Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Emas Dunia Naik 83 Persen, Benarkah Amerika Serikat di Ambang Kebangkrutan?

Cholifatun Nisak • Kamis, 12 Februari 2026 | 10:05 WIB

 

Harga emas dunia melonjak 83 persen di tengah isu kebangkrutan Amerika Serikat dan tekanan utang AS.
Harga emas dunia melonjak 83 persen di tengah isu kebangkrutan Amerika Serikat dan tekanan utang AS.

RADAR TULUNGAGUNG- Harga emas dunia kembali menjadi perbincangan hangat pelaku pasar global. Sepanjang 2025, harga emas dunia tercatat melonjak hingga 61 persen. Bahkan jika ditambah kenaikan sepanjang Januari 2026, total penguatannya menembus 83 persen. Angka ini menjadi salah satu reli tertinggi dalam sejarah pergerakan komoditas global.

Lonjakan harga emas dunia tersebut terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Meski sempat terkoreksi tipis 0,5 persen pada perdagangan terakhir, emas tetap bertahan di atas level psikologis USD 5.000 per tiga ons. Level ini dinilai sangat tinggi dan mencerminkan besarnya minat investor terhadap aset safe haven.

Namun, sorotan kali ini tidak semata-mata pada pergerakan harga emas dunia. Sejumlah pelaku pasar mulai mengaitkan reli emas dengan kondisi fiskal Amerika Serikat (AS) yang disebut-sebut sedang tidak baik-baik saja.

Utang AS Tembus Rekor, Bebani Fiskal

AS diketahui memiliki cadangan emas terbesar di dunia, yakni sekitar 8.133,5 ton. Cadangan tersebut menyumbang lebih dari 80 persen total cadangan internasional negara tersebut. Di sisi lain, utang pemerintah AS dilaporkan telah membengkak hingga USD 38,5 triliun, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Utang tersebut terus bertambah dengan rata-rata kenaikan sekitar USD 6,43 miliar per hari. Beban bunga dan kewajiban pembayaran utang kini menyerap sekitar 13 persen dari total anggaran federal. Sementara itu, defisit tahunan mendekati USD 2 triliun per tahun.

Kondisi ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pasar finansial global. Sejumlah analis menilai posisi fiskal AS berada dalam tekanan berat dan berisiko terhadap keberlanjutan jangka panjang.

Elon Musk menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka menyuarakan kekhawatiran tersebut. Ia bahkan menyebut AS berada di jalur menuju kebangkrutan jika tidak segera melakukan reformasi fiskal besar-besaran. Saat masih menjabat sebagai Kepala Department of Government Efficiency (Doge), Musk mendorong pemangkasan anggaran agresif dan efisiensi belanja pemerintah.

Namun, upaya tersebut tidak berjalan mulus setelah terjadi perpecahan antara Musk dan Presiden Donald Trump. Musk kemudian meninggalkan posisinya, dan menurut sejumlah pandangan, peluang efisiensi anggaran besar-besaran ikut memudar.

JP Morgan Ingatkan Risiko Kebangkrutan

Peringatan serupa juga datang dari Kepala Strategi Global JP Morgan Asset Management, David Kelly. Pada akhir 2025, ia menyatakan ekonomi AS berada dalam tren menuju kebangkrutan jika tekanan utang tidak segera dikendalikan.

Kelly menyoroti besarnya kewajiban pembayaran utang di tengah berbagai tantangan geopolitik. AS masih terlibat dalam perang dagang dengan Tiongkok, ketegangan dengan Iran, isu Greenland dengan Denmark, hingga persoalan imigrasi dengan Meksiko dan Venezuela. Seluruh agenda tersebut memerlukan anggaran besar dan memperberat tekanan terhadap kas pemerintah.

Di sisi lain, negara-negara pemegang obligasi AS seperti Jepang, Tiongkok, dan Inggris disebut mulai mempertimbangkan pengurangan kepemilikan surat utang AS. Jepang, misalnya, berupaya menopang nilai tukar yen yang tertekan. Jika aksi lepas obligasi ini meluas, tekanan terhadap dolar AS berpotensi meningkat.

Spekulasi di Balik Lonjakan Harga Emas Dunia

Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, muncul spekulasi bahwa lonjakan harga emas dunia bukan sekadar reaksi pasar, melainkan bagian dari strategi tertentu. Teori yang beredar menyebutkan, kenaikan harga emas akan otomatis meningkatkan nilai cadangan emas AS.

Dengan cadangan emas yang nilainya terdongkrak, pemerintah AS secara teoritis memiliki ruang fiskal lebih luas untuk memperkuat neraca dan menutup sebagian beban utang. Meski demikian, hingga kini belum ada bukti konkret yang mengonfirmasi dugaan tersebut.

Yang jelas, ketegangan geopolitik global belum menunjukkan tanda mereda. Konflik dengan Venezuela, ancaman terhadap Iran, serta dinamika hubungan dagang dengan Tiongkok terus memicu kekhawatiran investor. Dalam situasi seperti ini, emas kembali menjadi pilihan utama sebagai lindung nilai terhadap risiko krisis.

Reli harga emas dunia hingga 83 persen dalam dua tahun terakhir menjadi cerminan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya Amerika Serikat. Selama ketidakpastian fiskal dan geopolitik masih membayangi, potensi volatilitas pasar dan tingginya harga emas diperkirakan akan terus berlanjut.

Apakah isu kebangkrutan AS akan benar-benar terjadi atau hanya menjadi alarm peringatan dini bagi pasar? Jawabannya masih menunggu perkembangan kebijakan fiskal dan dinamika global berikutnya.

 

Editor : Cholifatun Nisak
#utang Amerika Serikat #geopolitik global #kebangkrutan AS #harga emas dunia #cadangan emas AS