Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kapitalisasi Pasar Kripto Anjlok Rp2.857 Triliun dalam Sepekan, Harga Bitcoin Terjun Bebas dan Status Emas Digital Dipertanyakan

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 5 Februari 2026 | 17:35 WIB

Kapitalisasi pasar kripto anjlok Rp2.857 triliun dalam sepekan, harga Bitcoin jatuh 40 persen dan status emas digital dipertanyakan.
Kapitalisasi pasar kripto anjlok Rp2.857 triliun dalam sepekan, harga Bitcoin jatuh 40 persen dan status emas digital dipertanyakan.

RADAR TULUNGAGUNG – Kapitalisasi pasar kripto anjlok Rp2.857 triliun dalam sepekan terakhir seiring berlanjutnya aksi jual besar-besaran yang dipimpin oleh Bitcoin.

Tekanan jual yang semakin intens membuat harga Bitcoin jatuh ke level terendah dalam 15 bulan terakhir dan kembali memicu perdebatan soal statusnya sebagai “emas digital”.

Berdasarkan data CoinGecko, total kapitalisasi pasar aset kripto telah menyusut sebesar US$467,6 miliar sejak 29 Januari 2026.

Dalam periode tersebut, Bitcoin sebagai aset kripto terbesar dunia menjadi motor utama pelemahan, diikuti oleh berbagai altcoin utama lainnya. Kapitalisasi pasar kripto anjlok Rp2.857 triliun ini menandai salah satu koreksi terdalam dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar pada akhir 2024 lalu, ketika kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat sempat memicu optimisme akan kebijakan pemerintah AS yang lebih ramah terhadap aset kripto.

Namun, realitas pasar menunjukkan bahwa sentimen positif tersebut belum mampu menahan tekanan jual yang masif.

Baca Juga: Badai PHK Honorer 2026: Nasib Ribuan Tenaga Honorer Terancam Hanya Karena Administrasi BKN

Harga Bitcoin Sentuh Level Terendah 15 Bulan

Harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah di kisaran US$72.877 per keping pada perdagangan di Amerika Serikat. Meski sempat mengalami pemulihan terbatas dan diperdagangkan di sekitar US$74.800, tekanan kembali muncul.

Pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026, harga Bitcoin tercatat anjlok ke level US$72.323,04 per keping. Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Secara keseluruhan, harga Bitcoin kini telah turun sekitar 40 persen sejak mencapai rekor tertinggi pada awal Oktober. Penurunan tajam ini salah satunya dipicu oleh rangkaian likuidasi besar pada 10 Oktober yang menghapus posisi token senilai sekitar US$19 miliar.

Kepala analis pasar FxPro, Alex Kuptsikevich, menilai pola pergerakan harga Bitcoin masih menunjukkan dominasi tekanan jual.

“Meskipun terjadi sedikit pemulihan, rangkaian titik tertinggi dan terendah lokal yang lebih rendah menunjukkan bahwa aksi jual saat harga naik masih dominan di pasar,” ujarnya.

Baca Juga: Syarat Klaim JKM BPJS Ketenagakerjaan 2026 Lengkap! Ahli Waris Wajib Siapkan Akta Kematian, Surat Pernyataan, hingga Paklaring untuk Penerima Upah

Keraguan Terhadap Bitcoin sebagai Emas Digital

Tekanan di pasar kripto terjadi bersamaan dengan meningkatnya gejolak di pasar global. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi.

Berbeda dengan emas yang mulai kembali menemukan pembeli setelah sempat melemah, aset kripto justru gagal menarik minat sebagai instrumen lindung nilai.

Kondisi ini kembali memunculkan keraguan terhadap narasi Bitcoin sebagai “emas digital”.

Investor ternama Michael Burry menilai Bitcoin belum menunjukkan fungsi sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Menurutnya, pergerakan Bitcoin saat ini lebih mencerminkan karakter sebagai aset spekulatif dibandingkan safe haven.

Sejalan dengan itu, analis Deutsche Bank dalam laporannya menyebut pergerakan harga terbaru menandai berakhirnya fase spekulatif ekstrem di pasar kripto.

Aksi jual besar-besaran dinilai mencerminkan kombinasi sikap hawkish bank sentral AS, arus keluar dana institusional, menipisnya likuiditas, serta melambatnya momentum regulasi.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 3 Februari 2026 Terjun Bebas, Antam Anjlok Rp183 Ribu, Waktu Tepat Beli atau Jual?

Likuidasi Derivatif dan Arus Dana ETF Berfluktuasi

Tekanan pasar juga tercermin dari tingginya likuidasi di pasar derivatif kripto. Dalam 24 jam terakhir, likuidasi posisi bullish dan bearish di pasar perpetual futures tercatat melampaui US$700 juta. Secara kumulatif, nilai likuidasi sejak 29 Januari telah mencapai lebih dari US$6,67 miliar berdasarkan data CoinGlass.

Sementara itu, arus dana pada ETF Bitcoin yang terdaftar di Amerika Serikat masih bergerak fluktuatif. Setelah mencatat arus masuk bersih sekitar US$562 juta pada Senin, investor justru menarik dana sekitar US$272 juta pada Selasa.

CEO Galaxy Digital LP, Michael Novogratz, menilai perubahan sentimen investor turut berperan besar dalam tekanan pasar kripto. Ia menyebut keyakinan bahwa Bitcoin akan selalu naik dalam jangka panjang mulai melemah, sehingga mendorong investor melakukan aksi jual.

Pasar Kripto Masih Diliputi Ketidakpastian

Dengan kombinasi tekanan makroekonomi, faktor geopolitik, serta perubahan sentimen investor, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam menempatkan dana.

Koreksi tajam yang membuat kapitalisasi pasar kripto anjlok Rp2.857 triliun menjadi pengingat bahwa aset digital tetap memiliki risiko tinggi, meskipun adopsi institusional terus berkembang.

Ke depan, arah pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya akan sangat bergantung pada stabilitas global, kebijakan moneter, serta kejelasan regulasi.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#pasar kripto global #emas digital #harga Bitcoin hari ini #kapitalisasi pasar kripto #bitcoin anjlok