Setelah kejatuhan tajam pada 28–29 Januari akibat keputusan MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada 6 Februari menyusul penurunan peringkat risiko Indonesia oleh lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat, Moody’s.
Kondisi IHSG crash ini diperparah oleh sentimen global yang negatif.
Bursa regional kompak melemah, sementara pasar Amerika Serikat juga ditutup merah pada perdagangan sebelumnya.
Situasi tersebut menciptakan efek domino yang memicu kekhawatiran lanjutan di kalangan investor domestik, terutama mereka yang masih memiliki posisi besar di saham.
Baca Juga: Wujudkan Keindahan Kota, DLH Tulungagung Kosek Jalan dan Trotoar Alun-Alun Libatkan Puluhan Personel
Asal Muasal IHSG Crash
IHSG crash yang terjadi dalam dua gelombang ini berawal dari keputusan MSCI yang melakukan freeze rebalancing saham Indonesia.
Langkah tersebut diambil karena isu transparansi data, meski MSCI sejatinya telah memberikan peringatan sejak beberapa bulan sebelumnya.
Sejak munculnya peringatan tersebut, saham-saham dengan narasi masuk indeks MSCI sebenarnya sudah berada dalam fase rawan.
Ketika keputusan resmi diumumkan, saham-saham berlabel narasi MSCI menjadi yang paling terpukul. Banyak di antaranya mengalami penurunan tajam hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).
Investor yang sempat melakukan ambil untung sebelum pengumuman dinilai berada pada posisi lebih aman dibanding mereka yang masih menahan saham-saham tersebut.
Moody’s dan Efek Domino Sentimen Negatif
Tekanan belum berhenti di situ. Pada awal Februari, Moody’s menurunkan penilaian risiko Indonesia.
Sentimen ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa tekanan terhadap IHSG belum selesai. Dalam kondisi seperti ini, berita negatif cenderung muncul beruntun sebagai lanjutan dari pemicu awal.
Saham-saham dengan karakter volatil, khususnya yang dikaitkan dengan narasi besar seperti MSCI, dinilai akan kembali tertekan lebih dalam dibandingkan IHSG secara keseluruhan.
Karena itu, investor disarankan tidak terburu-buru mencoba menangkap peluang di tengah penurunan tajam atau yang kerap disebut “menangkap pisau jatuh”.
Baca Juga: Abad Kedua NU sebagai Lokomotif Peradaban Dunia
Kurangi Saham Narasi MSCI
Dalam menghadapi IHSG crash, langkah pertama yang disarankan adalah mengurangi eksposur terhadap saham-saham dengan narasi MSCI.
Ketidakpastian masih tinggi, mengingat keputusan final MSCI baru akan diketahui menjelang Mei mendatang.
Bahkan jika nantinya MSCI kembali membuka peluang bagi saham Indonesia, emiten tetap membutuhkan waktu untuk menata ulang struktur kepemilikan agar kembali memenuhi kriteria.
Artinya, pemulihan cepat menuju level tertinggi sebelumnya dinilai kecil kemungkinannya. Investor disarankan lebih selektif dan realistis dalam mengelola ekspektasi.
Saham Fundamental Non-MSCI Play
Setelah mengurangi risiko dari saham MSCI play, investor dapat mulai melirik saham-saham fundamental yang tidak terkait langsung dengan indeks tersebut.
Namun perlu dicatat, saham fundamental tidak selalu aman dari tekanan. Contohnya saham perbankan besar seperti BBCA yang meskipun memiliki fundamental kuat, tetap terdampak karena tergabung dalam MSCI Global Standard Index.
Sebagai pembanding, saham ASGR menjadi contoh saham fundamental non-MSCI play yang mampu bertahan bahkan mencetak kinerja impresif di tengah gejolak pasar.
Saham ini sempat naik bertahap, mengalami koreksi wajar, hingga akhirnya mencapai dan melampaui harga wajar berdasarkan valuasi fundamentalnya, bahkan saat IHSG mengalami tekanan hebat.
Pelajaran dari ASGR
Pergerakan ASGR menunjukkan bahwa saham dengan fundamental solid dan valuasi menarik cenderung lebih resilien saat market crash.
Meski sempat mengalami drawdown hingga belasan persen, saham ini kembali terapresiasi seiring pasar menyadari nilainya.
Dalam jangka menengah sekitar enam bulan, saham tersebut mampu mencatatkan kenaikan signifikan.
Namun, ketika harga sudah melewati nilai wajarnya, investor berbasis value investing disarankan mulai mengurangi porsi kepemilikan.
Cash Is King di Tengah Ketidakpastian
Tips penting lainnya dalam menghadapi IHSG crash adalah menjaga porsi kas. Dalam kondisi pasar bearish, cash menjadi aset paling berharga.
Investor disarankan tidak melakukan aksi all in, apalagi menggunakan margin, karena risiko volatilitas masih sangat tinggi.
Banyak pelaku pasar besar maupun ritel diketahui masih terjebak akibat crash sebelumnya. Oleh karena itu, tidak masalah jika investor melewatkan harga terendah.
Stabilitas psikologis dan manajemen risiko dinilai jauh lebih penting dibanding mengejar keuntungan cepat.
Di tengah tekanan pasar, momen ini justru bisa dimanfaatkan untuk menyusun watchlist saham-saham fundamental berkualitas yang valuasinya menjadi lebih murah akibat sentimen negatif.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo