Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Perak Naik 60 Persen, Pengrajin Kotagede Yogyakarta Terancam Gulung Tikar, Omzet Anjlok dan Bahan Baku Kian Sulit

Nabiyah Putri Wibowo • Rabu, 11 Februari 2026 | 17:55 WIB

Harga perak naik 60 persen, pengrajin Kotagede Yogyakarta terpukul. Omzet turun, bahan baku mahal, terancam gulung tikar.
Harga perak naik 60 persen, pengrajin Kotagede Yogyakarta terpukul. Omzet turun, bahan baku mahal, terancam gulung tikar.
RADAR TULUNGAGUNG– Harga perak naik 60 persen dalam beberapa bulan terakhir dan mengguncang sentra kerajinan perak di Kotagede, Yogyakarta.

Kenaikan yang disebut sebagai tertinggi dalam 20 tahun terakhir ini tak hanya membuat harga bahan baku melonjak, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan omzet para pengrajin.

Lonjakan harga perak terjadi sejak Oktober 2025 dan memuncak pada Januari 2026. Fluktuasi harga yang tajam membuat pelaku usaha kesulitan mengatur produksi.

Jika sebelumnya harga perak mentah berada di kisaran Rp30.000 per gram, kini sudah menyentuh sekitar Rp60.000 per gram.

Kondisi ini membuat sentra kerajinan perak terbesar di Kotagede mulai merasakan tekanan berat.

Meski aktivitas produksi masih berjalan seperti biasa, para pengrajin mengaku waswas menghadapi situasi yang tidak menentu akibat harga perak naik drastis.

Kenaikan Tertinggi dalam Dua Dekade

Para pengrajin menyebut kenaikan harga perak kali ini sebagai yang paling tinggi dalam dua dekade terakhir.

Gejolak harga mulai terasa sejak akhir 2024, namun lonjakan paling signifikan terjadi pada awal 2026.

Dalam waktu singkat, harga perak bahkan disebut hampir melonjak dua setengah kali lipat.

Kondisi ini memaksa produsen untuk mengoreksi harga jual produk jadi, mulai dari cincin, anting, gelang hingga berbagai kerajinan khas Kotagede.

Namun di sisi lain, kenaikan harga jual justru berimbas pada turunnya daya beli konsumen.

Banyak pelanggan yang sebelumnya rutin membeli perhiasan perak kini memilih menunda pembelian karena harga dianggap terlalu tinggi.

“Setelah ada kenaikan perak, jelas penjualan kami turun. Harganya terlalu tinggi sehingga daya beli customer juga turun,” ujar salah satu pengrajin di Kotagede.

Omzet Turun, Bahan Baku Sulit

Tak hanya penjualan yang menurun, kemampuan pengrajin untuk membeli bahan baku juga ikut tergerus.

Modal usaha yang sebelumnya cukup untuk membeli stok perak kini terasa berat karena harga sudah berlipat.

Baca Juga: Panji Pragiwaksono Jalani Hukum Adat Toraja, Minta Maaf dan Dijatuhi Denda 1 Babi serta 5 Ayam

Pengrajin mengaku dilema. Jika tetap memproduksi dalam jumlah besar, mereka khawatir barang tidak laku di pasaran.

Namun jika produksi dikurangi, perputaran usaha bisa tersendat dan berdampak pada tenaga kerja.

“Kita mau bikin barang takut siapa yang beli karena kenaikannya sangat drastis,” ungkap pengrajin lainnya.

Sentra kerajinan perak Kotagede selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan terbesar di Indonesia.

Industri ini menjadi sumber mata pencaharian warga sekaligus bagian dari kearifan lokal Yogyakarta.

Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, para pelaku usaha khawatir banyak pengrajin yang terpaksa gulung tikar.

Baca Juga: Saham BUMI Bersiap Akuisisi Lagi 6–12 Bulan ke Depan, Narasi Diversifikasi Makin Panjang hingga 2031

Perak Jadi Instrumen Investasi

Menariknya, di tengah lesunya pasar perhiasan, tren pembelian perak murni sebagai instrumen investasi justru meningkat.

Lonjakan harga emas yang terus meroket membuat sebagian masyarakat beralih ke perak sebagai alternatif investasi logam mulia.

Harga emas yang sudah menembus angka jutaan rupiah per gram membuat perak dianggap lebih terjangkau.

Sebagian pembeli mengaku memilih perak karena selisih harga yang jauh dibanding emas.

“Dari sisi harga jelas lebih murah perak dibanding emas. Emas sekarang sudah sangat tinggi. Kalau perak masih lebih terjangkau,” ujar seorang pembeli.

Namun, kenaikan harga perak hingga dua kali lipat dalam waktu singkat juga mengejutkan para kolektor.

Mereka yang sebelumnya membeli perak di kisaran Rp30 ribuan per gram kini harus membayar hampir Rp60 ribu per gram.

Perubahan tren ini menunjukkan pergeseran fungsi perak, dari yang semula dominan sebagai bahan perhiasan dan kerajinan, kini juga dilirik sebagai aset lindung nilai.

Harapan pada Pemerintah

Para pengrajin berharap ada intervensi atau kebijakan dari pemerintah untuk menstabilkan harga atau membantu pelaku UMKM bertahan di tengah gejolak harga logam mulia.

Tanpa dukungan konkret, mereka khawatir industri kerajinan perak yang sudah bertahan puluhan tahun akan semakin terpuruk.

“Kami berharap ada tindakan dari instansi pemerintah untuk menolong pengrajin. Kalau dibiarkan begini, pengrajin bisa bubar,” kata salah satu pelaku usaha.

Kenaikan harga perak naik 60 persen ini menjadi tantangan serius bagi sentra kerajinan Kotagede. Di satu sisi, perak makin diminati sebagai instrumen investasi. Namun di sisi lain, para pengrajin justru terhimpit oleh tingginya biaya produksi dan melemahnya daya beli.

Jika tidak segera ada solusi, bukan tidak mungkin ikon kerajinan perak Yogyakarta itu akan kehilangan pamornya di tengah gejolak harga logam mulia global.

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 1 Februari 2026 Cair, 18 Juta KPM Terima hingga Rp 600 Ribu

Editor : Nabiyah Putri Wibowo
#saham #perak #naik #perak antam terbaru #kaya