Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Emas Antam Turun ke Rp2,94 Juta, Warga Serbu JJF 2026 Saat Ramadan, JP Morgan Prediksi Tembus 8.000 Dolar AS

Ingge Nayla Ayu Karina • Rabu, 18 Februari 2026 | 16:00 WIB
Harga emas Antam turun ke Rp2,94 juta saat Ramadan. Warga serbu JJF, JP Morgan prediksi emas tembus 8.000 dolar AS.
Harga emas Antam turun ke Rp2,94 juta saat Ramadan. Warga serbu JJF, JP Morgan prediksi emas tembus 8.000 dolar AS.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Harga emas Antam menjadi sorotan di awal Ramadan 2026 setelah tercatat turun ke level Rp2.940.000 per gram pada perdagangan 16 Februari 2026.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 18 Februari 2026 Turun Tajam, Antam Anjlok Rp40.000, UBS dan Galeri 24 Ikut Melemah! 

Penurunan harga emas Antam ini justru memicu lonjakan minat beli masyarakat yang tengah bersiap menyambut Idul Fitri.

 

Di tengah momen Ramadan, harga emas Antam yang terkoreksi dinilai menjadi peluang investasi menarik, apalagi di tengah proyeksi kenaikan harga emas global yang masih terbuka lebar.

 

Fenomena tersebut terlihat jelas dalam gelaran Jakarta International Jewellery Fair (JJF) 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC).

 

Antrean panjang mengular sejak pagi hari di gerai emas fisik, khususnya di stan Antam.

 

Bahkan sejumlah pembeli rela datang sejak dini hari demi mendapatkan nomor antrean.

 

Salah satunya Muliana, warga Cibarusah, Bekasi, yang mengaku sudah tiba di lokasi sejak pukul 05.00 pagi dan tetap mendapat antrean nomor 130.

 

Penurunan Harga Picu Lonjakan Permintaan

Berdasarkan data perdagangan Senin 16 Februari 2026, harga emas Antam turun Rp14.000 per gram ke posisi Rp2.940.000.

 

Sementara harga buyback atau beli kembali juga melemah Rp13.000 menjadi Rp2.728.000 per gram.

 

Koreksi ini mengikuti pergerakan harga emas dunia yang melemah sekitar 0,8 persen.

 

Di pasar spot, emas global bahkan terkoreksi 1,1 persen dan diperdagangkan di bawah level psikologis 5.000 dolar AS per 3 troy ons.

 

Analis menilai pelemahan tersebut lebih disebabkan aksi ambil untung setelah sebelumnya harga emas naik sekitar 2,5 persen.

 

Likuiditas pasar yang relatif tipis akibat libur Tahun Baru Imlek di Tiongkok juga turut memengaruhi pergerakan harga.

 

Meski demikian, minat masyarakat Indonesia terhadap emas tetap tinggi.

 

Pengamat pasar uang dan komoditas berjangka Ibrahim Assuaibi menilai fenomena berburu emas saat Ramadan merupakan hal wajar.

 

Menurutnya, investor domestik kini memiliki literasi investasi yang lebih baik dan memahami momentum harga.

 

Ramadan dan Tradisi Berburu Emas

Ramadan bukan hanya momen ibadah, tetapi juga periode meningkatnya konsumsi dan aktivitas investasi.

 

Budaya ngabuburit hingga tradisi mempersiapkan kebutuhan Idul Fitri kerap diiringi dengan pembelian emas.

 

Sebagian pihak menyebut fenomena ini sebagai efek fear of missing out atau FOMO.

 

Namun Ibrahim menilai keputusan membeli emas saat ini tetap rasional, mengingat kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.

 

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta konflik di Timur Tengah, menjadi faktor pendorong permintaan aset safe haven seperti emas.

 

Dalam situasi tersebut, emas kembali dilirik sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko global.

 

Proyeksi Harga Emas Global

 Optimisme terhadap emas juga datang dari lembaga keuangan global JP Morgan.

 

Dalam risetnya akhir Januari 2026, JP Morgan memproyeksikan harga emas global berpotensi menembus 8.000 dolar AS per troy ons pada akhir tahun.

 

Proyeksi tersebut mengasumsikan adanya peningkatan alokasi investasi swasta ke emas dari 3 persen menjadi 4,6 persen dari total portofolio.

 

Jika skenario itu terealisasi, maka harga emas berpeluang melonjak lebih dari 40 persen dari posisi saat ini.

 

Proyeksi ambisius ini dinilai realistis mengingat dinamika geopolitik yang kian memanas dan berpotensi berubah cepat.

 

Selain faktor global, kondisi ekonomi domestik juga dinilai cukup solid.

 

Data Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai 5,11 persen.

 

Didukung konsumsi rumah tangga yang kuat dan meningkatnya kepercayaan konsumen, likuiditas masyarakat dinilai masih memadai untuk berinvestasi.

 

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, emas tetap menjadi salah satu portofolio favorit investor.

 

Meski harga emas Antam saat ini mengalami koreksi, banyak pihak meyakini tren jangka panjangnya masih positif.

 Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 17 Februari 2026 Turun Serentak, Antam Tembus Rp2.918.000 per Gram, UBS dan Galeri 24 Ikut Melemah!

Momentum Ramadan pun menjadi katalis tambahan yang mendorong peningkatan transaksi emas fisik di dalam negeri.

 

Investor kini dihadapkan pada pilihan strategis.

 

Apakah memanfaatkan harga koreksi untuk akumulasi, atau menunggu kepastian arah pasar global.

 

Yang jelas, emas kembali menunjukkan posisinya sebagai instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian dunia.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#harga emas dunia #Jakarta International Jewellery Fair #investasi emas #harga emas antam #ramadhan 2026