Rekomendasi Saham Pilihan: BSDE, PWON, BBRI, dan SMGR
Dalam sesi dialog tersebut, Wawan juga menyampaikan empat saham pilihan yang dinilai menarik untuk dicermati, yakni BSDE, PWON, BBRI, dan SMGR.
Untuk sektor properti, Wawan menilai valuasi saham-sahamnya sudah sangat murah, dengan rata-rata price to book value (PBV) di bawah satu. Namun, pemulihan sektor ini masih bergantung pada insentif pemerintah, perbaikan daya beli masyarakat, serta keberlanjutan profit perusahaan.
Secara khusus, BSDE dinilai relatif stabil meskipun sempat terjadi gejolak pasar. Porsi kepemilikan asing yang kecil serta harga saham yang sudah rendah menjadi faktor penopang.
Sementara itu, PWON juga berada di dekat level terendah dalam tiga tahun terakhir, padahal perusahaan masih mencatatkan laba. Saham ini lebih cocok untuk investor jangka panjang yang mengharapkan pemulihan sektor properti seiring pertumbuhan ekonomi.
Untuk sektor perbankan, BBRI dinilai paling menarik di antara bank-bank Himbara. Selain paling profitable, BBRI juga memiliki daya tarik dividen yang kompetitif.
“BBRI berpotensi tetap diburu investor domestik, apalagi jika pemerintah meningkatkan porsi kepemilikan saham perbankan,” kata Wawan.
Adapun SMGR saat ini berada pada level yang sangat rendah dibandingkan puncaknya di tahun 2021. Dengan rencana kembalinya anggaran pembangunan infrastruktur, permintaan semen diharapkan meningkat sehingga berpotensi mendorong kinerja SMGR ke depan.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Wawan menekankan pentingnya disiplin dalam manajemen risiko, terutama di tengah volatilitas pasar yang masih cukup tinggi. Investor disarankan tidak hanya tergiur kenaikan harga, tetapi juga memahami kondisi fundamental dan prospek jangka panjang emiten.
Dengan kombinasi sentimen positif dari rebound saham konglomerasi, penguatan harga emas, serta peluang lanjutan kenaikan IHSG, pasar saham domestik dinilai masih menyimpan peluang menarik bagi investor yang cermat dan selektif.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula