Aktivitas transaksi didominasi saham perbankan besar. BBRI, BBCA, dan BMRI kembali menjadi top value, menandakan rotasi dana masih berputar di saham-saham berkapitalisasi jumbo. Namun dominasi ini belum cukup kuat untuk mengangkat IHSG secara berkelanjutan. Setelah sempat mencoba menguat di awal sesi, indeks kembali melemah karena tekanan jual yang konsisten hingga penutupan.
Saham-saham lain seperti ANTM, PTRO, TLKM, MDKA, hingga ADRO juga tercatat aktif diperdagangkan. Namun pergerakannya cenderung fluktuatif. ADRO kembali melemah, sementara sebagian investor masih menunggu harga turun ke area yang lebih rendah. Di sisi lain, BUMI yang sebelumnya sempat mendominasi transaksi, kini volumenya menyusut tajam ke kisaran Rp1 triliun, mencerminkan ketidakpastian arah pergerakan saham tersebut.
Baca Juga: 20 Saham Terbaik untuk Investasi 2026 Versi Analis Tokopedia, Dari Energi hingga Perbankan Big Four
Outlook Indonesia Dipangkas Moody’s, Sentimen Pasar Memburuk
Sentimen negatif pasar diperkuat oleh keputusan Moody’s Investors Service yang memangkas outlook peringkat kredit Indonesia dari stable menjadi negative, meski tetap mempertahankan rating di level Baa2. Informasi ini diketahui berasal dari laporan yang dirilis akhir Januari 2026.
Bagi pelaku pasar modal, perubahan outlook ini menjadi sinyal peringatan. Jika investor asing menjadikan rating lembaga pemeringkat global sebagai acuan, maka potensi tekanan jual bisa berlanjut hingga periode evaluasi berikutnya, termasuk menunggu keputusan MSCI pada Mei 2026. Kondisi ini membuat IHSG berpotensi bergerak volatil dan belum menunjukkan arah yang jelas dalam jangka pendek.
Saham Dividen dan Konglomerasi Rontok
Tekanan pasar paling terasa pada saham-saham dividen dan konglomerasi. Sejumlah saham tercatat mengalami koreksi tajam, antara lain NRCA, ADMR, ELITE, ARCH, SOHO, MINA, BNBR, LT, hingga EXCL. Saham-saham konglomerasi bahkan mencatatkan penurunan ekstrem, dengan beberapa saham terkoreksi belasan persen dalam satu hari.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi investor yang menggunakan margin. Dalam beberapa kasus ekstrem, nilai portofolio dilaporkan tergerus drastis akibat forced sell. Situasi ini mempertegas pentingnya manajemen risiko, terutama di tengah pasar yang masih sarat tekanan.
NRCA Turun 63 Persen, Sudah Murah atau Masih Mahal?
Salah satu saham yang menjadi sorotan adalah NRCA (Nusa Raya Cipta). Saham ini telah turun sekitar 63 persen dari puncak harga tertingginya. Padahal sebelumnya, NRCA dikenal sebagai saham rajin membagikan dividen dengan yield menarik.
Namun demikian, dari sudut pandang valuasi dividen, harga saat ini dinilai belum sepenuhnya murah. Untuk mencapai yield dividen ideal di kisaran 9 persen, harga saham NRCA diperkirakan perlu turun hingga mendekati level Rp500-an. Saat ini, yield dividen masih berada di kisaran 5–6 persen, sehingga secara risk-reward belum terlalu menarik bagi investor dividen jangka panjang.
Secara fundamental, laporan keuangan NRCA sebenarnya tidak menunjukkan penurunan signifikan. Kinerja tahunan relatif stabil, laba bersih masih tumbuh, dan historis dividen tetap terjaga. Namun pergerakan harga saham menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bergerak rasional dan sangat dipengaruhi sentimen serta psikologi pelaku pasar.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas IHSG
Dalam kondisi IHSG tertekan dan volatilitas tinggi, investor diimbau untuk tidak terjebak FOMO. Investor dengan orientasi dividen dinilai memiliki ruang bernapas lebih panjang karena strategi ini cenderung berjangka panjang dan tidak terlalu reaktif terhadap fluktuasi harian.
Sebaliknya, investor jangka pendek perlu lebih waspada terhadap potensi penurunan lanjutan, terutama pada saham-saham yang belum menunjukkan akumulasi kuat dari pelaku besar. Selama tekanan asing masih berlanjut dan sentimen global belum membaik, pasar diperkirakan masih akan bergerak penuh kehati-hatian.
Editor : Natasha Eka Safrina