Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ancaman MSCI Frontier Bikin Pasar Deg-degan, Kartika Sutandi: IHSG Bisa Selamat, Ini Strategi Saham dan Emas yang Disarankan

Cholifatun Nisak • Senin, 23 Februari 2026 | 12:50 WIB

Ancaman MSCI Frontier bikin pasar goyah. Kartika Sutandi beberkan peluang selamat dan strategi saham serta emas.
Ancaman MSCI Frontier bikin pasar goyah. Kartika Sutandi beberkan peluang selamat dan strategi saham serta emas.

RADAR TULUNGAGUNG- Ancaman MSCI Frontier menjadi momok baru bagi pasar modal Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Setelah dihantam berbagai sentimen negatif, kekhawatiran terbesar investor kini tertuju pada potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market oleh MSCI.

Partner dan Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi, menilai skenario terburuk tersebut kecil kemungkinan terjadi. Meski demikian, ia mengakui dampak sentimen ancaman MSCI Frontier sudah cukup membuat pasar saham bergejolak dan memicu kekhawatiran outflow dana asing.

“Kalau sampai frontier, itu levelnya seperti negara-negara kecil di Afrika. Dana global enggak ada yang dari developed market langsung ke frontier. Pasti outflow-nya besar,” ujarnya dalam sebuah diskusi pasar modal.

Namun, ia memperkirakan probabilitas Indonesia benar-benar turun ke frontier hanya sekitar 10 persen. Sebaliknya, peluang tetap bertahan di emerging market mencapai 90 persen, terutama jika regulator mampu memenuhi standar transparansi dan free float yang diminta MSCI.

Transparansi dan Free Float Jadi Kunci

Isu utama dalam ancaman MSCI Frontier adalah soal konsentrasi kepemilikan saham dan transparansi investor di atas 1 persen. MSCI ingin memastikan mana kepemilikan yang benar-benar free float dan mana yang terafiliasi dengan pemegang saham pengendali.

Menurut Kartika, yang terpenting bagi MSCI adalah identifikasi afiliasi, bukan sekadar membuka nama investor. “Yang mau dilihat itu mana yang affiliate, mana yang bukan. Jadi bisa dihitung real free float-nya,” jelasnya.

Jika bobot saham-saham besar Indonesia di indeks MSCI diturunkan akibat perubahan metode perhitungan free float, maka potensi outflow tetap ada. Saham perbankan besar, telekomunikasi, dan emiten blue chip lain yang selama ini mendominasi indeks berisiko mengalami tekanan jual sementara.

Namun, ia menilai outflow tersebut kemungkinan hanya bersifat jangka pendek selama Indonesia tidak benar-benar turun ke frontier market.

Peran Dana Pensiun dan Asuransi

Kartika menyoroti kesiapan investor domestik untuk menyerap potensi outflow. Pemerintah disebut telah membuka ruang bagi institusi seperti dana pensiun, asuransi, hingga BPJS untuk meningkatkan porsi investasi saham hingga 20 persen.

Jika kebijakan itu benar-benar dieksekusi optimal, tekanan jual asing bisa teredam. “Kalau mereka benar-benar spend, outflow itu enggak akan terlalu terasa,” katanya.

Artinya, kekuatan likuiditas domestik menjadi benteng utama menjaga stabilitas IHSG di tengah ancaman MSCI Frontier.

Fundamental Ekonomi Dinilai Membaik

Di luar sentimen pasar modal, Kartika justru melihat kondisi makroekonomi domestik menunjukkan perbaikan. Belanja pemerintah yang besar dan mulai pulihnya daya beli masyarakat bawah menjadi indikator positif.

Sejumlah sektor konsumsi seperti produk susu, ayam, hingga makanan olahan disebut menunjukkan perbaikan permintaan pada awal tahun. Hal ini mengindikasikan perputaran uang di lapisan masyarakat bawah mulai membaik pascapandemi.

Dari sisi global, narasi pemangkasan suku bunga Amerika Serikat juga berpotensi menjadi sentimen positif bagi emerging market, termasuk Indonesia. Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga dan melanjutkan kebijakan pelonggaran likuiditas, arus dana berisiko kembali ke pasar berkembang.

Strategi Investor: Saham dan Emas

Menghadapi ketidakpastian akibat ancaman MSCI Frontier, Kartika menyarankan investor tetap memegang saham, namun dengan strategi selektif dan manajemen kas yang disiplin.

Ia menyarankan porsi kas dijaga untuk mengantisipasi volatilitas. Sektor komoditas dinilai menarik jika dolar AS melemah akibat penurunan suku bunga. Logam seperti emas, tembaga, dan aluminium berpotensi diuntungkan oleh tren elektrifikasi dan ekspansi data center global.

Selain saham, emas batangan menjadi instrumen lindung nilai favoritnya. Ia menilai permintaan emas global masih kuat, terutama dari bank sentral dan negara-negara yang mengurangi ketergantungan pada obligasi pemerintah AS.

“Kalau Amerika enggak naikkan bunga dan malah turunin plus quantitative easing, emas masih bisa lanjut naik,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa jika suku bunga AS justru kembali naik karena inflasi membandel, harga emas berpotensi terkoreksi.

Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Bagi investor ritel, kunci utama saat ini adalah disiplin dan tidak panik. Ancaman MSCI Frontier memang serius, tetapi skenario dasar masih menunjukkan Indonesia bertahan di emerging market.

Diversifikasi portofolio antara saham dan emas dapat menjadi langkah bijak. Pilih saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta eksposur pada sektor yang diuntungkan oleh pelemahan dolar atau peningkatan belanja domestik.

Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang membaik dan kesiapan regulator meningkatkan transparansi pasar, peluang stabilisasi IHSG dalam beberapa bulan ke depan tetap terbuka. Investor hanya perlu memastikan strategi mereka berbasis data, bukan ketakutan.

Baca Juga: THR ASN dan PPPK 2026 Cair Awal Ramadan: Rincian Besaran dan Komponen Resmi

Editor : Cholifatun Nisak
#ihsg #MSCI Frontier #emas batangan #Saham komoditas #Outflow asing