RADAR TULUNGAGUNG- Pergerakan IHSG 12 Februari 2026 diprediksi memasuki fase krusial setelah indeks melonjak hampir 2 persen ke level 8.290 pada perdagangan Rabu (11/2). Kenaikan signifikan ini membawa IHSG mendekati area resistance penting di kisaran 8.300.
Secara teknikal, IHSG 12 Februari 2026 berada tepat di area penentuan arah. Jika mampu menembus (breakout) level 8.315, indeks berpotensi melanjutkan penguatan menuju 8.500. Namun jika gagal, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi koreksi dengan support terdekat di 8.100.
Pergerakan IHSG 12 Februari 2026 juga perlu dicermati karena secara historis, akhir pekan—khususnya Kamis dan Jumat—kerap diwarnai aksi ambil untung. Artinya, meski tren jangka pendek masih positif, risiko koreksi tetap terbuka lebar.
Asing Masih Distribusi, IHSG Tetap Hijau
Menariknya, penguatan indeks terjadi di tengah aksi jual investor asing. Tercatat sejumlah saham big caps mengalami distribusi asing cukup besar. BBCA dilepas hingga Rp626,2 miliar. BUMI juga mencatat net sell asing Rp567 miliar, disusul saham lain seperti BBRI dan beberapa emiten energi.
Namun IHSG tetap menguat karena ditopang saham-saham berkapitalisasi besar yang menghijau. Kenaikan saham-saham tertentu dengan market cap jumbo memberi efek signifikan terhadap indeks, meski secara transaksi terjadi distribusi.
Di sisi global, Bitcoin turun ke area USD 87.000 dan emas (XAU) bergerak volatil jelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah sedikit menguat di kisaran Rp16.780 per dolar AS.
Saham BUMI menjadi salah satu sorotan. Secara teknikal, BUMI sempat menyentuh 286 sebelum ditutup di 272. Pola ini menunjukkan indikasi breakout.
Namun di balik kenaikan tersebut, asing justru mencatat net sell Rp567 miliar. Kenaikan harga lebih banyak ditopang broker tertentu dengan nilai transaksi besar.
Untuk perdagangan Kamis (12/2), area 264–266 menjadi support penting. Jika bertahan dan kembali menguat, target terdekat di 306. Jika tembus, ada potensi menuju 330. Meski demikian, karakter saham ini dinilai cocok untuk scalping, bukan swing jangka menengah.
DEWA Uji Resistance 580
Saham DEWA naik hingga 565 dan sempat menguji resistance 580 berdasarkan Fibonacci retracement, tetapi gagal breakout.
Level 560 menjadi kunci untuk IHSG 12 Februari 2026 pada saham ini. Jika berhasil menembus dengan volume kuat, target berikutnya di 635. Namun jika berbalik turun, support berada di 510. Asing tercatat net buy tipis sekitar Rp14 miliar.
PTRO Melonjak 19 Persen, Waspada Profit Taking
PTRO mencuri perhatian setelah melonjak 19,25 persen ke 7.125. Meski demikian, secara tren jangka menengah saham ini masih dalam fase koreksi panjang.
Bagi trader yang masuk di area support sebelumnya, momentum ini dinilai ideal untuk taking profit. Resistance berikutnya berada di 8.175–8.200. Namun jika harga kembali melemah dan turun di bawah 5.200, potensi tren bearish makin kuat.
Asing tercatat akumulasi sekitar Rp147 miliar, sementara investor lokal melakukan distribusi.
CUAN dan RAJA Sama-Sama Breakout
CUAN naik 17 persen dan berhasil menembus area 1.865–1.870. Secara teknikal, breakout ini membuka peluang menuju 2.280.
Namun secara valuasi, saham ini tergolong mahal dengan PBV di atas 40 kali dan PER ratusan kali. Strategi trading jangka pendek dinilai lebih relevan dibanding investasi.
Sementara itu, RAJA melonjak 21 persen dan berpotensi menguji resistance 5.200. Support terdekat berada di 4.450. Asing tercatat net sell Rp39 miliar pada saham ini.
BBCA Menarik untuk Investasi?
BBCA menjadi saham dengan distribusi asing terbesar hari ini. Meski begitu, koreksi harga relatif terbatas, hanya turun 0,33 persen ke 7.450.
Area 7.550 menjadi resistance kunci. Selama belum mampu menembusnya, pergerakan cenderung sideways. Namun untuk investor jangka panjang, level saat ini dinilai cukup menarik selama IHSG 12 Februari 2026 tidak mengalami tekanan besar.
Secara keseluruhan, perdagangan Kamis akan sangat ditentukan oleh kemampuan IHSG menembus 8.300. Breakout membuka peluang rally lanjutan, tetapi kegagalan berisiko memicu koreksi sehat. Trader disarankan disiplin memasang batas risiko dan tidak euforia di tengah volatilitas pasar.
Editor : Dinar Ananda Putri