RAMADAN 2026 membawa berkah tersendiri bagi pelaku pasar logam mulia. Di tengah momentum bulan suci, harga emas justru mengalami koreksi. Namun alih-alih sepi, fenomena ini malah memicu lonjakan minat beli masyarakat. Harga emas turun Rp14.000 per gram dalam sepekan terakhir dan membuat antrean pembelian di Gerai Antam membludak.
Fenomena harga emas turun ini terpantau jelas saat gelaran Jakarta International Jewellery Fair (JJF) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan. Sejak dibuka hingga 15 Februari 2026, ribuan pengunjung memadati lokasi pameran demi berburu emas fisik, terutama produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Momentum Ramadan memang identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Namun berbeda dari biasanya, kali ini aktivitas berburu emas menjadi sorotan utama. Sebagian masyarakat bahkan rela mengantre sejak dini hari demi mendapatkan logam mulia dengan harga yang dinilai lebih menarik.
Baca juga:Harga Emas Turun, Antrean Mengular
Berdasarkan data perdagangan Senin (16/2/2026), harga emas Antam tercatat turun Rp14.000 per gram menjadi Rp2.940.000 per gram. Sementara harga buyback atau harga jual kembali melemah Rp13.000 menjadi Rp2.728.000 per gram.
Penurunan ini mengikuti tren global. Harga emas dunia terkoreksi sekitar 0,8 persen, meski masih bertahan di atas level psikologis USD 5.000 per troy ons. Di pasar spot, pelemahan lebih dalam terjadi hingga 1,1 persen ke posisi USD 4.988 per troy ons.
Analis menilai koreksi ini bersifat sementara karena dipicu aksi ambil untung setelah sebelumnya harga melonjak sekitar 2,5 persen. Selain itu, likuiditas pasar global relatif tipis akibat libur Tahun Baru Imlek di Tiongkok.
Meski harga emas turun, minat beli masyarakat justru meningkat tajam. Stok emas fisik di Gerai Antam sempat terbatas, bahkan memicu antrean panjang. Salah satu pembeli, Muliana, warga Cibarusah, Bekasi, mengaku sudah tiba di JCC sejak pukul 05.00 pagi dan tetap mendapat nomor antrean di atas 100.
Baca juga:Bukan FOMO, Tapi Strategi Investasi?
Sebagian pihak menilai lonjakan pembelian emas saat ini dipicu fenomena fear of missing out (FOMO). Namun pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, membantah anggapan tersebut.
Menurutnya, aksi berburu emas saat harga emas turun merupakan respons rasional investor. Apalagi, literasi investasi masyarakat Indonesia dinilai semakin membaik. Investor kini lebih memahami siklus harga dan momentum beli yang tepat.
“Investor sekarang tidak sekadar ikut tren. Mereka melihat peluang dari koreksi harga,” ujarnya.
Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai (safe haven) yang diminati, terutama di tengah ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta memanasnya konflik di Gaza, menjadi faktor pendorong minat terhadap emas.
Baca juga:Proyeksi JP Morgan: Emas Bisa Tembus USD 8.000
Sentimen positif terhadap emas juga diperkuat riset lembaga keuangan global JP Morgan. Dalam laporan akhir Januari 2026, JP Morgan memproyeksikan harga emas global berpotensi menembus kisaran USD 8.000 per troy ons pada akhir tahun.
Proyeksi ini mengasumsikan adanya kenaikan alokasi investasi swasta ke emas dari 3 persen menjadi 4,6 persen dari total portofolio. Artinya, ada potensi kenaikan lebih dari 40 persen dibanding posisi saat ini.
Menurut analis, peningkatan alokasi tersebut realistis mengingat kondisi geopolitik yang semakin dinamis dan berisiko tinggi. Dalam situasi seperti ini, emas kembali menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai aset.
Baca juga:Ekonomi Domestik Masih Kuat
Di sisi lain, kondisi ekonomi nasional dinilai cukup kondusif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen. Konsumsi rumah tangga tetap solid, didukung tingkat kepercayaan konsumen yang meningkat.
Kondisi ini menunjukkan adanya ruang likuiditas di masyarakat. Dana tidak hanya digunakan untuk konsumsi Ramadan dan persiapan Idul Fitri, tetapi juga dialokasikan untuk investasi, termasuk emas.
Dengan kombinasi faktor koreksi harga, potensi kenaikan global, dan stabilitas ekonomi domestik, pembelian emas saat harga emas turun dinilai sebagai langkah wajar. Bahkan, bagi sebagian investor, ini menjadi momentum akumulasi sebelum harga kembali menguat.
Kini pertanyaannya, apakah tren ini akan berlanjut? Jika proyeksi JP Morgan terealisasi, bukan tidak mungkin harga emas global kembali mencetak rekor baru. Bagi investor yang jeli membaca momentum, Ramadan 2026 bisa menjadi titik masuk strategis untuk memperbesar portofolio logam mulia.
Editor : Ayu Dhea Cheryl