Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencetak rekor menembus level 9.000 sepanjang 2025, kini harus terkoreksi tajam hingga kembali ke bawah level 8.000.
Kondisi ini dipicu oleh isu penilaian dan kebijakan MSCI terhadap pasar modal Indonesia, yang memicu aksi jual besar-besaran investor.
Tekanan tersebut bahkan membuat IHSG mengalami trading halt dua hari berturut-turut setelah anjlok lebih dari 8 persen.
Dampaknya, sentimen pasar berubah drastis dan memicu kekhawatiran, khususnya di kalangan investor ritel dan generasi muda yang baru terjun ke pasar saham.
Baca Juga: Yamaha Gebrak Maksimal di Panggung IIMS 2026, Pamerkan Model Terbaru dan Rayakan Momen Istimewa
IHSG Anjlok, MSCI Bukan Isu Baru
Investor sekaligus influencer saham Benny Batara atau Benix menegaskan bahwa isu MSCI sejatinya bukan kejutan.
Menurutnya, sinyal koreksi pasar sudah terlihat sejak akhir 2025. Bahkan, ia mengklaim telah memprediksi potensi crash pasar pada kuartal pertama 2026.
“Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Warning MSCI sudah muncul sejak tahun lalu. Market crash di Q1 itu skenario yang sudah bisa dibaca,” ujar Benny dalam podcast The Cuan IDX Channel.
Ia menyebut koreksi pasar justru menjadi fase wajar dalam siklus pasar modal, terutama setelah reli panjang IHSG sepanjang 2025.
Dampak MSCI dan Aksi Outflow Asing
Keputusan MSCI berdampak langsung pada arus modal asing.
Benny memproyeksikan potensi outflow asing hingga Rp39 triliun pada tahap awal, dan bisa membengkak hingga Rp131 triliun apabila Indonesia gagal memenuhi evaluasi lanjutan MSCI pada Mei 2026.
Namun hingga awal Februari, realisasi outflow masih di bawah Rp10 triliun. Artinya, pemerintah dan regulator masih memiliki ruang untuk meredam tekanan dengan langkah-langkah perbaikan struktural.
Reformasi Bursa dan OJK Jadi Kunci
Isu MSCI turut memicu mundurnya sejumlah pejabat penting di Bursa Efek Indonesia dan OJK, yang dinilai sebagai momentum langka untuk reformasi total pasar modal.
Benny menilai langkah ini justru positif.
Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32
“Ini momen bersih-bersih. Regulasi harus diperbaiki, transparansi kepemilikan saham diperketat, dan emiten yang tidak layak IPO harus disaring lebih ketat,” tegasnya.
Salah satu sorotan utama MSCI adalah rendahnya free float saham, yang selama ini membuka celah manipulasi harga.
Regulasi terbaru yang menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen dinilai sebagai langkah awal menuju pasar yang lebih sehat.
Investor Lokal Diminta Manfaatkan Momentum
Di tengah gejolak IHSG akibat MSCI, Benny justru mengajak investor untuk tetap rasional dan melihat peluang. Ia menekankan prinsip klasik investasi: beli saat pasar terkoreksi.
“Investor sejati justru senang melihat harga turun. Ini momen diskon besar. Jangan panik, tapi gunakan data dan logika,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi pertumbuhan investor domestik yang masih sangat besar. Saat ini jumlah investor saham Indonesia masih jauh di bawah potensi ideal, sehingga peningkatan partisipasi publik dapat menjadi penopang utama IHSG ke depan.
Proyeksi IHSG dan Optimisme Jangka Panjang
Meski diwarnai sentimen negatif MSCI, Benny tetap optimistis terhadap masa depan pasar modal Indonesia.
Ia bahkan memproyeksikan IHSG berpotensi kembali ke level 9.000 hingga 10.000, seiring reformasi regulasi, peningkatan free float, dan masuknya investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi.
“Ini cuma gejolak jangka pendek. Dalam jangka panjang, pasar modal adalah cermin ekonomi. Kalau fondasinya diperbaiki, IHSG akan bangkit lebih kuat,” ujarnya.
Bagi investor muda, ia menutup dengan pesan sederhana namun tegas: spend wisely, invest bravely. Sisihkan dana untuk investasi sejak awal, dan jangan terjebak kepanikan saat pasar bergejolak.
Baca Juga: Wujudkan Keindahan Kota, DLH Tulungagung Kosek Jalan dan Trotoar Alun-Alun Libatkan Puluhan Personel
Editor : Nabiyah Putri Wibowo