RADAR TULUNGAGUNG - Prediksi pergerakan Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah pasar kripto dihantui sentimen negatif.
Berdasarkan prediction market, ada peluang hingga 80 persen Bitcoin turun di bawah USD 60.000.
Namun di balik tekanan harga Bitcoin tersebut, sejumlah sinyal justru menunjukkan potensi pembalikan arah.
Di tengah kekhawatiran pasar, Bitcoin masih bergerak dalam rentang ketat (tight range).
Analis menyebut pola ini bisa membentuk higher low, pola teknikal yang sebelumnya terjadi sebelum reli besar.
Jika skenario itu terulang, maka Bitcoin berpeluang mengalami reversal ke atas dalam waktu dekat.
Meski sentimen publik cenderung bearish, sejumlah pelaku industri melihat fundamental Bitcoin dan aset kripto lain justru semakin menguat.
Pergerakan institusi besar dan dinamika makroekonomi menjadi faktor kunci yang patut diperhatikan.
Tekanan Derivatif dan Likuidasi Besar
CEO perusahaan tambang Bitcoin terbesar di Amerika Serikat, MARA, Fred Thiel, menilai tekanan harga saat ini banyak dipengaruhi oleh pasar derivatif.
Ia menjelaskan bahwa pasar derivatif Bitcoin bahkan lebih besar dibanding pasar spot.
“Ketika investor menggunakan leverage tinggi, bahkan hingga 100 kali, pergerakan harga kecil bisa memicu likuidasi besar,” ujarnya.
Menurutnya, proses deleveraging masih berlangsung, terutama dari aktivitas perdagangan di Asia yang terlihat aktif pada malam hari waktu Amerika Serikat.
Namun, ketika pasar mulai stabil dan likuiditas kembali, perhatian investor bisa kembali mengalir ke Bitcoin.
Bitcoin sendiri disebut sangat dipengaruhi kondisi makro, likuiditas global, serta sentimen risk-on seperti halnya pasar saham.
BlackRock Masuk DeFi, Ethereum Makin Kuat
Di saat harga kripto melemah, langkah mengejutkan datang dari BlackRock. Manajer aset terbesar di dunia itu mengumumkan ekspansi ke sektor decentralized finance (DeFi).
BlackRock membawa token digital berbasis treasury mereka, BUIDL, ke platform Uniswap. Bahkan, mereka juga membeli token UNI dalam jumlah yang tidak diungkapkan.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal konvergensi antara keuangan tradisional (CeFi) dan DeFi berbasis Ethereum.
BlackRock menekankan pentingnya likuiditas, transparansi, dan analitik dalam memperluas adopsi aset digital.
Seperti pasar hipotek dan obligasi high-yield yang tumbuh karena dukungan data dan regulasi, aset kripto diyakini akan mengikuti jalur serupa.
Di sisi lain, rasio staking Ethereum kini telah melampaui 30 persen, mencetak rekor tertinggi baru.
Data ini menunjukkan kepercayaan jangka panjang terhadap ekosistem blockchain semakin kuat.
Michael Saylor: Bitcoin Bisa Kalahkan S&P 500
Pendiri MicroStrategy, Michael Saylor, juga kembali menyuarakan pandangan bullish terhadap Bitcoin.
Dalam wawancara di CNBC, ia menyatakan Bitcoin berpotensi mencetak kinerja dua hingga tiga kali lipat dibanding S&P 500 dalam empat hingga delapan tahun ke depan.
Meski enggan memberi prediksi jangka 12 bulan, Saylor tetap optimistis terhadap masa depan aset digital tersebut.
Menurutnya, tren digitalisasi dan adopsi blockchain akan terus berkembang.
Rumor Joe Rogan dan Skenario Super Cycle 2026
Sementara itu, rumor beredar bahwa CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), berpeluang tampil di podcast Joe Rogan untuk membahas kripto.
Jika benar terjadi, momentum ini dinilai bisa mendorong eksposur kripto ke audiens mainstream yang lebih luas.
CZ sendiri memprediksi 2026 sebagai tahun yang menarik bagi kripto.
Ia menyebut ada dua kekuatan besar yang berpotensi memengaruhi pasar: siklus empat tahunan kripto dan kebijakan pro-kripto di Amerika Serikat.
Jika mengikuti pola siklus, 2026 bisa menjadi awal pasar bearish.
Namun di sisi lain, kebijakan suku bunga, quantitative easing, serta dinamika politik AS dapat menciptakan likuiditas baru yang mendukung pasar saham dan kripto.
“Jika pasar saham kuat, biasanya kripto ikut terdorong karena investor memiliki lebih banyak dana untuk diversifikasi,” ujar CZ.
Ia juga membuka kemungkinan terjadinya super cycle, yakni siklus kenaikan besar yang melampaui pola historis sebelumnya.
Masa Depan On-Chain dan Adopsi Massal
Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, turut menekankan pentingnya utilitas nyata blockchain.
Ia membayangkan masa depan di mana aplikasi kencan seperti Tinder hingga video game berjalan di atas infrastruktur blockchain.
Menurutnya, kunci adopsi massal bukan sekadar peluncuran token baru, melainkan solusi nyata yang memudahkan miliaran pengguna tanpa harus memahami teknologi di baliknya.
Dengan sentimen pasar yang masih rendah dan harga tertekan, sejumlah analis menilai kondisi ini justru menjadi peluang akumulasi jangka panjang.
Apakah Bitcoin akan turun di bawah USD 60.000 atau justru bersiap untuk reli besar berikutnya? Tahun 2026 tampaknya akan menjadi periode penentu arah pasar kripto global.
Editor : Vidya Sajar Fitri