Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Saham BUMI Break Double Bottom, Target 330 Terbuka Lebar! Standby Seller Habis, BUMI Berpotensi Terbang?

Kirana Meigita Luciana Rani • Senin, 23 Februari 2026 | 10:21 WIB

Saham BUMI break double bottom, target 330 terbuka. Standby seller habis, potensi kenaikan makin kuat.
Saham BUMI break double bottom, target 330 terbuka. Standby seller habis, potensi kenaikan makin kuat.

RADAR TULUNGAGUNG-  Saham BUMI kembali menjadi sorotan setelah berhasil menembus level krusial dan membentuk pola teknikal double bottom. Pergerakan saham BUMI ini dinilai membuka peluang kenaikan lanjutan dengan target jangka pendek di area 320 hingga 330.

Dalam analisis terbaru yang beredar di kanal YouTube investor, saham BUMI disebut sudah menguat sekitar 22 persen sejak pembahasan sebelumnya. Saat itu, harga masih berada di kisaran 240. Kini, setelah menembus level pivotal di 260, struktur pergerakan saham BUMI dinilai berubah menjadi lebih positif.

Level 260 disebut sebagai titik krusial karena menjadi neckline dari pola double bottom. Dalam teori analisis teknikal, jika neckline berhasil ditembus dan harga mampu bertahan di atasnya, maka peluang pembentukan tren naik baru semakin besar.

Baca Juga: THR ASN 2026 Disebut Cair Awal Puasa, Nominal “Cukup Besar”, Benarkah Ada Kenaikan Pensiun? Ini Penegasan Resmi

Target 320–330 Jadi Area Uji Kuat

Secara teknikal, rentang kenaikan dari bottom ke neckline berada di kisaran 21 persen. Dengan breakout yang telah terjadi, target terdekat saham BUMI diproyeksikan berada di area 320. Sementara resistance kuat berikutnya berada di sekitar 330.

Namun analis mengingatkan, risiko saat ini tidak lagi serendah ketika harga baru menembus 260. Jika investor baru masuk di harga sekarang, potensi kenaikan menuju 330 tersisa sekitar 13–20 persen, tergantung titik masuk. Di sisi lain, stop loss ideal berada di bawah 258–260 sebagai invalidation level.

Artinya, jika harga kembali ditutup di bawah 260, maka pola double bottom dinilai gagal. Karena itu, strategi yang disarankan bukan masuk full size, melainkan bertahap sambil menunggu potensi retracement ke area 272–280.

Dari sisi volume, kenaikan saham BUMI juga dinilai sehat. Volume perdagangan meningkat saat harga naik dan cenderung lebih kecil saat koreksi. Pola ini menunjukkan akumulasi yang relatif kuat.

Baca Juga: THR ASN 2026 Segera Cair Awal Ramadan, Disebut Jadi Motor Ekonomi Triwulan I, Ini Klarifikasi Resmi soal Kenaikan Pensiun

Standby Seller Disebut Hampir Habis

Selain faktor teknikal, sentimen lain yang mendorong optimisme terhadap saham BUMI adalah kabar mengenai berkurangnya tekanan jual dari pemegang saham besar.

Berdasarkan keterbukaan informasi per 31 Januari, salah satu pemegang saham utama hanya menyisakan sekitar 10,4 miliar saham atau 2,81 persen. Sebelumnya, pada 31 Desember, kepemilikan masih sekitar 21,3 miliar saham atau 5,76 persen.

Sejak awal Februari, aksi jual besar tercatat mencapai triliunan rupiah. Jika dihitung secara net maupun gross, sisa saham yang berpotensi menjadi tekanan jual disebut sudah jauh berkurang, bahkan diperkirakan tinggal di bawah 1 persen.

Kondisi ini dianggap signifikan. Selama beberapa bulan terakhir, saham BUMI dinilai sulit naik cepat karena adanya standby seller besar. Dengan tekanan jual yang menipis, pergerakan harga dinilai bisa menjadi lebih ringan.

“Kalau standby seller sudah habis, secara teori kenaikan akan lebih enteng,” ungkap analis tersebut.

Baca Juga: THR ASN dan PPPK 2026 Cair Awal Ramadan: Rincian Besaran dan Komponen Resmi

Didukung Fundamental dan Ekosistem Salim Group

Secara fundamental, saham BUMI juga dinilai memiliki cerita turnaround. Saat ini, ultimate beneficial owner BUMI adalah pengusaha besar Anthony Salim bersama keluarga Bakrie.

Produksi BUMI melalui KPC dan Arutmin disebut bisa mencapai 80 juta ton. Namun, laba bersih perusahaan masih relatif kecil dibandingkan emiten batu bara lain seperti Adaro Energy Indonesia yang mampu membukukan laba belasan triliun rupiah.

Perbandingan ini memunculkan asumsi bahwa jika optimalisasi produksi dan harga jual membaik, maka kinerja BUMI berpotensi meningkat signifikan.

Analis juga menyinggung pergerakan saham Bumi Resources Minerals (BRMS) yang sebelumnya naik signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Meski kapitalisasi pasar BRMS kini lebih besar dari BUMI, ekosistem bisnis yang saling terhubung dinilai menjadi nilai tambah tersendiri.

Baca Juga: Benarkah THR Pensiunan 2026 Cair 3 Minggu Sebelum Lebaran? Ini Fakta, Estimasi dan Mekanismenya

Bisa ke 500? Mungkin, Tapi Tidak Cepat

Dengan kondisi teknikal dan sentimen yang membaik, target jangka pendek 330 dinilai realistis. Namun untuk kembali ke level 500 seperti puncak sebelumnya, analis menyebut hal itu mungkin saja terjadi, tetapi tidak dalam waktu singkat.

“Harus bentuk struktur dulu, pasti banyak drama,” ujarnya.

Menariknya, saham BUMI sebelumnya mampu mencetak all time high di kisaran 480 meski masih ada tekanan jual besar. Dengan kondisi sekarang yang dinilai lebih kondusif, potensi kenaikan lanjutan tetap terbuka.

Bagi investor, kunci tetap pada manajemen risiko. Area 260 menjadi batas penting yang harus dijaga. Selama bertahan di atas level tersebut, tren saham BUMI dinilai masih berada dalam fase bullish jangka pendek dengan target terdekat 320–330.

Baca Juga: THR dan Gaji ke-13 ASN 2026: Jadwal Cair, Besaran Realistis, dan Fakta Pejabat Tertinggi

Editor : Kirana Meigita Luciana Rani
#saham BUMI #Target 330 #Analisis Saham Bumi