Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Saham BUMI Turun ke 300? Ini Analisis Lengkap Fundamental, Isu MSCI, dan Perbandingan dengan DEWA

Fadhilah Salsa Bella • Rabu, 11 Februari 2026 | 11:25 WIB

Saham BUMI berpotensi turun ke 300? Simak analisis lengkap isu MSCI, fundamental BUMI, dan perbandingan dengan DEWA.
Saham BUMI berpotensi turun ke 300? Simak analisis lengkap isu MSCI, fundamental BUMI, dan perbandingan dengan DEWA.
RADAR TULUNGAGUNG - Saham BUMI kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah harganya terkoreksi tajam dalam beberapa hari terakhir. Dalam perbincangan pasar terbaru, sejumlah analis menilai saham BUMI masih berpotensi turun hingga menyentuh level 300, dari posisi penutupan terakhir di kisaran 332.

Koreksi saham BUMI ini dinilai wajar setelah sebelumnya mengalami kenaikan signifikan yang dipicu sentimen masuknya BUMI ke indeks MSCI. Namun, euforia tersebut kini mulai mereda dan tekanan jual terlihat cukup kuat, tercermin dari volume transaksi yang masih tergolong tinggi.

“Secara teknikal, sangat mungkin saham BUMI turun ke 300. Tekanan seller masih cukup kuat,” ungkap salah satu pengamat pasar dalam diskusi tersebut. Meski begitu, ada pula pandangan optimistis yang menyebut area 330 bisa menjadi level penahanan sementara.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 11 Februari 2026 Turun Tipis, Antam Rp 2,947 Juta per Gram dan Perhiasan Lengkap Semua Karat

Tekanan Jual dan Efek Hype MSCI

Dalam beberapa pekan terakhir, saham BUMI menjadi salah satu saham sejuta umat yang ramai diperbincangkan. Narasi MSCI disebut-sebut menjadi pemicu utama lonjakan harga sebelumnya. Banyak investor ritel masuk karena ekspektasi arus dana asing.

Namun, analis mengingatkan bahwa pasar sempat terlalu fokus pada sentimen MSCI dan melupakan aspek fundamental. “Harga sudah terlalu over karena hype. Tapi bukan berarti fundamentalnya jelek,” ujarnya.

Faktanya, BUMI kini berada dalam fase berbeda dibanding era sebelumnya. Perusahaan telah menyelesaikan kewajiban utangnya (debt free) dan melakukan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat fundamental, termasuk akuisisi tambang emas serta ekspansi bisnis ke sektor mineral lain.

Akuisisi tambang emas yang disebut akan mulai produksi sekitar pertengahan tahun ini menjadi salah satu katalis jangka menengah. Selain itu, perubahan struktur kepemilikan dengan masuknya Grup Salim dinilai memberi warna baru pada arah bisnis perseroan.

Fundamental Masih Menarik, Tapi Risiko Tetap Ada

Meski saham BUMI terkoreksi, sejumlah analis menilai secara fundamental perseroan masih cukup solid. Restrukturisasi utang, potensi pembagian dividen, serta diversifikasi bisnis menjadi faktor pendukung.

Namun, investor tetap diingatkan untuk tidak mengabaikan risiko. Bisnis utama BUMI masih berkaitan erat dengan batu bara, yang kinerjanya sangat dipengaruhi harga komoditas global. Jika harga batu bara melemah, maka pendapatan perseroan berpotensi ikut tertekan.

“Fundamentalnya masih oke. Tapi bukan berarti tanpa risiko. Jangan berpikir beli hari ini langsung cuan besok,” tegasnya.

Investor yang masuk di harga tinggi, terutama di atas 400, kini menghadapi dilema antara menahan (hold) atau cut loss. Analis menyarankan agar keputusan didasarkan pada analisis pribadi, bukan sekadar mengikuti narasi pasar.

Baca Juga: 11 Tersangka Kasus Korupsi Ekspor CPO POME Telah Ditetapkan, Negara Rugi Sampai Belasan Miliar

Bandingkan dengan Saham DEWA

Dalam diskusi tersebut, saham DEWA juga ikut dibandingkan dengan saham BUMI. Sebagian analis justru menyebut DEWA memiliki valuasi yang lebih menarik saat ini.

DEWA disebut memiliki kontrak jangka panjang senilai sekitar Rp10 triliun serta mencatat laba bersih sekitar Rp247 miliar dalam sembilan bulan terakhir. Selain itu, perusahaan sedang menjalankan program buyback yang dinilai bisa menopang harga saham.

“DEWA punya turnaround story dan belum terlalu overvalue. Selain itu, free float makin berkurang karena buyback,” jelasnya.

Pergerakan DEWA juga dinilai lebih tertahan saat terjadi koreksi dibandingkan BUMI. Meski tetap terpengaruh sentimen pasar, tekanan jual dinilai tidak sebesar di saham BUMI.

Namun, baik BUMI maupun DEWA tetap berada dalam kategori saham komoditas yang volatil. Investor diingatkan untuk memahami risiko sebelum mengambil keputusan, terutama jika menggunakan margin atau strategi all in.

Jangan Terjebak Narasi

Analis juga mengingatkan bahaya mengikuti narasi “cacing jadi naga” tanpa dasar analisis yang kuat. Strategi all in bukan sesuatu yang salah, selama investor memahami tesis investasi dan siap menanggung risiko.

“Kalau mau all in, pastikan uang yang dipakai memang siap hilang. Tesis pun bisa salah,” katanya.

Secara keseluruhan, saham BUMI dinilai masih layak masuk watchlist, terutama bagi investor yang belum memiliki posisi. Namun, untuk yang sudah nyangkut di harga tinggi, diperlukan kesabaran dan manajemen risiko yang ketat.

Dengan tekanan jual yang masih terlihat dan sentimen yang mulai mendingin, pergerakan saham BUMI dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh perkembangan fundamental serta kondisi harga komoditas global.

Baca Juga: BMKG Deteksi Tiga Bibit Siklon Tropis Sekaligus di Sekitar Indonesia, Ini Wilayah yang Berpotensi Terdampak Cuaca Ekstrem

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#saham BUMI #Saham Dewa #MSCI #analisis saham #Harga Batu Bara